Showing posts with label Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Indonesia. Show all posts
Thursday, November 17, 2016
Dunia Anak, Dunia Penulis
Empat belas tahun lalu, tepatnya di bulan Agustus 2012, beberapa hari sebelum keberangkatan saya ke Amerika Serikat, saya berkunjung ke toko buku Gramedia di Tunjungan Plaza, Surabaya. Ada beberapa pesanan dari seorang rekan yang tinggal di Texas untuk membawa buku-buku resep masakan Indonesia. Saya yang doyan membaca, kalau sudah masuk ke toko buku bisa berjam-jam. Setelah menemukan beberapa buku pesanannya, saya mengunjungi rak-rak setiap genre buku dan melihat judul-judul buku yang menarik perhatian. Siapa tahu saya tertarik dan membelinya.
Ada satu hal yang menjadi sorotan saya, yaitu rak genre untuk buku anak-anak tidaklah banyak. Jumlah buku-bukunya dapat dihitung mudah dengan ibu jari. Itu pun kalau saya melewatinya. Menurut saya rak buku anak-anak mendapatkan urutan nomor ke sekian. Buku-buku dewasa yang best-seller atau yang merangsang pembeli seperti buku-buku berisi tips, how to, terutama saduran buku-buku cerita asing yang populer di kedepankan. Saya memakluminya karena itu merupakan salah satu strategi marketing dalam segi penjualan.
Setelah saya tiba di Amerika Serikat, beberapa bulan kemudian suami membawa saya ke toko buku dalam rangka membeli sebuah hadiah. Mata saya yang berwarna coklat muda ini menjadi hijau. Betapa tidak? Yang namanya toko buku, saya merasakan seperti toko 'perpustakaan' buku. Saya menjadi bingung dari mana saya memulai untuk mengunjungi rak yang menarik perhatian saya karena mereka memajang buku-buku sedemikian rupa sehingga menarik perhatian pembeli dengan mudah. Yang menjadi perhatian saya adalah buku anak-anak pun tak kalah menarik. Mereka dipajang di bagian depan. Dengan gambar-gambar ilustrasi yang menarik, siapa yang tak ingin berhenti dan melihat-lihat isinya? Termasuk saya sendiri. Rak buku anak-anak pun begitu panjang dan memiliki kategori umur, dari balita hingga remaja. Saya terkesan.
Setelah kelahiran putri kami, hadiah-hadiah mengalir dari sanak keluarga dan teman-teman kerja suami. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah hadiah buku dan CD untuk bayi, yaitu musik-musik instument klasik para musisi terkenal dunia. Hadiah buku-buku pun terus berdatangan. Dari sanalah saya mengenal buku anak-anak di Amerikan Serikat yang populer dan siapa penulisnya.
Hingga anak saya beranjak memasuki usia remaja, hadiah buku ini tidak pernah berhenti. Putri saya yang sudah diperkenalkan buku sejak usia balita bertumbuh menjadi sosok anak yang gemar membaca. Hasilnya, ia memiliki daya nalar, imajinasi, kemampuan bercerita dan menulis yang tinggi. Ia mampu membaca buku Harry Potter yang tebalnya ratusan itu hanya dalam beberapa hari saja. Tidak hanya itu, ia jitu memberikan penilaian terhadap cerita yang telah dibacanya. Hasilnya, setelah usianya beranjak 12 tahun, ia berhasil lulus dari test yang saya berikan dengan memberikannya tulisan-tulisan saya sendiri dan memintanya memberikan review. Saya terkejut karena tidak menyangka review yang diberikan seperti review yang diberikan oleh anak-anak minimum di sekolah perguruan tinggi. Tidaklah heran kalau selama ini hasil rapornya rata-rata 98-100 untuk semua pelajaran. Hingga saya mengatakan kepadanya, "You are going to be my private editor."
Intisari apakah yang kita dapatkan dari cerita di atas? Intisarinya adalah buku anak-anak. Buku anak-anak di AS ditulis baik oleh kaum adam dan hawa, dari yang berstatus ibu rumah tangga biasa hingga dokter dan pengacara. Buku-buku yang mereka tulis dapat ditemukan untuk yang masih bayi hingga remaja dan jumlahnya banyak sekali, hingga saya sendiri bingung memilih kalau sudah masuk ke toko buku atau perpustakaan umum.
Diam-diam saya membandingkan dengan pengalaman saya sewaktu masih di Indonesia. Saya merasa prihatin dengan minimnya buku-buku untuk anak-anak Indonesia. Yang populer saat itu adalah majalah Bobo untuk anak-anak dan Hai untuk remaja.
Saya sendiri pun kurang tahu bagaimana keadaannya di perpustakaan-perpustakaan umum di kota-kota/daerah-daerah. Namun setelah berselancar online, tampaknya dunia buku anak-anak di Indonesia sudah mulai diperhatikan dan mulai banyak beredar. Apalagi saya melihat begitu banyak deretan nama-nama penulis cerita anak-anak dan para ilustrator yang berbakat.
Hal tersebut patut disyukuri karena ada kemajuan yang tampak untuk hal tersebut, yaitu semakin banyak buku-buku anak-anak yang terbit, dan saya berharap juga akan semakin banyak menjangkau perpustakaan-perpustakaan lokal dan daerah, apalagi pelosok-pelosok yang susah dijangkau. Hal ini penting sekali mengingat anak-anak adalah masa depan bangsa. Membaca adalah wajib, apalagi di era globalisasi saat ini. Negara yang maju, masyarakatnya gemar membaca. Bagaimana mereka kita harapkan suka membaca kalau tidak ada buku-buku bacaan yang mendukungnya? Sifat gemar membaca ini tentu tidak muncul begitu saja, melainkan harus dimulai sejak usia dini. Lalu siapakah penulisnya? Kenapa bukan Anda sendiri? Kalau Anda suka menulis dan memiliki keinginan untuk menulis cerita dunia anak-anak, mengapa tidak memulainya dari sekarang? Lalu bagaimana caranya?
Salah satu menjawab pertanyaan ini adalah ikutilah pelatihan menulis anak di Pelatihan Menulis Online HOKI (PMOH) tahun depan. Kemampuan menulis perlu diasah. Dengan latihan dan pengetahuan yagng diberikan, Anda akan memiliki wawasan dan semakin mantap memasuki status baru Anda, yaitu sebagai penulis cerita anak-anak. Di kesempatan ini pula, Anda diberikan kesempatan untuk mendapatkan beasiswa. Caranya pun mudah. Anda hanya turut berpartisipasi dalam Lomba Tulis HOKI 2016 yang diselenggarakan oleh Harian Online KabarIndonesia (HOKI) dan memenangkannya, entah itu sebagai juara pertama, kedua, atau ketiga. Para juara harapan pun mendapatkan voucher untuk mengikuti pelatihan ini. Tidak hanya itu, disediakan pula hadiah-hadiah menarik lainnya. Info lengkap dapat Anda baca di salah satu rubrik Berita Redaksi berjudul LOMBA TULIS HOKI 2016: Rebut Hadiah-Hadiah Istimewa Memperingati HUT HOKI ke-10 Tahun!
Bila tertarik, tidak perlu menunggu lama untuk segera menulisnya. Kirimkan segera naskah tulisan Anda ke laman www.kabarindonesia.com dengan mengikuti aturan yang diberikan. Ingat, menulis cerita untuk dunia anak-anak tidaklah mudah dan tidak dapat dipandang sebelah mata. Perlu kreatifitas dan kemampuan khusus mengenal dunia anak-anak. Kalau saya sendiri ditanya apakah akan menulis cerita anak-anak. Maka saya akan berpikir dua kali karena bagi saya lebih mudah menulis cerita untuk orang dewasa daripada untuk anak-anak. Jadi kesimpulannya, Anda akan mendapatkan suatu kehormatan khusus bila suatu hari nanti menyandang status baru sebagai Penulis Cerita Anak-Anak. Ayo mulailah dan turut sertalah memajukan dunia anak-anak melalui karya-karya tulis Anda! (*)
Tulisan ini telah ditayangkan di HOKI, 12 November 2016
Labels:
Artikel,
Bahasa Indonesia,
HOKI,
Indonesia,
pendidikan
Saturday, September 26, 2015
Cerita Pekerja Illegal Indonesia di USA
Pagi itu sekitar pukul 11 siang meskipun matahari belum berada tepat di atas kepala, namun menjelang musim gugur saat pertama kali saya rasakan di negara USA cukup membuat kulit terasa perlu untuk dibungkus dengan mantel. Lebih baik hangat daripada kedinginan. Kondisi Kebun Binatang di Philadelphia saat itu penuh sesak. Terlihat antrian yang sangat panjang hampir memenuhi jalan masuk ke pintu gerbangnya. Suami saya pun sibuk melihat ke segala arah, berharap akan menemukan orang-orang Indonesia sehingga saya dapat bertemu teman setanah air. Dapat saya maklumi, karena di Philadelphia, terutama di daerah China Town, terdapat komunitas Indonesia yang cukup besar yang tinggal di sana. Akhirnya suami saya pun berbisik di telinga saya mengatakan sambil menunjuk ke suatu tempat, "Do they speak Indonesian?" (Apakah mereka berbicara dalam Bahasa Indoensia?). Oleh karena ramainya orang-orang yang membeli tiket, saya pun tidak dapat mendengar apakah mereka berbahasa Indonesia ataukah tidak. Akhirnya saya berinisiatif untuk sedikit mendekat ke arah mereka. Ternyata benar, mereka orang-orang Indonesia.
Saya pun menyapa mereka, dan tampaknya mereka pun biasa-biasa pula, tidak seperti saya yang excited. Maklum, kota dan apartemen tempat dimana saya tinggal waktu itu tak ada satu pun orang Indonesia yang pernah saya temui, sehingga kalau saya bertemu dengan mereka sesama bangsa, rasanya senang sekali. Itulah yang menjadi salah satu kerinduan suami saya. Dia sangat senang apabila saya bertemu dengan orang-orang Indonesia.
Pertemuan di Kebun Binatang itu akhirnya manjadi suatu awal saya mengetahui begitu banyak cerita tentang masyarakat Indonesia yang bekerja di negara perantauan, USA. Mereka bertujuh adalah korban penipuan sebuah agency. Agency yang telah membawa mereka ke negara USA akhirnya tidak memenuhi kewajiban akhirnya untuk memperpanjang visa kerja mereka di sana. Akhirnya status mereka tidaklah jelas. Ingin tetap bekerja di USA tetapi selalu was-was karena setiap saat mereka harus siap untuk dideportasi. Ingin pulang, tetapi biaya balik modal masih jauh dari mencukupi. Hampir semua modal yang digunakan untuk berangkat ke USA merupakan uang pinjaman yang tentunya harus dibayar melalui hasil keringat mereka. Itu pun belum terhitung uang kiriman untuk membantu ekonomi keluarga mereka di Indonesia. Tidak jarang pula gaji yang dibayar adalah ‘di bawah tangan', dalam arti mereka bukanlah para Pembayar Pajak Pendapatan. Kalau sudah begini, sudah jelas mereka tidak mendapatkan ‘benefit', terutama asuransi kecelakaan, kesehatan ataupun kematian, dan lain-lain. Hal ini terjadi oleh karena mereka adalah para pekerja illegal.
