Online Media/Press Kit

Designed to fire up your interest, Enthusiasm is a fascinating and hopeful novel based on the author’s own true story. In this exceptional masterpiece, Abbott narrates the journey of her life and shares how enthusiasm plays a vital role in pursuing her dream in the writing world—with English as her second language—in her new country.

Here, she exemplifies her experiences, her family and relationships, her inspirations, and her passage towards her remarkable goals. This novel is a reflection of her own life, how she faces obstacles, how she handles life, how she inspires others, how she touches other people’s lives through her works, and how she achieved the amazing successes of her life and endeavors—a perfect blend of life’s spices.

Through Enthusiasm: A Novel Based on the Author's Own True Story, you will be affected by the author’s wonderful story. Filled with hope and inspiration, strength and enthusiasm, this book will draw out the best within your heart and mind.

Available in paperback, hardcover and e-book. Get 10% discount, free S+H, bookmark and autograph. Visit this link! Six books left!

Get free S+H, visit these websites:

For book stores, retailers and wholesalers, visit these websites:

Saturday, September 26, 2015

Cerita Pekerja Illegal Indonesia di USA


Pagi itu sekitar pukul 11 siang meskipun matahari belum berada tepat di atas kepala, namun menjelang musim gugur saat pertama kali saya rasakan di negara USA cukup membuat kulit terasa perlu untuk dibungkus dengan mantel.  Lebih baik hangat daripada kedinginan.  Kondisi Kebun Binatang di Philadelphia saat itu penuh sesak.  Terlihat antrian yang sangat panjang hampir memenuhi jalan masuk ke pintu gerbangnya.  Suami saya pun sibuk melihat ke segala arah, berharap akan menemukan orang-orang Indonesia sehingga saya dapat bertemu teman setanah air.  Dapat saya maklumi, karena di Philadelphia, terutama di daerah China Town, terdapat komunitas Indonesia yang cukup besar yang tinggal di sana.  Akhirnya suami saya  pun berbisik di telinga saya mengatakan sambil menunjuk ke suatu tempat, "Do they speak Indonesian?" (Apakah mereka berbicara dalam Bahasa Indoensia?).  Oleh karena ramainya orang-orang yang membeli tiket, saya pun tidak dapat mendengar apakah mereka berbahasa Indonesia ataukah tidak. Akhirnya saya berinisiatif untuk sedikit mendekat ke arah mereka. Ternyata benar, mereka orang-orang Indonesia.

Saya pun menyapa mereka, dan tampaknya mereka pun biasa-biasa pula, tidak seperti saya yang excited.  Maklum, kota dan apartemen tempat dimana saya tinggal waktu itu tak ada satu pun orang Indonesia yang pernah saya temui, sehingga kalau saya bertemu dengan mereka sesama bangsa, rasanya senang sekali. Itulah yang menjadi salah satu kerinduan suami saya. Dia sangat senang apabila saya bertemu dengan orang-orang Indonesia.

Pertemuan di Kebun Binatang itu akhirnya manjadi suatu awal saya mengetahui begitu banyak cerita tentang masyarakat Indonesia yang bekerja di negara perantauan, USA.  Mereka bertujuh adalah korban penipuan sebuah agency.  Agency yang telah membawa mereka ke negara USA akhirnya tidak memenuhi kewajiban akhirnya untuk memperpanjang visa kerja mereka di sana.  Akhirnya status mereka tidaklah jelas.  Ingin tetap bekerja di USA tetapi selalu was-was karena setiap saat mereka harus siap untuk dideportasi.  Ingin pulang, tetapi biaya balik modal masih jauh dari mencukupi. Hampir semua modal yang digunakan untuk berangkat ke USA merupakan uang pinjaman yang tentunya harus dibayar melalui hasil keringat mereka.  Itu pun belum terhitung uang kiriman untuk membantu ekonomi keluarga mereka di Indonesia.  Tidak jarang pula gaji yang dibayar adalah ‘di bawah tangan', dalam arti mereka bukanlah para Pembayar Pajak Pendapatan.  Kalau sudah begini, sudah jelas mereka tidak mendapatkan ‘benefit', terutama asuransi kecelakaan, kesehatan ataupun kematian, dan lain-lain.  Hal ini terjadi oleh karena mereka adalah para pekerja illegal.

