Online Media/Press Kit

Designed to fire up your interest, Enthusiasm is a fascinating and hopeful novel based on the author’s own true story. In this exceptional masterpiece, Abbott narrates the journey of her life and shares how enthusiasm plays a vital role in pursuing her dream in the writing world—with English as her second language—in her new country.

Here, she exemplifies her experiences, her family and relationships, her inspirations, and her passage towards her remarkable goals. This novel is a reflection of her own life, how she faces obstacles, how she handles life, how she inspires others, how she touches other people’s lives through her works, and how she achieved the amazing successes of her life and endeavors—a perfect blend of life’s spices.

Through Enthusiasm: A Novel Based on the Author's Own True Story, you will be affected by the author’s wonderful story. Filled with hope and inspiration, strength and enthusiasm, this book will draw out the best within your heart and mind.

Available in paperback, hardcover and e-book. Get 10% discount, free S+H, bookmark and autograph. Visit this link! Six books left!

Get free S+H, visit these websites:

For book stores, retailers and wholesalers, visit these websites:

Sunday, July 25, 2010

Buah dari Kegundahan Hati

Akhir pekan ini rencana untuk pergi berbelanja dengan mengajak putri bungsu saya merupakan waktu yang kami berdua tunggu-tunggu bersama. Memang sudah lama tak mengajaknya berbelanja oleh karena kesibukan saya.

Sesudah sarapan pagi dengan blueberry pancake yang saya buat sendiri, bersiap-siaplah kami berdua untuk berangkat. Putri saya sangat senang dan saya sendiri pun turut senang melihatnya. Rencana pun saya susun dengan tujuan pertama adalah fotokopi untuk keperluan book signing bulan depan di perspustakaan lokal, kemudian langsung berbelanja. Saya katakan juga kepadanya bahwa setibanya dari berbelanja, akan saya ajak ke perpustakaan lokal untuk mengembalikan buku-buku yang dipinjam sekaligus menyerahkan beberapa flyer book signing ke direktur perpustakaan.

Di tengah jalan, di perempatan lampu merah sekitar 200 meter dari rumah, tiba-tiba mobil yang saya tumpangi mendadak mogok. Saya hidupkan kembali dan berjalan lagi tetapi mogok lagi semenit kemudian, begitu selanjutnya beberapa kali terulang hingga akhirnya saya putuskan untuk kembali pulang. Saat memutuskan akan memutar mobil menuju rumah, mesin mobil mogok terus beberapa kali hingga saya khawatir tidak akan sampai ke rumah dengan segera. Handphone pun tertinggal di rumah sehingga saya pun tak dapat menelepon untuk memberitahukannya kepada suami. Saya katakan kepada putri saya bahwa pagi itu rencana untuk berbelanja saya batalkan yang membuatnya menjadi kecewa.

Dengan menarik napas panjang, saya berharap mesin mobil akan segera hidup kembali. Dengan hanya mengalami dua kali mogok selama perjalanan pulang, sampailah kami berdua di rumah dengan selamat. Tanpa menutupi hati yang kesal, saya ceritakan keadaan mobil tersebut yang memang bukan milik kami. Mobil tersebut adalah sebuah mobil pinjaman dari seseorang yang sedang memperbaiki mobil suami saya. Sedangkan mobil saya sendiri sudah terjual dengan harga yang murah meriah karena kerusakan parah yang memakan biaya lebih banyak untuk memperbaikinya daripada harga mobil itu sendiri. Maka dengan penuh keikhlasan hati, saya harus merelakan mobil tersebut terjual dengan harga yang sangat rendah.

Rencana semula yang tersusun rapi pudar dan putri bungsu saya menjadi sedih. Melihat keadaan tersebut, suami saya pun memutuskan untuk mengambil mobilnya yang memang sudah selesai diperbaiki dan sebelumnya ia berencana untuk mengambilnya hari Minggu, keesokan harinya. Dengan penuh harap, saya berpikir rencana semula akan terwujud sepulang suami mengambil mobilnya.

Ternyata saya kembali menyesal. Suami pulang dengan membawa kabar bahwa rem mobil masih belum bekerja dengan sempurna sehingga ia sangat khawatir apabila saya yang akan mengendarainya sendiri, bahkan ia berkata akan mengantar saya ke tempat kerja minggu depan selama ia belum mendapatkan mobil penggantinya. Hal itu mengartikan bahwa ia harus mengantarkan saya berbelanja dan ia menyanggupinya setelah ia beristirahat siang.

Sinar matahari sangat terik di musim panas hingga sampai pukul tujuh malam. Kalau di Indonesia saat itu matahari sudah menenggelamkan dirinya tetapi tidak di musim panas di Amerika. Matahari masih bersinar dengan megahnya, menyengat kulit seperti layaknya antara pukul sebelas hingga pukul dua siang. Saya berpikir pasti suami saya akan membatalkan niatnya mengantar berbelanja dan ternyata memang benar perkiraan saya. Hati saya bertambah kesal tapi kemudian saya ingat bahwa esok adalah hari Minggu, maka saya bertanya apakah ia akan mengantarkan saya berbelanja setelah sepulang gereja. Ia pun berkata bahwa itulah rencananya, bahkan ia pun akan pergi ke gereja bersama kami berdua.

Di lantai atas kegundahan hati saya masih terasa. Dalam hati saya berkata mengapa masih saja menjadi gundah, bukankah suami sudah bersedia akan menemani berbelanja, bahkan akan pergi bersama ke gereja, sebuah keinginan lama saya akan terwujud setelah ia lama absent dikarenakan pekerjaannya. Mengapa saya tidak bersyukur?

Tiba-tiba hati saya ingin online dan mengingatkan bahwa sudah lama saya tidak memposting lembaran-lembaran pelajaran Sekolah Minggu putri bungsu saya di blognya. Saat itulah tanpa menunda-nunda, saya ambil sebuah lembaran pelajaran Sekolah Minggu yang tertumpuk di atas meja beberapa bulan lalu. Ternyata hati saya sangat terhibur dengan tulisan-tulisan yang tercantum di atas lembaran-lembaran tersebut. Sambil menuliskannya kembali di blog, saya membaca ulang. Memang benar ternyata tulisan-tulisan yang baik memberikan obat mujarab untuk hati, hingga akhirnya saya sendiri menuliskannya di sini.

Tak lama putri bungsu saya datang dengan membawa sekotak makanan, menunjukkannya kepada saya bahwa ia mendapatkannya dari ayahnya. Sepuluh menit kemudian, suami pun datang dengan membawa sepiring makanan yang baru saja dia beli tanpa sepengetahuan saya. Rupanya secara diam-diam ia ingin memberikan sebuah kejutan saat mengetahui kegundahan hati saya. Apakah selanjutnya saya masih tetap bergundah hati? Tentu tidak. Hati saya berubah menjadi senang. Senang oleh karena esok hari suami akan pergi ke gereja bersama, senang oleh karena saya akan diantar suami berbelanja—kegiatan yang sudah lama tidak dilakukan bersama sejak saya mulai bekerja, senang oleh karena saya membaca sesuatu yang memberikan rasa suka cita dan kekuatan hati, senang oleh karena saya dapat menuliskan sesuatu untuk dibagikan kepada sesama setelah lama absent oleh karena kesibukan menyelesaikan penulisan novel, senang oleh karena saat merasa lapar, suami datang dan membawakan sebuah piring berisi makanan. (*)


Tulisan ini telah ditayangkan juga di HOKI dan Cross Written.