Dalam percakapan di telepon dengan mereka, saya sarankan untuk berkonsultasi dengan orang-orang KBRI di Washington DC. Ternyata mereka pun mendapat nasehat yang cukup bijaksana, agar mereka tetap bekerja dengan baik dan hati-hati. Nasehat yang singkat itu pun ternyata mampu memberikan semangat dan keberanian mereka untuk memutuskan tetap bekerja di USA. Saya pun menambahkan, "Syukurlah kalau begitu, jangan lupa menyisihkan uang untuk ditabung, agar nanti sewaktu pulang ke Indonesia dapat dijadikan modal untuk buka usaha sendiri." Dengan kagetnya saya pun mendapat jawaban di luar dugaan saya. Seorang di antara mereka berkata, "Bagaimana mau menabung, Mbak. Kita juga tidak jarang membantu rekan-rekan untuk menyambung hidup karena mereka belum dapat kerjaan. Ya semuanya, numpang tinggal, makan, minum, dan sebagainya." Saya pun terdiam, dan ia pun melanjutkan, "Nggak apa-apalah Mbak, sama-sama di perantauan. Saling membantu saudara sebangsa sendiri. Pokoknya ramai-ramai bersama-sama, susahnya bisa jadi lupa."
Saya pun menanyakan ketidaknyamanan hidup mereka karena kemana pun mereka pergi, mereka harus berwaspada dari sweeping pihak yang berwajib. Kalau pun ingin pulang, pengakuan mereka mengatakan, kemana mereka harus mencari pekerjaan di Indonesia. "Susah Mbak cari kerja di Indonesia. Biarlah begini, sepanjang saya dan teman-teman bekerja dengan baik. Kalau kena sweeping, apa mau dikata, ya sudah nasib kena deportasi," itulah pengakuan mereka.
Percakapan melalui telepon saat itu meninggalkan kesan yang dalam, karena mendengar cerita curahan hati mereka selama hidup di USA yang bermacam-macam. Saya pun mengundang makan siang kepada mereka di apartemen saya bila mereka mau. Tetapi oleh karena kesibukan mereka dan jadwal kerja yang berbeda satu dengan yang lainnya, mereka pun belum dapat mewujudkan keinginan saya untuk mengundang mereka makan siang di apartemen waktu itu, hingga sampai saya pindah ke rumah baru di kota lain. Jejak mereka pun akhirnya sudah tak ada lagi, selalu berpindah tempat alias nomaden.
Cerita kedua, saya dapatkan sewaktu saya dan suami saya sedang merayakan Anniversary pertama kami di bulan Nopember, tahun 2003, dengan makan malam di salah satu restaurant Indonesia di Philadelphia. Seorang pelayan perempuan tampak sebaya usianya dengan saya, dan saya pun mencoba untuk menyapanya. Dari perkenalan itu, cerita tentang kehidupan orang-orang Indonesia yang bekerja di USA pun bertambah. Dia adalah seorang sarjana lulusan dari salah satu Universitas terkenal di Surabaya. Menjadi pelayan di restaurant, menurutnya adalah pekerjaan sementara saja sambil dia mencari pekerjaan lainnya yang lebih baik. Beberapa bulan kemudian saya pun mendengar dari pengakuannya via telepon, bahwa dia sudah pindah bekerja di sebuah pabrik. Suaminya mendapat kecelakaan kecil, tetapi mereka tidak memiliki asuransi kesehatan, sehingga mereka pun meminjam uang dari Pemerintah setempat. Jangan ditanya berapa besar uang yang dipinjam. Biaya pengobatan di USA sangatlah mahal. Dia pun mengaku, sudah tidak tahu lagi kapan bisa melunasi karena terlalu tinggi untuk ukuran pendapatan mereka, yang penting mereka selalu membayar semampu mereka setiap bulan. Saya pun menyarankan bila mereka membeli asuransi kesehatan dengan program yang murah saja. Ternyata saya barulah tahu, apabila mereka tak dapat membeli asuransi kesehatan, karena status mereka yang sudah tidak legal lagi untuk tinggal di USA, dan mereka pun masih berusaha keras memohon petisi mereka pada Departemen keimigrasian di USA. Bagaimana jalan cerita selanjutnya, saya pun tak dapat mengikutinya karena jejaknya pun sudah hilang. Entah kemana, karena HP yang saya hubungi pun sudah tak pernah dijawab lagi.
Cerita lainnya setelah kelahiran putri saya beberapa bulan kemudian, kami menghadiri acara perayaan 17 Agustus 2004 di Philadelphia yang dituanrumahi oleh sebuah gereja Indonesia di Philadelphia. Dari sana juga saya bertemu komunitas Indonesia. Seorang diantaranya bercerita bagaimana dia menjalani hidup di USA. Meskipun sudah cukup lama tinggal di USA, tetapi status dirinya dan keluarganya tidaklah jelas, hanya seorang putranya saja yang berwarga negara Amerika karena dia lahir di Amerika. Cobalah kita bayangkan, bagaimana sedihnya hidup mereka. Pulang ke Indonesia pun sudah tidak bisa meskipun untuk menengok keluarga, karena kalau mereka akan pulang, berarti mereka menyerahkan diri mereka untuk terdeportasi, sehingga mereka akan sulit kembali untuk pergi/datang ke USA, alias sudah tidak bisa lagi karena sudah pasti pengajuannya akan ditolak. Lalu bagaimana? Ya, untunglah dia beserta suaminya masih tetap bekerja. Meskipun jaraknya memakan waktu 1 jam lebih, tetapi oleh karena bersama-sama dengan rekan-rekan Indonesia lainnya yang berangkat satu mobil bersamaan, maka jarak pun bukanlah menjadi masalah.
Cerita yang lainnya??? Masih banyak cerita lainnya dari pertemuan-pertemuan saya dengan mereka yang bekerja di USA dengan status yang tidak jelas. Menyedihkan sekali. Tetapi tidak semua mereka yang bekerja di USA seperti demikian. Mereka yang berstatus legal, dalam arti memiliki kartu permanent resident, mereka bekerja dengan baik dan memiliki karier yang mapan. Rata-rata mereka sudah bekerja tahunan di USA dan akhirnya dipercaya menjadi Manager dan mereka telah menikah dengan warga USA. Ada juga mereka yang menyelesaikan studi dan bekerja di sana dan akhirnya menikah dengan warga negara USA, sampai ada pula yang telah menjadi Direktur perusahaan yang cukup terkenal.
Cerita-cerita di atas merupakan gambaran sesuatu yang dapat diambil pelajaran untuk siapa saja yang berkeinginan mengadu nasib di negara USA. Pandai-pandailah dalam mengambil langkah. Mengapa saya katakan demikian, karena saya melihat sebuah bukti nyata seorang sanak keluarga yang pernah bekerja di USA bertahun-tahun di kapal pesiar. Dia menyempatkan diri untuk mengambil kursus perhotelan/akademi perhotelan pada saat dia ‘turun kapal'. Dengan statusnya yang hanya lulus SMA di Indonesia dan lulus lewat kursus/akademi perhotelan di USA, sekarang dia telah dipercaya menjadi salah satu Manager Personalia Hotel Berbintang Lima di Bali.
Apakah anda merupakan seorang di antara mereka yang berkeinginan untuk bekerja di USA? Bila jawabannya adalah ‘YA', berbenahlah sedini mungkin. Siapkan diri anda untuk dapat menguasai Bahasa Inggris dengan baik. Siapkan pula keuangan anda yang kuat sebagai modal awal hidup anda di negeri orang. Jangan gunakan visa kerja anda untuk akhirnya menetap di negara tersebut, karena ini akan menjadi boomerang bagi hidup anda. Lainnya?? Dibutuhkan mental yang tangguh untuk hidup di negara USA. Tidak perlu saya jelaskan sedetail mungkin, tetapi sebuah gambaran di bawah ini akan dapat menjadikan sebuah inspirasi anda untuk berpikir dua kali.
‘Mereka adalah orang-orang berduit di Indonesia yang memiliki usaha (pengusaha) tetapi mereka harus mau tidak mau merendahkan dirinya untuk hidup dalam sebuah rumah/ruangan kecil untuk dapat survive di USA.'
Jadi, janganlah mengira mereka yang bekerja di USA adalah berduit karena mereka selalu mengirimkan duit mereka ke sanak keluarga di Indonesia, tetapi keluarga mereka di Indonesia tidak mengetahui kerasnya kehidupan mereka untuk bertahan hidup di negera tersebut. Apakah anda termasuk kloter berikutnya???
***
Keterangan Foto:
Kebun Binatang Philadelphia-2002 (Penulis duduk nomor 4 dari kiri dengan dua anggota keluarga duduk dan berdiri di sampingnya, bersama 6 (enam) pemuda Indonesia dan seorang Pemudi Indonesia berasal dari Jakarta yang sedang bekerja di USA.
Artikel ini telah dipublikasikan di KabarIndonesia, 30 September 2008
Monday, August 31, 2015
Menumbuhkan Tanaman Kacang Panjang di Pennsylvania, USA
Published at KabarIndonesia, September 1, 2015:
![]() |
| Tanaman kacang panjang pertama yang tumbuh memiliki panjang lebih dari 1,5 feet. Tampak pada gambar hasil panen pertama beberapa kacang panjang dari satu tanaman. (Juli 2015) |
![]() |
| Beberapa kacang panjang dibiarkan mengering di dahannya untuk dipanen biji-bijinya. Tampak pada gambar hasil panen biji-biji kacang panjang yang siap ditanam pada musim panas berikutnya. (Juli 2015) |
Saturday, March 21, 2015
Bersukarelawan, Apa Enaknya?
Beberapa tahun lalu saya bertemu dengan para pengurus pengadaan perpustakaan daerah, kota tempat tinggal saya sehubungan dengan acara "book signing" untuk novel perdana saya berjudul Enthusiasm yang terbit di Amerika Serikat. Sebagai pengurus, mereka bertanggung jawab atas keberadaan perpustakaan daerah sehingga ketua dapat mengangkat pemimpin perpustakaan untuk dipekerjakan. Anehnya, para pengurus tersebut adalah para sukarelawan dan pemimpin perpustakaan adalah pekerja. Walaupun sebagai sukarelawan, mereka berhak mengatur keberadaan perpustakaan daerah dan pemimpin perpustakaan harus tunduk dengan keputusan rapat para pengurus yang notabene adalah para sukarelawan. Inti adanya pengurus tersebut adalah mengusahakan perpustakaan daerah harus tetap berjalan dan tidak ditutup oleh karena faktor keterbatasan pendanaan dari pusat. Sedangkan pemimpin perpustakaan dapat mempekerjakan beberapa karyawan sesuai dengan dana yang tersedia dan membuka kesempatan kepada para sukarelawan lainnya yang ingin membantu di perpustakaan.
