Online Media/Press Kit

Designed to fire up your interest, Enthusiasm is a fascinating and hopeful novel based on the author’s own true story. In this exceptional masterpiece, Abbott narrates the journey of her life and shares how enthusiasm plays a vital role in pursuing her dream in the writing world—with English as her second language—in her new country.

Here, she exemplifies her experiences, her family and relationships, her inspirations, and her passage towards her remarkable goals. This novel is a reflection of her own life, how she faces obstacles, how she handles life, how she inspires others, how she touches other people’s lives through her works, and how she achieved the amazing successes of her life and endeavors—a perfect blend of life’s spices.

Through Enthusiasm: A Novel Based on the Author's Own True Story, you will be affected by the author’s wonderful story. Filled with hope and inspiration, strength and enthusiasm, this book will draw out the best within your heart and mind.

Available in paperback, hardcover and e-book. Get 10% discount, free S+H, bookmark and autograph. Visit this link! Six books left!

Get free S+H, visit these websites:

For book stores, retailers and wholesalers, visit these websites:

Thursday, November 17, 2016

Dunia Anak, Dunia Penulis




Empat belas tahun lalu, tepatnya di bulan Agustus 2012, beberapa hari sebelum keberangkatan saya ke Amerika Serikat, saya berkunjung ke toko buku Gramedia di Tunjungan Plaza, Surabaya. Ada beberapa pesanan dari seorang rekan yang tinggal di Texas untuk membawa buku-buku resep masakan Indonesia. Saya yang doyan membaca, kalau sudah masuk ke toko buku bisa berjam-jam. Setelah menemukan beberapa buku pesanannya, saya mengunjungi rak-rak setiap genre buku dan melihat judul-judul buku yang menarik perhatian. Siapa tahu saya tertarik dan membelinya.

Ada satu hal yang menjadi sorotan saya, yaitu rak genre untuk buku anak-anak tidaklah banyak. Jumlah buku-bukunya dapat dihitung mudah dengan ibu jari. Itu pun kalau saya melewatinya. Menurut saya rak buku anak-anak mendapatkan urutan nomor ke sekian. Buku-buku dewasa yang best-seller atau yang merangsang pembeli seperti buku-buku berisi tips, how to, terutama saduran buku-buku cerita asing yang populer di kedepankan. Saya memakluminya karena itu merupakan salah satu strategi marketing dalam segi penjualan.

Setelah saya tiba di Amerika Serikat, beberapa bulan kemudian suami membawa saya ke toko buku dalam rangka membeli sebuah hadiah. Mata saya yang berwarna coklat muda ini menjadi hijau. Betapa tidak? Yang namanya toko buku, saya merasakan seperti toko 'perpustakaan' buku. Saya menjadi bingung dari mana saya memulai untuk mengunjungi rak yang menarik perhatian saya  karena mereka memajang buku-buku sedemikian rupa sehingga menarik perhatian pembeli dengan mudah. Yang menjadi perhatian saya adalah buku anak-anak pun tak kalah menarik. Mereka dipajang di bagian depan. Dengan gambar-gambar ilustrasi yang menarik, siapa yang tak ingin berhenti dan melihat-lihat isinya? Termasuk saya sendiri. Rak buku anak-anak pun begitu panjang dan memiliki kategori umur, dari balita hingga remaja. Saya terkesan.

Setelah kelahiran putri kami, hadiah-hadiah mengalir dari sanak keluarga dan teman-teman kerja suami. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah hadiah buku dan CD untuk bayi, yaitu musik-musik instument klasik para musisi terkenal dunia. Hadiah buku-buku pun terus berdatangan. Dari sanalah saya mengenal buku anak-anak di Amerikan Serikat yang populer dan siapa penulisnya.

Hingga anak saya beranjak memasuki usia remaja, hadiah buku ini tidak pernah berhenti. Putri saya yang sudah diperkenalkan buku sejak usia balita bertumbuh menjadi sosok anak yang gemar membaca. Hasilnya, ia memiliki daya nalar, imajinasi, kemampuan bercerita dan menulis yang tinggi. Ia mampu membaca buku Harry Potter yang tebalnya ratusan itu hanya dalam beberapa hari saja. Tidak hanya itu, ia jitu memberikan penilaian terhadap cerita yang telah dibacanya. Hasilnya, setelah usianya beranjak 12 tahun, ia berhasil lulus dari test yang saya berikan dengan memberikannya tulisan-tulisan saya sendiri dan memintanya memberikan review. Saya terkejut karena tidak menyangka review yang diberikan seperti review yang diberikan oleh anak-anak minimum di sekolah perguruan tinggi. Tidaklah heran kalau selama ini hasil rapornya rata-rata 98-100 untuk semua pelajaran. Hingga saya mengatakan kepadanya, "You are going to be my private editor."      