Dalam percakapan di telepon dengan mereka, saya sarankan untuk berkonsultasi dengan orang-orang KBRI di Washington DC.  Ternyata mereka pun mendapat nasehat yang cukup bijaksana, agar mereka tetap bekerja dengan baik dan hati-hati.  Nasehat yang singkat itu pun ternyata mampu memberikan semangat dan keberanian mereka untuk memutuskan tetap bekerja di USA.  Saya pun menambahkan, "Syukurlah kalau begitu, jangan lupa menyisihkan uang untuk ditabung, agar nanti sewaktu pulang ke Indonesia dapat dijadikan modal untuk buka usaha sendiri."  Dengan kagetnya saya pun mendapat jawaban di luar dugaan saya.  Seorang di antara mereka berkata, "Bagaimana mau menabung, Mbak.  Kita juga tidak jarang membantu rekan-rekan untuk menyambung hidup karena mereka belum dapat kerjaan.  Ya semuanya, numpang tinggal, makan, minum, dan sebagainya."  Saya pun terdiam, dan ia pun melanjutkan, "Nggak apa-apalah Mbak, sama-sama di perantauan.  Saling membantu saudara sebangsa sendiri. Pokoknya ramai-ramai bersama-sama, susahnya bisa jadi lupa." 

Saya pun menanyakan ketidaknyamanan hidup mereka karena kemana pun mereka pergi, mereka harus berwaspada dari sweeping pihak yang berwajib.  Kalau pun ingin pulang, pengakuan mereka mengatakan, kemana mereka harus mencari pekerjaan di Indonesia.  "Susah Mbak cari kerja di Indonesia.  Biarlah begini, sepanjang saya dan teman-teman bekerja dengan baik.  Kalau kena sweeping, apa mau dikata, ya sudah nasib kena deportasi," itulah pengakuan mereka.

Percakapan melalui telepon saat itu meninggalkan kesan yang dalam, karena mendengar cerita curahan hati mereka selama hidup di USA yang bermacam-macam.  Saya pun mengundang makan siang kepada mereka di apartemen saya bila mereka mau.  Tetapi oleh karena kesibukan mereka dan jadwal kerja yang berbeda satu dengan yang lainnya, mereka pun belum dapat mewujudkan keinginan saya untuk mengundang mereka makan siang di apartemen waktu itu, hingga sampai saya pindah ke rumah baru di kota lain. Jejak mereka pun akhirnya  sudah tak ada lagi, selalu berpindah tempat alias nomaden.

Cerita kedua, saya dapatkan sewaktu saya dan suami saya sedang merayakan Anniversary pertama kami di bulan Nopember, tahun 2003, dengan makan malam di salah satu restaurant Indonesia di Philadelphia.  Seorang pelayan perempuan tampak sebaya usianya dengan saya, dan saya pun mencoba untuk menyapanya.  Dari perkenalan itu, cerita tentang kehidupan orang-orang Indonesia yang bekerja di USA pun bertambah.  Dia adalah seorang sarjana lulusan dari salah satu Universitas terkenal di Surabaya.  Menjadi pelayan di restaurant, menurutnya adalah pekerjaan sementara saja sambil dia mencari pekerjaan lainnya yang lebih baik.  Beberapa bulan kemudian saya pun mendengar dari pengakuannya via telepon, bahwa dia sudah pindah bekerja di sebuah pabrik.  Suaminya mendapat kecelakaan kecil, tetapi mereka tidak memiliki asuransi kesehatan, sehingga mereka pun meminjam uang dari Pemerintah setempat.  Jangan ditanya berapa besar uang yang dipinjam.  Biaya pengobatan di USA sangatlah mahal.  Dia pun mengaku, sudah tidak tahu lagi kapan bisa melunasi karena terlalu tinggi untuk ukuran pendapatan mereka, yang penting mereka selalu membayar semampu mereka setiap bulan.  Saya pun menyarankan bila mereka membeli asuransi kesehatan dengan program yang murah saja.  Ternyata saya barulah tahu, apabila mereka tak dapat membeli asuransi kesehatan, karena status mereka yang sudah tidak legal lagi untuk tinggal di USA, dan mereka pun masih berusaha keras memohon petisi mereka pada Departemen keimigrasian di USA.  Bagaimana jalan cerita selanjutnya, saya pun tak dapat mengikutinya karena jejaknya pun sudah hilang.  Entah kemana, karena HP yang saya hubungi pun sudah tak pernah dijawab lagi.

Cerita lainnya setelah kelahiran putri saya beberapa bulan kemudian, kami menghadiri acara perayaan 17 Agustus 2004 di Philadelphia yang dituanrumahi oleh sebuah gereja Indonesia di Philadelphia.  Dari sana juga saya bertemu komunitas Indonesia.  Seorang diantaranya bercerita bagaimana dia menjalani hidup di USA.  Meskipun sudah cukup lama tinggal di USA, tetapi status dirinya dan keluarganya tidaklah jelas, hanya seorang putranya saja yang berwarga negara Amerika karena dia lahir di Amerika.  Cobalah kita bayangkan, bagaimana sedihnya hidup mereka.  Pulang ke Indonesia pun sudah tidak bisa meskipun untuk menengok keluarga, karena kalau mereka akan pulang, berarti mereka menyerahkan diri mereka untuk terdeportasi, sehingga mereka akan sulit kembali untuk pergi/datang ke USA, alias sudah tidak bisa lagi karena sudah pasti pengajuannya akan ditolak.  Lalu bagaimana?  Ya, untunglah dia beserta suaminya masih tetap bekerja.  Meskipun jaraknya memakan waktu 1 jam lebih, tetapi oleh karena bersama-sama dengan rekan-rekan Indonesia lainnya yang berangkat satu mobil bersamaan, maka jarak pun bukanlah menjadi masalah.