Saat putri saya masih pra sekolah, setiap tahun sekolah tersebut mengadakan penggalangan dana, yaitu acara lelang. Barang-barang yang mereka lelang merupakan sumbangan dari para murid/orang tua murid, juga dari perusahaan-perusahaan kecil hingga menengah di sekitarnya, misalnya makanan, minuman, perawatan badan/rambut/kuku, olahraga, pertukangan hingga peralatan berkebun, produk pertanian, dan sebagainya. Saat acara berlangsung, ruangan olahraga yang mereka gunakan penuh sesak oleh para pengunjung. Bila saya perhatikan sebenarnya harga yang ditawarkan untuk barang-barang lelang memang dimulai dari bawah tetapi bila terus ditawarkan dan peminatnya banyak, maka harganya bisa melambung tinggi, jauh melebihi harga barang tersebut. Sedangkan para pengunjung umumnya mereka yang tinggal di lingkungan sekolah tersebut selain keluarga dan rekan-rekan orang tua para murid. Tak disangka semua barang yang dilelang terjual habis bahkan dana yang terkumpul melebihi target. Melalui dana tersebut sekolah dapat membeli peralatan musik, olahraga dan perlatan lainnya sebagai penunjang kegiatan belajar-mengajar. Akhirnya saya mengetahui bahwa seorang yang terus berceloteh di panggung penawaran lelang ternyata adalah sukarelwan pula. Kesimpulannya, seluruh penyelenggaraan didukung seratus persen oleh para sukarelawan dan penyumbang barang-barang.
Setelah putri saya masuk ke sekolah Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar, para orang tua murid diberi kesempatan untuk bersukarelawan pula, dari bergabung sebagai tim penggalangan dana sekolah, membantu para guru di kelas hingga membantu mengajar membaca/menulis. Setelah berselang beberapa tahun, saya baru memahami bahwa ternyata para sukarelawan (para orang tua murid) tersebut berperan utama dalam penggalangan dana sekolah yang mereka gunakan untuk menunjang aktifitas-aktifitas sekolah, misalnya "study tour" dan acara-acara lainnya sehingga para murid tidak terbebani oleh biaya. Mereka bisa bebas biaya sama sekali atau berkurang biayanya bila mengadakan suatu acara. Dapat dibayangkan bila tak ada para sukarelawan tersebut, betapa repotnya kepala sekolah dan para guru mengurus penggalangan dana yang dapat mempengaruhi perhatian khusus mereka dalam aktifitas mengajar.
Selain di perpustakaan dan sekolah, kegiatan bersukarelawan banyak ditemukan di setiap komunitas-komunitas daerah, seperti pemeliharaan taman umum daerah, acara-acara tahunan daerah, bahkan tim pemadam kebakaran dan tim gawat darurat (Tim 911). Saat masih berusia dua belas tahun, suami saya sudah bergabung dengan tim pemadam kebakaran. Pada usia tersebut ia membantu membagi-bagikan makanan dan minuman kepada para korban yang kehilangan rumah mereka. Pada usia enam belas tahun selain ia masih bergabung dengan tim pemadam kebakaran, ia pun bersukarelawan sebagai salah satu tim gawat darurat (Tim 911). Di kedua tim tersebut, ia bersukarelawan selama dua belas tahun.
Kegiatan bersukarelawannya menimbulkan pertanyaan bagi saya. Akhirnya saya bertanya mengapa ia tertarik bersukarelawan dengan aktifitas yang berhubungan dengan pengorbanan nyawa diri sendiri dan menyangkut nyawa orang lain. Jawabnya sederhana saja. Ia ingin membantu, menambah pengetahuan dan pengalaman. Lalu saya bertanya lagi mengapa banyak sekali orang-orang Amerika yang suka bersukarelawan bahkan kegiatannya berkesinambungan tidak hanya satu atau dua hari, sepekan atau sebulan, melainkan tahunan hingga menjadi penanggung jawab pada instansi yang penting atau untuk kepentingan publik. Ia pun menjawab secara sederhana pula bahwa selain suka membantu, mereka suka mengembangkan "network" (jaringan kerja).
Jawaban terakhir dari suami menggugah pikiran saya. Mengembangkan jaringan kerja adalah hal baru dan belum pernah saya pikirkan sebelumnya. Dari situlah saya memahami mengapa suami saya langsung menjawab "ya" saat minta ijin darinya bila saya diperbolehkan bersukarelawan di KabarIndonesia dari penulis/pewarta warga menjadi salah satu tim editor. Ia mengetahui bila saya suka menulis sehingga ia pun tidak keberatan. Menurutnya bila saya tertarik terhadap bidang tulis-menulis, maka kegiatan bersukarelawan terebut adalah sangat tepat.
Melakukan kegiatan sukarelawan adalah harus dilakukan dengan senang hati karena tidak dibayar. Maka dari itu ketertarikan di bidang menulislah yang membawa saya menjadi salah satu sukarelawan di KabarIndonesia. Bertahun-tahun menjadi sukarelawan, banyak pembelajaran yang saya dapatkan. Suami saya berpesan bila bersukarelawan agar tidak mengharapkan imbalan dalam bentuk apa pun. "Bersukarelawan, ya bersukarelawan. Jangan berharap sesuatu dari apa yang telah diberikan" itulah pesannya yang telah saya terjemahkan dalam Bahasa Indonesia.
Saya belajar darinya bahwa bersukarelawan adalah memberikan pelayanan kepada sesama sehingga tentunya harus dilakukan dengan segenap hati, bukan dengan paksaan atau tekanan. Jadi menurutnya saya memang harus menyukai kegiatan tersebut terlebih dahulu bila memutuskan untuk bersukarelawan. Dengan begitu kegiatan saya akan berkembang dan hasilnya akan dirasakan oleh sesama. Benar-benar saya mengaminkannya karena memang benar seperti apa yang dikatakannya bahwa saya sendiri merasa berkembang. Walaupun sebagai sukarelawan tetapi menuntut cara kerja profesional. Itulah yang dikehendaki suami saya. Apa yang ia harapkan pun nyata, bukan hanya berkembang, tetapi jaringan kerja saya pun semakin berkembang pula. Tentunya sangat tepat bagi seorang penulis.
Apabila Anda termasuk salah seorang sukarelawan di KabarIndonesia, apakah pengalaman menariknya? Tentu jawabnya akan berbeda-beda tergantung dari tujuan masing-masing. Namun saya yakin bahwa tulisan-tulisan kita akan bermanfaat untuk sesama. Satu pahala yang patut disyukuri. Apabila kita melakukan untuk sesama, berarti kita pun melakukannya untuk Tuhan. Jadi menunggu apa lagi? Ayo, menulis sesuatu yang menarik dan bermanfaat, dan jangan lupa diedit yang baik sebelum meninggalkan kolom pengisian tulisan dan mengecek susunan alineanya setelah menyimpannya. Selamat bersukarelawan.(*)
Tulisan ini telah ditayangkan di HOKI, 3-12-2014
Saat putri saya masih pra sekolah, setiap tahun sekolah tersebut mengadakan penggalangan dana, yaitu acara lelang. Barang-barang yang mereka lelang merupakan sumbangan dari para murid/orang tua murid, juga dari perusahaan-perusahaan kecil hingga menengah di sekitarnya, misalnya makanan, minuman, perawatan badan/rambut/kuku, olahraga, pertukangan hingga peralatan berkebun, produk pertanian, dan sebagainya. Saat acara berlangsung, ruangan olahraga yang mereka gunakan penuh sesak oleh para pengunjung. Bila saya perhatikan sebenarnya harga yang ditawarkan untuk barang-barang lelang memang dimulai dari bawah tetapi bila terus ditawarkan dan peminatnya banyak, maka harganya bisa melambung tinggi, jauh melebihi harga barang tersebut. Sedangkan para pengunjung umumnya mereka yang tinggal di lingkungan sekolah tersebut selain keluarga dan rekan-rekan orang tua para murid. Tak disangka semua barang yang dilelang terjual habis bahkan dana yang terkumpul melebihi target. Melalui dana tersebut sekolah dapat membeli peralatan musik, olahraga dan perlatan lainnya sebagai penunjang kegiatan belajar-mengajar. Akhirnya saya mengetahui bahwa seorang yang terus berceloteh di panggung penawaran lelang ternyata adalah sukarelwan pula. Kesimpulannya, seluruh penyelenggaraan didukung seratus persen oleh para sukarelawan dan penyumbang barang-barang.
Setelah putri saya masuk ke sekolah Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar, para orang tua murid diberi kesempatan untuk bersukarelawan pula, dari bergabung sebagai tim penggalangan dana sekolah, membantu para guru di kelas hingga membantu mengajar membaca/menulis. Setelah berselang beberapa tahun, saya baru memahami bahwa ternyata para sukarelawan (para orang tua murid) tersebut berperan utama dalam penggalangan dana sekolah yang mereka gunakan untuk menunjang aktifitas-aktifitas sekolah, misalnya "study tour" dan acara-acara lainnya sehingga para murid tidak terbebani oleh biaya. Mereka bisa bebas biaya sama sekali atau berkurang biayanya bila mengadakan suatu acara. Dapat dibayangkan bila tak ada para sukarelawan tersebut, betapa repotnya kepala sekolah dan para guru mengurus penggalangan dana yang dapat mempengaruhi perhatian khusus mereka dalam aktifitas mengajar.
Selain di perpustakaan dan sekolah, kegiatan bersukarelawan banyak ditemukan di setiap komunitas-komunitas daerah, seperti pemeliharaan taman umum daerah, acara-acara tahunan daerah, bahkan tim pemadam kebakaran dan tim gawat darurat (Tim 911). Saat masih berusia dua belas tahun, suami saya sudah bergabung dengan tim pemadam kebakaran. Pada usia tersebut ia membantu membagi-bagikan makanan dan minuman kepada para korban yang kehilangan rumah mereka. Pada usia enam belas tahun selain ia masih bergabung dengan tim pemadam kebakaran, ia pun bersukarelawan sebagai salah satu tim gawat darurat (Tim 911). Di kedua tim tersebut, ia bersukarelawan selama dua belas tahun.
Kegiatan bersukarelawannya menimbulkan pertanyaan bagi saya. Akhirnya saya bertanya mengapa ia tertarik bersukarelawan dengan aktifitas yang berhubungan dengan pengorbanan nyawa diri sendiri dan menyangkut nyawa orang lain. Jawabnya sederhana saja. Ia ingin membantu, menambah pengetahuan dan pengalaman. Lalu saya bertanya lagi mengapa banyak sekali orang-orang Amerika yang suka bersukarelawan bahkan kegiatannya berkesinambungan tidak hanya satu atau dua hari, sepekan atau sebulan, melainkan tahunan hingga menjadi penanggung jawab pada instansi yang penting atau untuk kepentingan publik. Ia pun menjawab secara sederhana pula bahwa selain suka membantu, mereka suka mengembangkan "network" (jaringan kerja).
Jawaban terakhir dari suami menggugah pikiran saya. Mengembangkan jaringan kerja adalah hal baru dan belum pernah saya pikirkan sebelumnya. Dari situlah saya memahami mengapa suami saya langsung menjawab "ya" saat minta ijin darinya bila saya diperbolehkan bersukarelawan di KabarIndonesia dari penulis/pewarta warga menjadi salah satu tim editor. Ia mengetahui bila saya suka menulis sehingga ia pun tidak keberatan. Menurutnya bila saya tertarik terhadap bidang tulis-menulis, maka kegiatan bersukarelawan terebut adalah sangat tepat.
