Tuesday, January 19, 2010

Mengalahkan Sang Waktu

Tulisan ini tela dipublikasikan di ALB untuk versi I (tulisan ke-5) dan HOKI untuk versi II (tulisan ke-86).



Sebuah pernyataan umum yang sering kita dengar dan sudah tidak asing lagi di telinga kita adalah Time is Money. Sebenarnya apakah artinya? Secara sederhana megartikan bahwa waktu adalah uang, namun apabila kita telaah lebih mendasar lagi, menurut saya pernyataan itu mengartikan bahwa waktu itu sangatlah berguna, sehingga selayaknyalah kita bijaksana dalam memanfaatkannya.

Status sebagai seorang wanita yang telah berkeluarga dan telah memiliki putra-putri, tentu sangat menguras tenaga dan pikiran, apalagi bila ada embel-embel berikutnya, yaitu bekerja di luar rumah ditambah melakukan beberapa aktifitas sukarelawan, plus kegiatan tulis-menulis. Ini belum seberapa bila dibandingkan ada anggota keluarga yang sakit. Siapakah yang paling repot? Tentu saja seorang Ibu. Belum lagi setiap hari harus memikirkan kira-kira makanan apa yang akan disantap oleh keluarga, baik untuk sarapan pagi, makan siang dan makan malam, ditambah urusan sekolah yang paling tidak seorang Ibu harus mempersiapkan keperluan sekolah atau membantu mengajar anak-anaknya.

Kondisi di atas adalah sebuah contoh yang saya alami sendiri tanpa bantuan seorang pembantu rumah tangga. Dapatkah Anda membayangkan bagaimana sibuknya diri saya? Bahkan dalam kurun waktu sekitar delapan bulan saya dapat menyelesaikan penulisan sebuah novel pertama tanpa melalaikan semua tugas satu pun di atas. Tambahan aktifitas tersebut sangat menguras energi, pikiran dan emosi, apalagi novel tersebut ditulis dalam bahasa kedua saya, yaitu bahasa Inggris. Seminggu setelah menyelesaikan total penulisan, saya tak menyentuh notebook yang biasa saya gunakan untuk menulis novel tersebut. Saat itu pun saya baru sadar betapa besarnya energi, pikiran dan emosi yang terlibat selama kurun waktu penulisan tersebut. Kalau boleh saya katakan, tak ada satu pun kagiatan lainnya yang terganggu, berarti ada satu hal lainnya yang harus saya korbankan. Apakah itu? Tak lain adalah waktu tidur saya yang berkurang.

Saya sadar apabila ingin mencapai sesuatu tujuan yang diinginkan akan ada sesuatu yang harus dikorbankan Dalam hal ini adalah mengurangi waktu tidur saya. Bila Anda memiliki waktu tidur antara 8-10 jam per hari, maka saya berkurang setengahnya. Meskipun begitu ada sesuatu kenikmatan dan kepuasan dalam hati yang tak dapat dibayar oleh apa pun setelah menyelesaikan penulisan itu hingga tuntas, dan itu merupakan obat yang mujarab sepanjang masa.

Apabila Anda pernah mendengar seseorang yang belum berkeluarga dan menyukai dunia tulis-menulis mengatakan tak ada waktu untuk menulis, maka saya katakan orang yang bersangkutan kiranya perlu mengoreksi pernyataannya. Hasrat yang tinggi disertai tekat bulat akan mengalahkan segalanya, termasuk waktu itu sendiri. Ini bukan berarti orang tersebut harus mengurangi waktu tidurnya sebanyak mungkin. Tentu tidak. Maksudnya, waktu itu pasti ada bila diusahakan karena ada niat atau minat yang lebih populer disebut dengan hasrat. Mengambil waktu satu jam untuk menulis setiap minggu tentu ada, apalagi umumnya waktu untuk bekerja adalah selama lima hingga enam hari dalam seminggu. Tentu saja ini berlaku tidak hanya di dunia tulis-menulis, tetapi juga untuk dunia yang lainnya, entah itu untuk sekedar mengembangkan hobi lainnya ataukah untuk berkegiatan sukarelawan.

Kalau seorang ibu rumah tangga dengan segudang kegiatannya, baik di dalam dan di luar rumah, aktifitas-aktifitas online-nya, sukarelawan dan yang tidak, masih dapat menghasilkan sebuah karya cipta dalam dunia tulis-menulis, maka saya yakin mereka yang masih single, belum berkeluarga akan dapat melakukan hal-hal yang lebih besar daripada itu. Bagaimana? Setujukah Anda dengan pernyataan saya tersebut? (*)


Penulis: Ibu rumah tangga, Wal-Mart Associate, pekerja sukarelawan di dunia pendidikan di AS dan media online HOKI

No comments:

Post a Comment