Cerita yang lainnya???  Masih banyak cerita lainnya dari pertemuan-pertemuan saya dengan mereka yang bekerja di USA dengan status yang tidak jelas.  Menyedihkan sekali.  Tetapi tidak semua mereka yang bekerja di USA seperti demikian.  Mereka yang berstatus legal, dalam arti memiliki kartu permanent resident, mereka bekerja dengan baik dan memiliki karier yang mapan.  Rata-rata mereka sudah bekerja tahunan di USA dan akhirnya dipercaya menjadi Manager dan mereka telah menikah dengan warga USA.  Ada juga mereka yang menyelesaikan studi dan bekerja di sana dan akhirnya menikah dengan warga negara USA, sampai ada pula yang telah menjadi Direktur perusahaan yang cukup terkenal.

Cerita-cerita di atas merupakan gambaran sesuatu yang dapat diambil pelajaran untuk siapa saja yang berkeinginan mengadu nasib di negara USA.  Pandai-pandailah dalam mengambil langkah.  Mengapa saya katakan demikian, karena saya melihat sebuah bukti nyata seorang sanak keluarga yang pernah bekerja di USA bertahun-tahun di kapal pesiar.  Dia menyempatkan diri untuk mengambil kursus perhotelan/akademi perhotelan pada saat dia ‘turun kapal'.  Dengan statusnya yang hanya lulus SMA di Indonesia dan lulus lewat kursus/akademi perhotelan di USA, sekarang dia telah dipercaya menjadi salah satu Manager Personalia Hotel Berbintang Lima di Bali.

Apakah anda merupakan seorang di antara mereka yang berkeinginan untuk bekerja di USA?  Bila jawabannya adalah ‘YA', berbenahlah sedini mungkin.  Siapkan diri anda untuk dapat menguasai Bahasa Inggris dengan baik.  Siapkan pula keuangan anda yang kuat sebagai modal awal hidup anda di negeri orang.  Jangan gunakan visa kerja anda untuk akhirnya menetap di negara tersebut, karena ini akan menjadi boomerang bagi hidup anda.  Lainnya??  Dibutuhkan mental yang tangguh untuk hidup di negara USA.  Tidak perlu saya jelaskan sedetail mungkin, tetapi sebuah gambaran di bawah ini akan dapat menjadikan sebuah inspirasi anda untuk berpikir dua kali.

‘Mereka adalah orang-orang berduit di Indonesia yang memiliki usaha (pengusaha) tetapi mereka harus mau tidak mau merendahkan dirinya untuk hidup dalam sebuah rumah/ruangan kecil untuk dapat survive di USA.'

Jadi, janganlah mengira mereka yang bekerja di USA adalah berduit karena mereka selalu mengirimkan duit mereka ke sanak keluarga di Indonesia, tetapi keluarga mereka di Indonesia tidak mengetahui kerasnya kehidupan mereka untuk bertahan hidup di negera tersebut.  Apakah anda termasuk kloter berikutnya???

***

Keterangan Foto:
Kebun Binatang Philadelphia-2002 (Penulis duduk nomor 4 dari kiri  dengan dua anggota keluarga duduk dan berdiri di sampingnya, bersama 6 (enam) pemuda Indonesia dan seorang Pemudi Indonesia berasal dari Jakarta yang sedang bekerja di USA.  


Artikel ini telah dipublikasikan di KabarIndonesia, 30 September 2008

Wednesday, September 2, 2015

Welcome Back to School

Hip-hip horray!
I'm in the first day of Middle School today.
Excited and nervous.

I could not wait to get ready soon
even though it was still at 5 AM.
Having breakfast at 5.30 AM
and waiting for the school bus coming at 7 AM.

My mom got mad.
I woke up too early.
Made her wake up too early, too.
She said tomorrow I had to set up the alarm at 5.45 AM
instead of 5 AM.

In the bus I took a seat by myself at the front.
Everybody was so quiet.
No talk, no laugh, no smile
and I was busy with my own thought.

When I came back from school
My mom asked me so many questions.
But I only had one response,
"Mama, I could not open my locker."

August 1, 2015