Melakukan kegiatan sukarelawan adalah harus dilakukan dengan senang hati karena tidak dibayar. Maka dari itu ketertarikan di bidang menulislah yang membawa saya menjadi salah satu sukarelawan di KabarIndonesia. Bertahun-tahun menjadi sukarelawan, banyak pembelajaran yang saya dapatkan. Suami saya berpesan bila bersukarelawan agar tidak mengharapkan imbalan dalam bentuk apa pun. "Bersukarelawan, ya bersukarelawan. Jangan berharap sesuatu dari apa yang telah diberikan" itulah pesannya yang telah saya terjemahkan dalam Bahasa Indonesia.
Saya belajar darinya bahwa bersukarelawan adalah memberikan pelayanan kepada sesama sehingga tentunya harus dilakukan dengan segenap hati, bukan dengan paksaan atau tekanan. Jadi menurutnya saya memang harus menyukai kegiatan tersebut terlebih dahulu bila memutuskan untuk bersukarelawan. Dengan begitu kegiatan saya akan berkembang dan hasilnya akan dirasakan oleh sesama. Benar-benar saya mengaminkannya karena memang benar seperti apa yang dikatakannya bahwa saya sendiri merasa berkembang. Walaupun sebagai sukarelawan tetapi menuntut cara kerja profesional. Itulah yang dikehendaki suami saya. Apa yang ia harapkan pun nyata, bukan hanya berkembang, tetapi jaringan kerja saya pun semakin berkembang pula. Tentunya sangat tepat bagi seorang penulis.
Apabila Anda termasuk salah seorang sukarelawan di KabarIndonesia, apakah pengalaman menariknya? Tentu jawabnya akan berbeda-beda tergantung dari tujuan masing-masing. Namun saya yakin bahwa tulisan-tulisan kita akan bermanfaat untuk sesama. Satu pahala yang patut disyukuri. Apabila kita melakukan untuk sesama, berarti kita pun melakukannya untuk Tuhan. Jadi menunggu apa lagi? Ayo, menulis sesuatu yang menarik dan bermanfaat, dan jangan lupa diedit yang baik sebelum meninggalkan kolom pengisian tulisan dan mengecek susunan alineanya setelah menyimpannya. Selamat bersukarelawan.(*)
Tulisan ini telah ditayangkan di HOKI, 3-12-2014
Monday, May 19, 2014
Doa Bapa Kami
MATAKU menatap ke layar komputer, lekat. Di sana kelihatan jasad Bapak terbujur, tubuhnya seperti lebih besar daripada yang kuingat. Hatiku teriris tiap kali kamera didekatkan ke wajah Bapak yang membengkak. Ingin menangis tetapi tak ada air mata. Pendoa Doa Bapa Kami telah tiada, batinku sendu.
Bapak punya kebiasaan, menutup doa-doanya dengan Doa Bapa Kami, bahkan doa makan. Meski doanya panjang, namun tak menjadi masalah bagiku. Hanya sedikit kekhawatiran bila saudara-saudaraku yang lain merasa tidak nyaman. Aku bahkan semakin bersimpati kepada Bapak, mengingatkan aku bahwa Tuhan Yesus yang telah mengajarkan doa tersebut.
Bapak memberikan teladan kepadaku untuk mengikuti jejaknya. Lalu aku memulainya, tapi ternyata susah juga mendisiplin diri menutup doa-doa dengan Doa Bapa Kami. Tampaknya sepele, ternyata tidak.
Dalam doa-doa malam sebelum tidur pun aku pernah mencobanya, tapi hanya bertahan beberapa kali saja. Doa Bapa Kami akhirnya kembali aku ucapkan hanya di setiap kebaktian-kebaktian minggu atau pada acara-acara kebaktian lainnya.
Bapak seorang sederhana. Ia tak banyak bicara. Sikapnya dalam berdoa telah memberikan contoh kepada kami anak-anaknya. Ia selalu melipatkan tangan dan menundukkan kepalanya, berdoa dengan suara yang mantap. Ia menyebutkan satu per satu nama-nama anggota keluarga dengan permohonan, lalu menutupnya dengan Doa Bapa Kami.
Kenangan itu masih kuat di ingatan meski sekarang aku berada jauh ribuan mil dari rumah. Lebih dari sebelas tahun aku tinggal di negeri asing, bersama suami dan anak-anakku, dan sejak itu pun aku belum pernah bertemu muka dengannya lagi selain bercakap-cakap melalui telepon atau mengirimkan surat. Hatiku nelangsa mengingat betapa lama kami tak jumpa.
Mataku masih menyaksikan jalannya ibadah penghiburan dalam layar komputer. Kepalaku mulai menggagas untuk mengajarkan putri bungsuku berdoa Doa Bapa Kami. Mengingat itu, aku bersemangat, menoleh ke arahnya, si delapan tahun, di sisi kananku. Ketiga anakku yang lain, dan suamiku juga ada di ruang keluarga,masing-masing dengan pikirannya sendiri.
Doa Bapa Kami, Doa Bapa Kami. Aku terus mengucapkan kalimat itu dalam hati sambil berpikir, kapan akan mulai mengajarkannya? Waktu itu Desember menjelang.
*
Ya, ampun! Aku baru sadar beberapa hari lalu menerima kiriman gelang plastik warna-warni bertuliskan Doa Bapa Kami yang kupesan. Rencananya, aku akan menghadiahkan gelang itu untuk Wanda, si bungsu, sebagai hadiah Natal, setelah itu mengajaknya menghapal Doa Bapa Kami.
“Kakek selalu mengakhiri doa-doanya dengan Doa Bapa Kami,” kataku malam itu.
Ia hanya diam. Aku memakluminya karena ia belum tahu apa itu Doa Bapa Kami.
“Mau Ibu ajari Doa Bapa Kami?”
Ia hanya menatapku, mengangkat bahu, lalu berlari menjauh, menonton televisi. Aku menghela napas panjang.
Sampai Natal telah lewat, kami belum mulai menghapal Doa Bapa
Kami. Keinginan itu seperti timbul-tenggelam. Ada semacam dorongan melaksanakan keinginan itu sebagai rasa hormatku kepada Bapak, tetapi juga keengganan karena tak tahu bagaimana membuat Wanda tertarik melakukannya. Maklumlah, ia masih kanak-kanak tapi aku memang berhasrat mengajarkannya sedini mungkin.
Sampai satu malam, aku memasukkan baju-baju bersih ke lemarinya, kulihat gelang-gelanghadiah itu lagi, di sudut meja belajarnya, dan di bawahnya tercantum catatan Doa Bapa Kami.
“Wanda!”
Beberapa detik wajahnya muncul di pintu. Aku melambaikan gelang dan kertas doa itu, berkatadengan riang, “Ini Doa Bapa Kami. Ayo, baca!”
“Ahhhh....,” katanya malas.
“Ayolah, Sayang. Mulai malam ini kita belajar menghapal Doa Bapa Kami ya?”
Wanda mengangkat alisnya, mengangkat bahunya.
“Kamu akan berusia sembilan tahun. Sudah besar, jadi harus belajar doa yang lain.”
Senyumnya mengembang. Rupanya ia senang dengan sebutan sudah besar. Sebelum ini dia hanya berdoa sangat sederhana, berterimakasih kepada Tuhan atas hari itu dan memohon penyertaan Tuhan di malam hari sewaktu tidur dan bangun dengan segar keesokan harinya, kemudian amin. Ia lalu mendekat, mengambil kertas berisi Doa Bapa Kami dari tanganku
“Tapi itu doa yang panjang, Bu,” keluhnya setelah beberapa detik memandangi isi kertas itu.
“Lama-lama kalau dibaca tiap malam, akan hapal. Yuk!”
Tak ada bantahan lagi darinya. Ia lalu membaca cepat sambil menjatuhkan dirinya di tempat tidur.
"Kalau berdoa, jangan cepat-cepat. Berdoa itu bicara kepada Tuhan. Kita harus hormat. Berdoa dari dalam hati," kataku lembut.
Ia duduk kembali dan mengulang membacanya lebih pelan.
Begitulah tiap malam kami mengulang Doa Bapa Kami. Tetapi selama itu ia tak menghapal, hanya membaca, dan ia tampak tak berminat. Aku tak tahu harus melakukan apa, namun tetap mendampinginya membaca doa itu sebelum tidur.
Satu malam aku ke kamarnya, dan tak kan mengingatkannya berdoa. Melihat beberapa kertas hasil corat-coret gambarnya berserakan di lantai, aku berniat memungutnya. Sambil memungut satu per satu, aku memperhatikan hasil coretan gambar animenya.
"Duh, putri Ibu satu ini memang punya bakat menggambar. Bagus benar gambar-gambarnya. Mungkin Ibu sendiri tidak bisa menggambar seperti ini," ucapku dengan penuh bangga.
Namun ia tak meresponsnya, malahan aku mendengarnya mengucapkan Doa Bapa Kami. Seketikan itu aku menoleh ke arahnya. Ia duduk di atas tempat tidurnya, berdoa dengan kedua mata ditutup dan melipat kedua tangannya. Badanku tak bergerak, menunggunya selesai berdoa. Ketika ia membuka matanya, mata kami bertatapan. Aku tersenyum. Kertas-kertas yang baru kupungut itu berhamburan lagi ke lantai. Aku tak peduli.
“What?” tanyanya sambil mengerutkan keningnya.
“Ibu senang sekali, Sayang. Akhirnya kamu hapal doanya,” kataku sambil mendekap tubuhnya yang mungil dan menciumi kedua pipinya. “Kakek pasti senang melihatmu.”
“Dari surga?” tanyanya.
“Tentu. Cucunya yang cantik dan pintar mengucapkan Doa Bapa Kami seperti Kakek.” Kulepaskan kedua tanganku, lalu sibuk menghitung, “Januari, Pebruari, Mar… Kurang dari tiga bulan kamu sudah hapal!” kataku sambil menciuminya.
"Ibu, stop-stop!"
"Oke, maaf, Sayang. Ibu terlalu senang. Sekarang, tidurlah."
“Tapi, Bu!”
“Apa?”
“Bolehkah aku mengucapkan doa lamaku?"
"Tentu. Doa apa pun Tuhan senang.”
Pelan-pelan aku menutup pintu kamarnya. Kejadian itu seperti melepas beban di hatiku. Aku sudah meneruskan kebiasaan Bapak ke anakku. Bagaimana denganmu sendiri? Tiba-tiba perkataan itu melintas di telingaku. Aku?
Aku tercenung. Ya, bagaimana denganku. Aku mengajari Wanda berdoa Bapa Kami sementara aku tidak berdoa. Sesuatu menyentuh hatiku, dan tiba-tiba kedua mataku terasa panas. Ya, Tuhan, apa yang harus kulakukan?
Hati terganggu sementara aku menuruni anak tangga ke ruang keluarga. Suamiku sedang menonton televisi sambil online menggunakan laptop.
"Sayang, ada berita bagus," kataku sambil duduk di sampingnya.
"Oya, apa itu?"
"Wanda sudah hapal Doa Bapa Kami."
“Hm, bagus. Dan kamu senang dengan itu, kan?”
“Yaaa....,” jawabku panjang.
Kemudian aku diam, mataku lurus ke arah televisi. Suamiku menoleh, melebarkan lengannya dan memeluk pundakku, berkata,
“Lalu apa yang mengganggu hatimu sekarang?”