Intisari apakah yang kita dapatkan dari cerita di atas? Intisarinya adalah buku anak-anak. Buku anak-anak di AS ditulis baik oleh kaum adam dan hawa, dari yang berstatus ibu rumah tangga biasa hingga dokter dan pengacara. Buku-buku yang mereka tulis dapat ditemukan untuk yang masih bayi hingga remaja dan jumlahnya banyak sekali, hingga saya sendiri bingung memilih kalau sudah masuk ke toko buku atau perpustakaan umum.

Diam-diam saya membandingkan dengan pengalaman saya sewaktu masih di Indonesia. Saya merasa prihatin dengan minimnya buku-buku untuk anak-anak Indonesia. Yang populer saat itu adalah majalah Bobo untuk anak-anak dan Hai untuk remaja.

Saya sendiri pun kurang tahu bagaimana keadaannya di perpustakaan-perpustakaan umum di kota-kota/daerah-daerah. Namun setelah berselancar online, tampaknya dunia buku anak-anak di Indonesia sudah mulai diperhatikan dan mulai banyak beredar. Apalagi saya melihat begitu banyak deretan nama-nama penulis cerita anak-anak dan para ilustrator yang berbakat.

Hal tersebut patut disyukuri karena ada kemajuan yang tampak untuk hal tersebut, yaitu semakin banyak buku-buku anak-anak yang terbit, dan saya berharap juga akan semakin banyak menjangkau perpustakaan-perpustakaan lokal dan daerah, apalagi pelosok-pelosok yang susah dijangkau. Hal ini penting sekali mengingat anak-anak adalah masa depan bangsa. Membaca adalah wajib, apalagi di era globalisasi saat ini. Negara yang maju, masyarakatnya gemar membaca. Bagaimana mereka kita harapkan suka membaca kalau tidak ada buku-buku bacaan yang mendukungnya? Sifat gemar membaca ini tentu tidak muncul begitu saja, melainkan harus dimulai sejak usia dini. Lalu siapakah penulisnya? Kenapa bukan Anda sendiri? Kalau Anda suka menulis dan memiliki keinginan untuk menulis cerita dunia anak-anak, mengapa tidak memulainya dari sekarang? Lalu bagaimana caranya?  


Salah satu menjawab pertanyaan ini adalah ikutilah pelatihan menulis anak di Pelatihan Menulis Online HOKI (PMOH) tahun depan. Kemampuan menulis perlu diasah. Dengan latihan dan pengetahuan yagng diberikan, Anda akan memiliki wawasan dan semakin mantap memasuki status baru Anda, yaitu sebagai penulis cerita anak-anak. Di kesempatan ini pula, Anda diberikan kesempatan untuk mendapatkan beasiswa. Caranya pun mudah. Anda hanya turut berpartisipasi dalam Lomba Tulis HOKI 2016 yang diselenggarakan oleh Harian Online KabarIndonesia (HOKI) dan memenangkannya, entah itu sebagai juara pertama, kedua, atau ketiga. Para juara harapan pun mendapatkan voucher untuk mengikuti pelatihan ini. Tidak hanya itu, disediakan pula hadiah-hadiah menarik lainnya. Info lengkap dapat Anda baca di salah satu rubrik Berita Redaksi berjudul LOMBA TULIS HOKI 2016: Rebut Hadiah-Hadiah Istimewa Memperingati HUT HOKI ke-10 Tahun! 

Bila tertarik, tidak perlu menunggu lama untuk segera menulisnya. Kirimkan segera naskah tulisan Anda ke laman www.kabarindonesia.com dengan mengikuti aturan yang diberikan. Ingat, menulis cerita untuk dunia anak-anak tidaklah mudah dan tidak dapat dipandang sebelah mata. Perlu kreatifitas dan kemampuan khusus mengenal dunia anak-anak. Kalau saya sendiri ditanya apakah akan menulis cerita anak-anak. Maka saya akan berpikir dua kali karena bagi saya lebih mudah menulis cerita untuk orang dewasa daripada untuk anak-anak. Jadi kesimpulannya, Anda akan mendapatkan suatu kehormatan khusus bila suatu hari nanti menyandang status baru sebagai Penulis Cerita Anak-Anak. Ayo mulailah dan turut sertalah memajukan dunia anak-anak melalui karya-karya tulis Anda! (*)



Tulisan ini telah ditayangkan di HOKI, 12 November 2016



Thursday, July 28, 2016

Beratnya Menghormati dan Bertoleransi



Idul Fitri sudah lewat. Saya yakin dari minggu lalu sudah banyak pemudik yang kembali ke rumah masing-masing. Lain halnya di Pennsylvania, USA. Tak ada perbedaan saat Idul Fitri tiba, hingga saya pun lupa. Padahal seminggu sebelumnya sudah mengingatnya. Bagaimana saya kembali mengingatnya?