Pertanyaan itu tepat ke jantungku. Apa yang menggangguku sekarang?
“Sayang, sudah saatnya kita berdoa bersama dalam waktu khusus. Hanya keluarga kita. Bagaimana menurutmu?”
Suamiku terdiam. Aku menunggu jawabannya dengan tenang, dan merasa hatiku lebih lega, karena sedikitnya sudah melemparkan gagasan itu.
***
*Fida Abbott, penulis buku Antusiasme, tinggal di Pennsylvania, Amerika. Blog: www.abbottsbooks.com
Tulisan ini telah ditayangkan di Kebun Cerita, Mei 2014: http://kebuncerita.com/?p=1271
Bapak punya kebiasaan, menutup doa-doanya dengan Doa Bapa Kami, bahkan doa makan. Meski doanya panjang, namun tak menjadi masalah bagiku. Hanya sedikit kekhawatiran bila saudara-saudaraku yang lain merasa tidak nyaman. Aku bahkan semakin bersimpati kepada Bapak, mengingatkan aku bahwa Tuhan Yesus yang telah mengajarkan doa tersebut.
Bapak memberikan teladan kepadaku untuk mengikuti jejaknya. Lalu aku memulainya, tapi ternyata susah juga mendisiplin diri menutup doa-doa dengan Doa Bapa Kami. Tampaknya sepele, ternyata tidak.
Dalam doa-doa malam sebelum tidur pun aku pernah mencobanya, tapi hanya bertahan beberapa kali saja. Doa Bapa Kami akhirnya kembali aku ucapkan hanya di setiap kebaktian-kebaktian minggu atau pada acara-acara kebaktian lainnya.
Bapak seorang sederhana. Ia tak banyak bicara. Sikapnya dalam berdoa telah memberikan contoh kepada kami anak-anaknya. Ia selalu melipatkan tangan dan menundukkan kepalanya, berdoa dengan suara yang mantap. Ia menyebutkan satu per satu nama-nama anggota keluarga dengan permohonan, lalu menutupnya dengan Doa Bapa Kami.
Kenangan itu masih kuat di ingatan meski sekarang aku berada jauh ribuan mil dari rumah. Lebih dari sebelas tahun aku tinggal di negeri asing, bersama suami dan anak-anakku, dan sejak itu pun aku belum pernah bertemu muka dengannya lagi selain bercakap-cakap melalui telepon atau mengirimkan surat. Hatiku nelangsa mengingat betapa lama kami tak jumpa.
Mataku masih menyaksikan jalannya ibadah penghiburan dalam layar komputer. Kepalaku mulai menggagas untuk mengajarkan putri bungsuku berdoa Doa Bapa Kami. Mengingat itu, aku bersemangat, menoleh ke arahnya, si delapan tahun, di sisi kananku. Ketiga anakku yang lain, dan suamiku juga ada di ruang keluarga,masing-masing dengan pikirannya sendiri.
Doa Bapa Kami, Doa Bapa Kami. Aku terus mengucapkan kalimat itu dalam hati sambil berpikir, kapan akan mulai mengajarkannya? Waktu itu Desember menjelang.
*
Ya, ampun! Aku baru sadar beberapa hari lalu menerima kiriman gelang plastik warna-warni bertuliskan Doa Bapa Kami yang kupesan. Rencananya, aku akan menghadiahkan gelang itu untuk Wanda, si bungsu, sebagai hadiah Natal, setelah itu mengajaknya menghapal Doa Bapa Kami.
“Kakek selalu mengakhiri doa-doanya dengan Doa Bapa Kami,” kataku malam itu.
Ia hanya diam. Aku memakluminya karena ia belum tahu apa itu Doa Bapa Kami.
“Mau Ibu ajari Doa Bapa Kami?”
Ia hanya menatapku, mengangkat bahu, lalu berlari menjauh, menonton televisi. Aku menghela napas panjang.
Sampai Natal telah lewat, kami belum mulai menghapal Doa Bapa
Kami. Keinginan itu seperti timbul-tenggelam. Ada semacam dorongan melaksanakan keinginan itu sebagai rasa hormatku kepada Bapak, tetapi juga keengganan karena tak tahu bagaimana membuat Wanda tertarik melakukannya. Maklumlah, ia masih kanak-kanak tapi aku memang berhasrat mengajarkannya sedini mungkin.
Sampai satu malam, aku memasukkan baju-baju bersih ke lemarinya, kulihat gelang-gelanghadiah itu lagi, di sudut meja belajarnya, dan di bawahnya tercantum catatan Doa Bapa Kami.
“Wanda!”
Beberapa detik wajahnya muncul di pintu. Aku melambaikan gelang dan kertas doa itu, berkatadengan riang, “Ini Doa Bapa Kami. Ayo, baca!”
“Ahhhh....,” katanya malas.
“Ayolah, Sayang. Mulai malam ini kita belajar menghapal Doa Bapa Kami ya?”
Wanda mengangkat alisnya, mengangkat bahunya.
“Kamu akan berusia sembilan tahun. Sudah besar, jadi harus belajar doa yang lain.”
Senyumnya mengembang. Rupanya ia senang dengan sebutan sudah besar. Sebelum ini dia hanya berdoa sangat sederhana, berterimakasih kepada Tuhan atas hari itu dan memohon penyertaan Tuhan di malam hari sewaktu tidur dan bangun dengan segar keesokan harinya, kemudian amin. Ia lalu mendekat, mengambil kertas berisi Doa Bapa Kami dari tanganku
“Tapi itu doa yang panjang, Bu,” keluhnya setelah beberapa detik memandangi isi kertas itu.
“Lama-lama kalau dibaca tiap malam, akan hapal. Yuk!”
Tak ada bantahan lagi darinya. Ia lalu membaca cepat sambil menjatuhkan dirinya di tempat tidur.
"Kalau berdoa, jangan cepat-cepat. Berdoa itu bicara kepada Tuhan. Kita harus hormat. Berdoa dari dalam hati," kataku lembut.
Ia duduk kembali dan mengulang membacanya lebih pelan.
Begitulah tiap malam kami mengulang Doa Bapa Kami. Tetapi selama itu ia tak menghapal, hanya membaca, dan ia tampak tak berminat. Aku tak tahu harus melakukan apa, namun tetap mendampinginya membaca doa itu sebelum tidur.
Satu malam aku ke kamarnya, dan tak kan mengingatkannya berdoa. Melihat beberapa kertas hasil corat-coret gambarnya berserakan di lantai, aku berniat memungutnya. Sambil memungut satu per satu, aku memperhatikan hasil coretan gambar animenya.
"Duh, putri Ibu satu ini memang punya bakat menggambar. Bagus benar gambar-gambarnya. Mungkin Ibu sendiri tidak bisa menggambar seperti ini," ucapku dengan penuh bangga.
Namun ia tak meresponsnya, malahan aku mendengarnya mengucapkan Doa Bapa Kami. Seketikan itu aku menoleh ke arahnya. Ia duduk di atas tempat tidurnya, berdoa dengan kedua mata ditutup dan melipat kedua tangannya. Badanku tak bergerak, menunggunya selesai berdoa. Ketika ia membuka matanya, mata kami bertatapan. Aku tersenyum. Kertas-kertas yang baru kupungut itu berhamburan lagi ke lantai. Aku tak peduli.
“What?” tanyanya sambil mengerutkan keningnya.
“Ibu senang sekali, Sayang. Akhirnya kamu hapal doanya,” kataku sambil mendekap tubuhnya yang mungil dan menciumi kedua pipinya. “Kakek pasti senang melihatmu.”
“Dari surga?” tanyanya.
“Tentu. Cucunya yang cantik dan pintar mengucapkan Doa Bapa Kami seperti Kakek.” Kulepaskan kedua tanganku, lalu sibuk menghitung, “Januari, Pebruari, Mar… Kurang dari tiga bulan kamu sudah hapal!” kataku sambil menciuminya.
"Ibu, stop-stop!"
"Oke, maaf, Sayang. Ibu terlalu senang. Sekarang, tidurlah."
“Tapi, Bu!”
“Apa?”
“Bolehkah aku mengucapkan doa lamaku?"
"Tentu. Doa apa pun Tuhan senang.”
Pelan-pelan aku menutup pintu kamarnya. Kejadian itu seperti melepas beban di hatiku. Aku sudah meneruskan kebiasaan Bapak ke anakku. Bagaimana denganmu sendiri? Tiba-tiba perkataan itu melintas di telingaku. Aku?
Aku tercenung. Ya, bagaimana denganku. Aku mengajari Wanda berdoa Bapa Kami sementara aku tidak berdoa. Sesuatu menyentuh hatiku, dan tiba-tiba kedua mataku terasa panas. Ya, Tuhan, apa yang harus kulakukan?
Hati terganggu sementara aku menuruni anak tangga ke ruang keluarga. Suamiku sedang menonton televisi sambil online menggunakan laptop.
"Sayang, ada berita bagus," kataku sambil duduk di sampingnya.
"Oya, apa itu?"
"Wanda sudah hapal Doa Bapa Kami."
“Hm, bagus. Dan kamu senang dengan itu, kan?”
“Yaaa....,” jawabku panjang.
Kemudian aku diam, mataku lurus ke arah televisi. Suamiku menoleh, melebarkan lengannya dan memeluk pundakku, berkata,
“Lalu apa yang mengganggu hatimu sekarang?”
Pertanyaan itu tepat ke jantungku. Apa yang menggangguku sekarang?
“Sayang, sudah saatnya kita berdoa bersama dalam waktu khusus. Hanya keluarga kita. Bagaimana menurutmu?”
Suamiku terdiam. Aku menunggu jawabannya dengan tenang, dan merasa hatiku lebih lega, karena sedikitnya sudah melemparkan gagasan itu.
***
*Fida Abbott, penulis buku Antusiasme, tinggal di Pennsylvania, Amerika. Blog: www.abbottsbooks.com
Tulisan ini telah ditayangkan di Kebun Cerita, Mei 2014: http://kebuncerita.com/?p=1271
Wednesday, May 22, 2013
Sabuk Pengamanku
Masih hangat dalam ingatan saya pada dua bulan yang lalu, tepatnya pada tanggal 22 Desember 2006, hari Jumat dini hari antara pukul 4.30 - 4.50 waktu Amerika Bagian Timur, saya mendapatkan kecelakaan mobil. Bagian sebelah kiri mobil saya diserempet oleh truck trailer yang dikemudikan di atas kecepatan normal di perempatan lampu merah. Tampaknya sopirnya berusaha nyelonong pada saat lampu merah menyala.
Foto di atas diambil pada hari yang sama saat terjadinya kecelakaan. Itu baru diserempet saja, belum ditabrak langsung. Mobil saya berputar-putar seperti kitiran setelah diserempet dan akhirnya menabrak badan kanan jalan. Saya mengucap syukur kepada Tuhan karena saat itu tidak ada mobil lain dari arah belakang. Kalau saja ada, saya tidak dapat membayangkan bagaimana keadaannyawaktu itu.
Sekilas saja, pasti Anda berpikir bagaimana parahnya keadaan saya karena dashboard-nya sudah melenceng beberapa derajat dari tempatnya, kemudian pintu mobil sebelah kiri hancur sama sekali. Ternyata apa yang mungkin Anda pikirkan tidak seperti apa yang saya alami. Meski mulut saya penuh dengan pecahan-pecahan serpihan kecil kaca pintu mobil, seluruh rambut dan sekujur badan, juga bagian mata kanan saya temukan beberapa serpihan. Beruntungnya serpihan-serpihan itu tidak melukai saya karena kaca itu di-design sedemikian rupa, sehingga apabila terjadi kecelakaan tidak akan melukai si penumpangnya. Hanya tangan kiri saya berlumuran darah segar karena menghantam pintu kaca sebelah kiri yang berakibat beberapa pecahan kaca masih dapat melukai. Tiga buah jari tengah kiri saya membengkak dan berwarna biru sehingga dokter menyarankan untuk memotong cincin saya agar mempermudah pembersihan dan pengecekan dengan sinar. Dikhawatirkan kemungkinan ada tulang jari yang retak. Ternyata dari hasil pemeriksaan, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Semuanya normal. Puji syukur kepada Tuhan!
Dalam kurun waktu tiga hari, saya merasakan ketidaknyamanan sama sekali. Dari leher hingga seluruh badan saya sakit sekali dan terdapat warna merah biru di sana-sini. Kepala saya terasa aneh seperti ada beban berat yang tertinggal setiap saat saya bangun dari tidur atau setelah menyandarkan badan dan kepala. Suara saya juga berubah seketika. Mungkin mengikuti keadaan otak saya yang masihshock--terguncang. Tetapi setelah dibuat duduk diam sekitar 15 atau 20 menit, maka berangsur-angsur akan normal kembali. Belum lagi kalau dibuat bergerak terus, kepala saya terasa seperti bingung. Akhirnya baru mengetahui dari suami saya kalau kondisi tersebut merupakan proses setelah benturan-benturan keras yang saya alami. Maksudnya, otak saya tidak berkenan dengan keadaan seperti itu, sehingga saya disarankan untuk tidak banyak bergerak, seperti juga yang disarankan oleh dokter dan para perawat di Unit Gawat Darurat. Maklumlah, khan baru pertama kali mengalami kecelakaan yang menurut saya termasuk skala besar. Berangsur-angsur rasa sakit pada badan dan keanehan rasa pada kepala saya berkurang dan akhirnya normal juga dalam hitungan beberapa minggu. Hanya trauma dalam mengemudi saat itu masih saya rasakan. Namun hanya tinggal beberapa persen saja pada saat saya menulis artikel ini.
Lepas dari apa yang telah diceritakan di atas, saya termenung. Kira-kira gerangan apa yang membuat saya tidak terluka parah sama sekali. Saya yakin tentunya semua itu tidak luput dari kebesaran Tuhan. Dia telah menyertai dan melindungi saya sehingga selamat. Melalui peristiwa tersebut, saya diingatkan bahwa iman tanpa tindakan atau perbuatan adalah sia-sia. Apakah tindakan saya waktu itu? Selain selalu berdoa setiap saat sebelum mengemudikan mobil, saya selalu menggunakan sabuk pengaman mobil. Bukan hanya merupakan bagian dari hukum yang patut untuk dipatuhi di negeri Paman Sam ini, tetapi lebih dari itu adalah datang dari kesadaran saya sendiri. Coba kita bayangkan kalau seandainya saya tidak menggunakan sabuk pengaman saat peristiwa itu terjadi. Mungkin saya akan mengalami gegar otak dan badan saya akan tebanting ke kanan dan ke kiri. Tentu saja ini akan membahayakan keadaan saya sendiri.
Untuk itu melalui artikel ini, kita diingatkan agar selalu menggunakan sabuk pengaman mobil ke mana pun kita pergi, entah itu di dalam atau keluar kota, jarak dekat maupun jarak jauh. Karena yang namanya musibah itu datangnya bisa kapan saja, walau kita sudah berhati-hati sekalipun.
Mengapa saya tekankan penggunaan sabuk pengaman ini? Jawabannya, karena di Indonesia masih jauh sekali kesadaran untuk menggunakan sabuk pengaman. Mungkin juga hal ini dikarenakan hukum di Indonesia belum mewajibkan penggunaannya seperti kewajiban menggunakan helm dalam bersepeda motor. Jadi hanya sebatas penyaranan saja. Kalau di negeri Paman Sam ini akan ditindak langsung apabila diketahui si pengemudi mobil dan seluruh penumpangnya tidak menggunakan sabuk pengaman. Tidak tanggung-tanggung, karena dendanya bisa ratusan dollar untuk satu orang saja.
Masih hangat dalam ingatan saat masih di Indonesia. Umumnya saya tidak pernah menggunakan sabuk pengaman, meskipun dalam perjalanan keluar kota. Terkadang hanya si pengemudi saja yang menyematkan sabuk pengamannya apabila memasuki jalan tol. Selepas itu, ya dicopot kembali. Belum lagi terkadang mobil yang ditumpangi biasanya melebihi kapasitas. Mestinya hanya cukup untuk 7 orang saja, tetapi bisa diisi menjadi 8, 9 atau 10 orang. Wah, ini kalau di Amerika sudah didenda ribuan dollar.
Saya berharap melalui pengalaman saya, kiranya dapat mengubah kebiasaan kita dalam mengemudikan mobil. Jadikanlah sabuk pengaman itu yang utama apabila kita masih belum membiasakan diri untuk menggunakannya. Memang rasanya tidak nyaman, tetapi ingatlah, itu demi keselamatan kita sendiri yang berarti juga keselamatan keluarga kita. Kalau sudah menjadikan hal ini sebagai rutinitas setiap saat sebelum menjalankan mobil, maka menggunakan sabuk pengaman akan terasa seperti suatu kebutuhan. Kita tidak akan merasakan tidak nyaman lagi. (*)
Tulisan di atas telah ditayangkan di KabarIndonesia, Rubrik Serba-Serbi, 25 Pebruari 2007: http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=5&dn=20070224232855
Friday, April 5, 2013
Indahnya Surga di Bumi Pertiwi?
Dua jam yang lalu saya berpapasan dengan iring-iringan jemaat lokal gereja Katolik yang sedang melakukan misa berjalan saat baru keluar dari pintu kantor pos. Para jemaat bernyanyi bersama dan seorang Pastor berjalan di depan mereka menopang kayu salib. Mereka tampaknya berjalan memutari lokasi daerah sekitar gereja saja. Mereka tampak damai. Bapak-ibu bergandengan tangan dengan anak-anak mereka. Ada yang mendorong orang tuanya dengan kursi roda, dan ada yang berjalan dengan menggunakan tongkat. Seorang polisi dengan mengendarai mobil menyertai mereka dari belakang sebagai garda lalu-lintas. Ia tersenyum dengan setiap orang yang ia temui, termasuk kepada saya sendiri.
Setiba di rumah, sebelum berangkat kerja, saya online dan mendapatkan sebuah warta dari salah satu surat kabar online Indonesia yang bermarkas di AS. Wartanya adalah mengenai video pembongkaran salah satu gereja HKBP di Jawa Barat: http://www.youtube.com/watch?v=6d7IhKGLeEc&feature=youtu.be. Rencana awalnya akan mengerjakan tugas yang lain, akhirnya hati saya tertambat untuk membuka link tersebut.
Terus terang hati saya menangis setelah menontonnya. Terlepas dari masalah yang mereka sedang hadapi dengan pemerintah setempat. Ingatan saya mengenang kembali saat masih kanak-kanak. Warta semacam itu tidak pernah saya dengar maupun lihat. Namun anak-anak itu mengalami sendiri, bahkan melihatnya saat pembongkaran sedang dilaksanakan. Saat saya masih kanak-kanak, para tetangga saling mengucapkan Selamat Hari Raya yang sedang saya/keluarga rayakan, entah itu Natal atau Paskah. Namun anak-anak itu mendengarkan suara yang menyeterui mereka. Saat masih kanak-kanak, tetangga saya saling mengirimkan makanan saat hari-hari raya mereka, entah itu Maulud, Idul Fitri atau Idul Adha. Namun anak-anak itu mendapatkan makanan penekanan/ketidakadilan. Saat masih kanak-kanak, saya bermain bersama dengan siapa saja, entah itu si hitam, putih, merah, kuning, dan sebagainya. Namun anak-anak itu mungkin hidup seperti di pengasingan. Parahnya, mereka hidup di negara sendiri yang berdasarkan Pancasila.
Terlepas dari masalah yang sedang mereka hadapi, saya yakin bahwa segala sesuatu pasti ada jalan keluar/solusinya. Apalagi negara Indonesia adalah negara hukum dan berdasarkan Pancasila. Yang saya tahu bahwa bila sesuatu sudah mendapatkan ijin resmi sebelumnya, resmi kepemilikannya, bahkan sudah berjalan cukup lama, maka segala sesuatu yang akan diputuskan tidak berlanjut dengan kesewenang-wenangan, apalagi dengan pemaksaan, tetapi melalui prosedur-prosedur yang ada/hukum. Terlepas dari masalah tersebut, hati nurani saya berteriak untuk menulis hal ini, memanggil para pembaca dan pendengar warta ini yang sudah tidak asing lagi di telinga, agar kita yang berwawasan luas, berpendidikan, berhati nurani, dan memiliki hati kasih serta bijaksana, dan tentunya sebagai masyarakat Indonesia yang beraneka ragam untuk kembali bergandengan tangan. Infiltrasi atau gangguan dari dalam negara sendiri jauh lebih berbahaya dari yang datang dari luar dan sudah terbukti lewat sejarah sebelumnya. Mari, jangan lengah! Katakan tidak ada yang dapat memporak-porandakan kesatuan dan persatuan bangsa apa pun bentuknya! Bangsa ini dibangun di atas jutaan darah manusia. Untuk itu mari kita hargai perjuangan para pahlawan kita.
Selain itu kita tentu bersyukur memiliki keindahan bumi Pertiwi yang tidak banyak dimiliki oleh negara lain. Namun bila rakyatnya tidak hidup damai bersatu, keindahan tersebut tidak akan membawa berkat untuk siapa pun di bumi Pertiwi ini. Berkat yang sia-sia dan dapat diambil kembali oleh pemilik-Nya. Tsunami sudahlah cukup untuk kita bahwa Tuhan sudah menunjukkan kuasa-Nya. Segala sesuatu diijinkan terjadi oleh-Nya karena maksud tertentu. Maka kita tak ingin Indonesia seperti Sodom dan Gomora. Kita tak perlu mendapatkan teguran dari Yang Maha Kuasa untuk membuat semua rakyat Indonesia saling bergandengan tangan. Maka berkat keindahan alam tersebut tentunya dapat dinikmati bersama dengan keseimbangan hati, keutuhan cinta kasih, saling menghormati, dan kerukunan hidup bersama.