Saat sibuk-sibuknya siang hari kami bekerja di depan layar komputer, tiba-tiba pimpinan perusahaan kami datang dan membawa sekotak besar berbagai macam donat dari Dunkin’ Donuts. Karena jumlah tim kami tidak banyak, maka tak lama donat-donat itu pun habis. Dalam perjalanan pulang ke rumah yang memakan waktu sekitar satu jam perjalanan dengan menyetir mobil, pikiran pun melayang ke pimpinan perusahaan. Pemberian donat siang hari itu mengusik pikiran. Saya bertanya dalam hati, mengapa ia membawa donat-donat tersebut? Saya berpikir pasti ada yang khusus. Saya terus berpikir apakah yang khusus itu? Ulang tahun, bukan. Merayakan Ulang Tahun perusahaan pun bukan. Akhirnya, saya pun baru ingat kalau hari itu adalah hari Idul Fitri dan pimpinan perusahaan adalah muslim, kelahiran Iran. Hal itu membuat saya kecewa, tidak mengucapkan Selamat Idul Fitri kepadanya.

Saya baru sadar setelah dua minggu bekerja di tempat pekerjaan tersebut, tidak pernah melihatnya makan dan minum di antara semua anggota tim. Tentu ia pun berpuasa, tapi ia selalu ada di tengah-tengah para karyawannya walau kami sedang asyik menikmati makanan dan minuman. Ia pun tak menampakkan kalau sedang berpuasa sehingga membuat saya pun lupa. Facebook-lah yang membuat saya ingat kembali melihat foto-foto makanan untuk berbuka puasa atau membaca berita-berita online mengenai penggrebekkan warung-warung yang buka di siang hari.

Berita-berita tersebut menarik perhatian saya. Yang menarik adalah para penggrebek membawa pulang makanan yang dijual di warung dan melihat ibu—si penjual—menangis. Hati saya sangat iba, bagaimana perasaan para penggerebek itu membawa pulang makanan ibu penjual warung tersebut. Mungkin ibu itu tetap berjualan karena pembelinya juga banyak yang tidak berpuasa—misalnya para pembecak—sehingga ia ingin tetap melayani selain menginginkan keuntungan. Semestinya ditutup saja kalau memang dibuat aturan tidak boleh berjualan (razia) di siang hari dan dapat dibuka kembali sejam sebelum waktu buka puasa tiba. Tidak perlu berbagi-bagi makanan yang bukan miliknya sendiri. Apakah mereka tidak berpikir dari mana ibu itu akan mendapatkan kembali uangnya? Tentu saja ia menangis karena uangnya tidak dapat kembali lagi. Mungkin ia tak memiliki cukup uang untuk menjual makanan lagi atau ia akan berhutang untuk berjualan lagi. Benar-benar saya tidak tega membaca berita tersebut dan melihat videonya. Hingga saya berpikir apakah para penggerebek itu sedang berpuasa juga? Kalau memang mereka sedang berpuasa, maka sia-sialah ibadah puasa mereka.

Dari berita tersebut, timbul pikiran yang lain. Kalau dengan sesama muslim mereka bertindak seperti itu, bagaimana halnya kepada yang tidak sesama muslim? Semoga berita ini menjadi renungan bersama bagaimana mengasihi sesama selama bulan Ramadhan dan semoga tak terulang lagi dan ibadah puasa mereka diterima oleh Tuhan.

Bertoleransi itu sebenarnya indah, tidak hanya dengan yang berbeda agama, melainkan dengan sesama agama pun, khususnya di bulan Ramadhan. Tidak hanya menghormati dan bertoleransi dengan yang sedang berpuasa tapi juga kepada mereka yang tidak berpuasa pun, termasuk yang muslim. (*)      



Sumber foto: Google

 
Artikel ini telah dipurbilkasikan di Harian Online KabarIndonesia (HOKI), 16 Juli 2016.
Link Artikel di HOKI