Inginkah kita hidup berdampingan seperti itu? Siapakah yang tidak ingin hidup dalam cinta kasih? Mari kita ciptakan surga di bumi Ibu Pertiwi, bukan neraka yang merenggut jiwa dan hati. Salam Bhinneka Tunggal Ika dan selamat marayakan Paskah untuk masyarakat Indonesia yang Nasrani. (*)
Sumber foto: Fotosearch
Keterangan: tulisan ini telah tayang di HOKI (rubrik Nasional), Sabtu 30 Maret 2013:
http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=8&jd=Indahnya+Surga+di+Bumi+Pertiwi%3F&dn=20130330035737
Sunday, November 25, 2012
Warna di Hari Ulang Tahun HOKI Keenam
Saat putri saya berusia enam tahun, masih hangat ingatan akan banyaknya
kertas-kertas berserakan di ruangan tamu. Putri saya hampir setiap hari tidak
pernah absen menggambar karakter-karakater favoritnya. Ia bebas berekspresi,
mencoba dan mencoba terus. Ada yang istimewa darinya karena ia tidak suka
menggunakan pensil melainkan pulpen. Apabila gambar-gambar yang disketsanya
tidak berkenan, maka ia menggantinya dengan kertas yang baru dan mencoba
menggambar lagi hingga ia berhasil menggambar karakter yang pas menurut
seleranya.
Waktu terus melaju. Aktifitas menggambar tak pernah absen dalam kesehariannya. Saat ia berusia delapan tahun, kini ia telah mampu menggambar karakter-karakter favoritnya: Vocaloid dengan pulpen dan mewarnainya dengan spidol, pensil warna atau crayon. Hasil guratan gambar dengan penanya menakjubkan, seperti hasil gambar anak usia lima tahun lebih tua darinya.
Kebebasan berkreasi adalah hak setiap insan. Bila kita menghargai hasil kreasi apa pun bentuknya, maka tidak mustahil kita akan banyak menemukan karya-karya yang monumental.
Harian Online KabarIndonesia (HOKI) yang berusia enam tahun pada tanggal 11 November 2012 ini didirikan oleh sebuah Yayasan Non Profit, bernama Yayasan Peduli Indonesia di Belanda. Lahir dari hati nurani yang bersih dari sosok Ibu Elisabeth Widiyati yang bertujuan positif, yaitu sebagai media menggalang aspirasi masyarakat Indonesia di mana pun berada, sehingga suaranya akan menggema ke seantero dunia.
Kebebasan beraspirasi dan mengemukakan pendapat adalah hak setiap insan dan kita patut menghargainya. Bila kebebasan tersebut disalurkan dengan tepat, maka tidak mustahil HOKI yang kini memiliki jumlah pewarta warga lebih dari 12.000 di seluruh dunia ini akan menjadi pusat corong aspirasi yang menjadi sumber input bagi pembangunan Negara.
Untuk itu sebagai Redaktur Pelaksana HOKI, saya menghimbau para pewarta warga HOKI untuk menggalakkan pengetahuannya dalam dunia tulis-menulis. Dengan pengetahuan yang baik, maka aspirasi dan pendapat yang disalurkan tersebut akan benar-benar tertuju pada sasaran. Para pembaca yang terdiri dari berbagai kalangan dari rakyat jelata hingga konglomerat, dari swasta hingga pemerintahan, dari yang rendah pendidikkannya hingga tingkat professor, akan dapat menikmati aspirasi/pendapat/gagasan-gagasan tersebut. Susunan kalimat yang enak dibaca dan runutan cerita yang menarik, serta jenis tulisan yang dipilih, akan menunjukkan siapa gerangan pewarta warga tersebut.
Kita tidak perlu membutuhkan gelar kesarjanaan untuk dapat menulis dengan baik dan benar. Dengan banyak membaca dan berlatih menulis, serta keinginan menambah ilmu di bidang tersebut adalah suatu keharusan. Banyak mereka yang bergelar tinggi pun cukup sulit menulis bercorak jurnalisme/bertutur kecuali untuk keperluan-keperluan skripsi, disertasi, jurnal, dan sejenisnya--yang tentunya tebatas untuk kalangan-kalangan tertentu.
Untuk itulah di usia yang keenam tahun ini, dengan ucapan syukur kepada Tuhan, HOKI akan segera membuka pendaftaran baru pelatihan menulis online Tahun Ajaran V untuk Kelas Umum Angkatan V dan Kelas Khusus Fiksi Angkatan II. Dengan biaya investasi yang sangat ditekan, diharapkan akan banyak menjangkau mereka yang benar-benar ingin meningkatkan pengetahuan dalam dunia tulis-menulis.
Bila di antara para pembaca tulisan ini tertarik, mulailah langkah Anda dengan bergabung menjadi salah satu keluarga besar pewarta warga HOKI. Kemudian berikan keputusan nantinya apakah memang Anda adalah salah satu calon peserta pelatihan menulis online tersebut. Bila Anda seorang blogger, ada peluang untuk berpartisipasi mengikuti Lomba Blogging Idol yang diselenggarakan untuk memeringati HUT HOKI keenam ini. Lomba ini sesuai bagi para blogger yang ingin menambah pengetahuannya dalam penulisan fiksi karena adanya beasiswa yang diberikan untuk pemenang utama dan voucher-voucher lainnya untuk para pemenang dan finalis. Juga dengan adanya hadiah tiga buku berjudul Berburu Honor dengan Artikel kepada tiga orang pemenangnya, akan menambah wawasan. Info lengkap mengenai lomba ini dapat dibaca di http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=25&jd=Lomba+untuk+Para+Blogger+Indonesia+Memeringati+HUT+HOKI+VI&dn=20121015005137
Pada kesempatan ini tidak terlewat sebuah ucapan khusus untuk semua rekan-rekan yang bekerja di belakang layar. Mereka yang bekerja secara sukarela, meluangkan waktu, tenaga dan pikirannya untuk eksisnya kemajuan HOKI, saya ucapkan terima kasih yang tak terkira. Dukungan mereka beserta ribuan pewarta warga merupakan salah satu asset pembangunan bangsa yang cerdas melalui berbagi aspirasi/pendapat/gagasan, pengetahuan, cerita yang membangun untuk kemajuan bangsa. Maka tidak ada salahnya apabila saya menghimbau agar para pewarta HOKI mengirim tulisannya yang benar-benar diedit dengan baik sehingga tidak menyulitkan mereka yang bekerja sukarelawan di belakang layar.
Akhirnya di penghujung tulisan ini, saya ucapkan selamat berkarya, bebaslah berekspresi, dan galilah ilmu bersama Harian Online KabarIndonesia.
SELAMAT ULANG TAHUN HOKI!!! (*)
Tulisan ini telah ditayangkan di HOKI, 11 Nopember 2012
http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=25&jd=Warna+di+Hari+Ulang+Tahun+HOKI+Keenam&dn=20121111004213
Waktu terus melaju. Aktifitas menggambar tak pernah absen dalam kesehariannya. Saat ia berusia delapan tahun, kini ia telah mampu menggambar karakter-karakter favoritnya: Vocaloid dengan pulpen dan mewarnainya dengan spidol, pensil warna atau crayon. Hasil guratan gambar dengan penanya menakjubkan, seperti hasil gambar anak usia lima tahun lebih tua darinya.
Kebebasan berkreasi adalah hak setiap insan. Bila kita menghargai hasil kreasi apa pun bentuknya, maka tidak mustahil kita akan banyak menemukan karya-karya yang monumental.
Harian Online KabarIndonesia (HOKI) yang berusia enam tahun pada tanggal 11 November 2012 ini didirikan oleh sebuah Yayasan Non Profit, bernama Yayasan Peduli Indonesia di Belanda. Lahir dari hati nurani yang bersih dari sosok Ibu Elisabeth Widiyati yang bertujuan positif, yaitu sebagai media menggalang aspirasi masyarakat Indonesia di mana pun berada, sehingga suaranya akan menggema ke seantero dunia.
Kebebasan beraspirasi dan mengemukakan pendapat adalah hak setiap insan dan kita patut menghargainya. Bila kebebasan tersebut disalurkan dengan tepat, maka tidak mustahil HOKI yang kini memiliki jumlah pewarta warga lebih dari 12.000 di seluruh dunia ini akan menjadi pusat corong aspirasi yang menjadi sumber input bagi pembangunan Negara.
Untuk itu sebagai Redaktur Pelaksana HOKI, saya menghimbau para pewarta warga HOKI untuk menggalakkan pengetahuannya dalam dunia tulis-menulis. Dengan pengetahuan yang baik, maka aspirasi dan pendapat yang disalurkan tersebut akan benar-benar tertuju pada sasaran. Para pembaca yang terdiri dari berbagai kalangan dari rakyat jelata hingga konglomerat, dari swasta hingga pemerintahan, dari yang rendah pendidikkannya hingga tingkat professor, akan dapat menikmati aspirasi/pendapat/gagasan-gagasan tersebut. Susunan kalimat yang enak dibaca dan runutan cerita yang menarik, serta jenis tulisan yang dipilih, akan menunjukkan siapa gerangan pewarta warga tersebut.
Kita tidak perlu membutuhkan gelar kesarjanaan untuk dapat menulis dengan baik dan benar. Dengan banyak membaca dan berlatih menulis, serta keinginan menambah ilmu di bidang tersebut adalah suatu keharusan. Banyak mereka yang bergelar tinggi pun cukup sulit menulis bercorak jurnalisme/bertutur kecuali untuk keperluan-keperluan skripsi, disertasi, jurnal, dan sejenisnya--yang tentunya tebatas untuk kalangan-kalangan tertentu.
Untuk itulah di usia yang keenam tahun ini, dengan ucapan syukur kepada Tuhan, HOKI akan segera membuka pendaftaran baru pelatihan menulis online Tahun Ajaran V untuk Kelas Umum Angkatan V dan Kelas Khusus Fiksi Angkatan II. Dengan biaya investasi yang sangat ditekan, diharapkan akan banyak menjangkau mereka yang benar-benar ingin meningkatkan pengetahuan dalam dunia tulis-menulis.
Bila di antara para pembaca tulisan ini tertarik, mulailah langkah Anda dengan bergabung menjadi salah satu keluarga besar pewarta warga HOKI. Kemudian berikan keputusan nantinya apakah memang Anda adalah salah satu calon peserta pelatihan menulis online tersebut. Bila Anda seorang blogger, ada peluang untuk berpartisipasi mengikuti Lomba Blogging Idol yang diselenggarakan untuk memeringati HUT HOKI keenam ini. Lomba ini sesuai bagi para blogger yang ingin menambah pengetahuannya dalam penulisan fiksi karena adanya beasiswa yang diberikan untuk pemenang utama dan voucher-voucher lainnya untuk para pemenang dan finalis. Juga dengan adanya hadiah tiga buku berjudul Berburu Honor dengan Artikel kepada tiga orang pemenangnya, akan menambah wawasan. Info lengkap mengenai lomba ini dapat dibaca di http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=25&jd=Lomba+untuk+Para+Blogger+Indonesia+Memeringati+HUT+HOKI+VI&dn=20121015005137
Pada kesempatan ini tidak terlewat sebuah ucapan khusus untuk semua rekan-rekan yang bekerja di belakang layar. Mereka yang bekerja secara sukarela, meluangkan waktu, tenaga dan pikirannya untuk eksisnya kemajuan HOKI, saya ucapkan terima kasih yang tak terkira. Dukungan mereka beserta ribuan pewarta warga merupakan salah satu asset pembangunan bangsa yang cerdas melalui berbagi aspirasi/pendapat/gagasan, pengetahuan, cerita yang membangun untuk kemajuan bangsa. Maka tidak ada salahnya apabila saya menghimbau agar para pewarta HOKI mengirim tulisannya yang benar-benar diedit dengan baik sehingga tidak menyulitkan mereka yang bekerja sukarelawan di belakang layar.
Akhirnya di penghujung tulisan ini, saya ucapkan selamat berkarya, bebaslah berekspresi, dan galilah ilmu bersama Harian Online KabarIndonesia.
SELAMAT ULANG TAHUN HOKI!!! (*)
Tulisan ini telah ditayangkan di HOKI, 11 Nopember 2012
http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=25&jd=Warna+di+Hari+Ulang+Tahun+HOKI+Keenam&dn=20121111004213
Friday, April 6, 2012
Memandang Salib
pagi merayap kalbu
embun bening berseteru
mentari tampak sayu
ayam berkokok pun bergalut gayu
...
alam seisinya diam
merenung berkias kelam
galau tak bertutur
hilang harap berlantur
dua kayu teronggok bersilang
siapa lihat tak berngiang
membawa harap tak berdendang
lenyap asa pandang siang
hati terisak tak tentu arah
hilang asa mati kata
mulut kelu berucap lirih
apa benar pandang merintih
dua kata bertabur maya
"hina-dina" terpampang nyata
aku ucap tanpa daya
mestinya aku terpampang di sana
Coatesville, 6 April 2012
Selamat Hari Jumat Agung dan menyongsong Paskah
embun bening berseteru
mentari tampak sayu
ayam berkokok pun bergalut gayu
...
alam seisinya diam
merenung berkias kelam
galau tak bertutur
hilang harap berlantur
dua kayu teronggok bersilang
siapa lihat tak berngiang
membawa harap tak berdendang
lenyap asa pandang siang
hati terisak tak tentu arah
hilang asa mati kata
mulut kelu berucap lirih
apa benar pandang merintih
dua kata bertabur maya
"hina-dina" terpampang nyata
aku ucap tanpa daya
mestinya aku terpampang di sana
Coatesville, 6 April 2012
Selamat Hari Jumat Agung dan menyongsong Paskah
Sunday, July 25, 2010
Buah dari Kegundahan Hati
Akhir pekan ini rencana untuk pergi berbelanja dengan mengajak putri bungsu saya merupakan waktu yang kami berdua tunggu-tunggu bersama. Memang sudah lama tak mengajaknya berbelanja oleh karena kesibukan saya.
Sesudah sarapan pagi dengan blueberry pancake yang saya buat sendiri, bersiap-siaplah kami berdua untuk berangkat. Putri saya sangat senang dan saya sendiri pun turut senang melihatnya. Rencana pun saya susun dengan tujuan pertama adalah fotokopi untuk keperluan book signing bulan depan di perspustakaan lokal, kemudian langsung berbelanja. Saya katakan juga kepadanya bahwa setibanya dari berbelanja, akan saya ajak ke perpustakaan lokal untuk mengembalikan buku-buku yang dipinjam sekaligus menyerahkan beberapa flyer book signing ke direktur perpustakaan.
Di tengah jalan, di perempatan lampu merah sekitar 200 meter dari rumah, tiba-tiba mobil yang saya tumpangi mendadak mogok. Saya hidupkan kembali dan berjalan lagi tetapi mogok lagi semenit kemudian, begitu selanjutnya beberapa kali terulang hingga akhirnya saya putuskan untuk kembali pulang. Saat memutuskan akan memutar mobil menuju rumah, mesin mobil mogok terus beberapa kali hingga saya khawatir tidak akan sampai ke rumah dengan segera. Handphone pun tertinggal di rumah sehingga saya pun tak dapat menelepon untuk memberitahukannya kepada suami. Saya katakan kepada putri saya bahwa pagi itu rencana untuk berbelanja saya batalkan yang membuatnya menjadi kecewa.
Dengan menarik napas panjang, saya berharap mesin mobil akan segera hidup kembali. Dengan hanya mengalami dua kali mogok selama perjalanan pulang, sampailah kami berdua di rumah dengan selamat. Tanpa menutupi hati yang kesal, saya ceritakan keadaan mobil tersebut yang memang bukan milik kami. Mobil tersebut adalah sebuah mobil pinjaman dari seseorang yang sedang memperbaiki mobil suami saya. Sedangkan mobil saya sendiri sudah terjual dengan harga yang murah meriah karena kerusakan parah yang memakan biaya lebih banyak untuk memperbaikinya daripada harga mobil itu sendiri. Maka dengan penuh keikhlasan hati, saya harus merelakan mobil tersebut terjual dengan harga yang sangat rendah.
Rencana semula yang tersusun rapi pudar dan putri bungsu saya menjadi sedih. Melihat keadaan tersebut, suami saya pun memutuskan untuk mengambil mobilnya yang memang sudah selesai diperbaiki dan sebelumnya ia berencana untuk mengambilnya hari Minggu, keesokan harinya. Dengan penuh harap, saya berpikir rencana semula akan terwujud sepulang suami mengambil mobilnya.
Ternyata saya kembali menyesal. Suami pulang dengan membawa kabar bahwa rem mobil masih belum bekerja dengan sempurna sehingga ia sangat khawatir apabila saya yang akan mengendarainya sendiri, bahkan ia berkata akan mengantar saya ke tempat kerja minggu depan selama ia belum mendapatkan mobil penggantinya. Hal itu mengartikan bahwa ia harus mengantarkan saya berbelanja dan ia menyanggupinya setelah ia beristirahat siang.
Sinar matahari sangat terik di musim panas hingga sampai pukul tujuh malam. Kalau di Indonesia saat itu matahari sudah menenggelamkan dirinya tetapi tidak di musim panas di Amerika. Matahari masih bersinar dengan megahnya, menyengat kulit seperti layaknya antara pukul sebelas hingga pukul dua siang. Saya berpikir pasti suami saya akan membatalkan niatnya mengantar berbelanja dan ternyata memang benar perkiraan saya. Hati saya bertambah kesal tapi kemudian saya ingat bahwa esok adalah hari Minggu, maka saya bertanya apakah ia akan mengantarkan saya berbelanja setelah sepulang gereja. Ia pun berkata bahwa itulah rencananya, bahkan ia pun akan pergi ke gereja bersama kami berdua.
Di lantai atas kegundahan hati saya masih terasa. Dalam hati saya berkata mengapa masih saja menjadi gundah, bukankah suami sudah bersedia akan menemani berbelanja, bahkan akan pergi bersama ke gereja, sebuah keinginan lama saya akan terwujud setelah ia lama absent dikarenakan pekerjaannya. Mengapa saya tidak bersyukur?
Tiba-tiba hati saya ingin online dan mengingatkan bahwa sudah lama saya tidak memposting lembaran-lembaran pelajaran Sekolah Minggu putri bungsu saya di blognya. Saat itulah tanpa menunda-nunda, saya ambil sebuah lembaran pelajaran Sekolah Minggu yang tertumpuk di atas meja beberapa bulan lalu. Ternyata hati saya sangat terhibur dengan tulisan-tulisan yang tercantum di atas lembaran-lembaran tersebut. Sambil menuliskannya kembali di blog, saya membaca ulang. Memang benar ternyata tulisan-tulisan yang baik memberikan obat mujarab untuk hati, hingga akhirnya saya sendiri menuliskannya di sini.
Tak lama putri bungsu saya datang dengan membawa sekotak makanan, menunjukkannya kepada saya bahwa ia mendapatkannya dari ayahnya. Sepuluh menit kemudian, suami pun datang dengan membawa sepiring makanan yang baru saja dia beli tanpa sepengetahuan saya. Rupanya secara diam-diam ia ingin memberikan sebuah kejutan saat mengetahui kegundahan hati saya. Apakah selanjutnya saya masih tetap bergundah hati? Tentu tidak. Hati saya berubah menjadi senang. Senang oleh karena esok hari suami akan pergi ke gereja bersama, senang oleh karena saya akan diantar suami berbelanja—kegiatan yang sudah lama tidak dilakukan bersama sejak saya mulai bekerja, senang oleh karena saya membaca sesuatu yang memberikan rasa suka cita dan kekuatan hati, senang oleh karena saya dapat menuliskan sesuatu untuk dibagikan kepada sesama setelah lama absent oleh karena kesibukan menyelesaikan penulisan novel, senang oleh karena saat merasa lapar, suami datang dan membawakan sebuah piring berisi makanan. (*)
Tulisan ini telah ditayangkan juga di HOKI dan Cross Written.
Sesudah sarapan pagi dengan blueberry pancake yang saya buat sendiri, bersiap-siaplah kami berdua untuk berangkat. Putri saya sangat senang dan saya sendiri pun turut senang melihatnya. Rencana pun saya susun dengan tujuan pertama adalah fotokopi untuk keperluan book signing bulan depan di perspustakaan lokal, kemudian langsung berbelanja. Saya katakan juga kepadanya bahwa setibanya dari berbelanja, akan saya ajak ke perpustakaan lokal untuk mengembalikan buku-buku yang dipinjam sekaligus menyerahkan beberapa flyer book signing ke direktur perpustakaan.
Di tengah jalan, di perempatan lampu merah sekitar 200 meter dari rumah, tiba-tiba mobil yang saya tumpangi mendadak mogok. Saya hidupkan kembali dan berjalan lagi tetapi mogok lagi semenit kemudian, begitu selanjutnya beberapa kali terulang hingga akhirnya saya putuskan untuk kembali pulang. Saat memutuskan akan memutar mobil menuju rumah, mesin mobil mogok terus beberapa kali hingga saya khawatir tidak akan sampai ke rumah dengan segera. Handphone pun tertinggal di rumah sehingga saya pun tak dapat menelepon untuk memberitahukannya kepada suami. Saya katakan kepada putri saya bahwa pagi itu rencana untuk berbelanja saya batalkan yang membuatnya menjadi kecewa.
Dengan menarik napas panjang, saya berharap mesin mobil akan segera hidup kembali. Dengan hanya mengalami dua kali mogok selama perjalanan pulang, sampailah kami berdua di rumah dengan selamat. Tanpa menutupi hati yang kesal, saya ceritakan keadaan mobil tersebut yang memang bukan milik kami. Mobil tersebut adalah sebuah mobil pinjaman dari seseorang yang sedang memperbaiki mobil suami saya. Sedangkan mobil saya sendiri sudah terjual dengan harga yang murah meriah karena kerusakan parah yang memakan biaya lebih banyak untuk memperbaikinya daripada harga mobil itu sendiri. Maka dengan penuh keikhlasan hati, saya harus merelakan mobil tersebut terjual dengan harga yang sangat rendah.
Rencana semula yang tersusun rapi pudar dan putri bungsu saya menjadi sedih. Melihat keadaan tersebut, suami saya pun memutuskan untuk mengambil mobilnya yang memang sudah selesai diperbaiki dan sebelumnya ia berencana untuk mengambilnya hari Minggu, keesokan harinya. Dengan penuh harap, saya berpikir rencana semula akan terwujud sepulang suami mengambil mobilnya.
Ternyata saya kembali menyesal. Suami pulang dengan membawa kabar bahwa rem mobil masih belum bekerja dengan sempurna sehingga ia sangat khawatir apabila saya yang akan mengendarainya sendiri, bahkan ia berkata akan mengantar saya ke tempat kerja minggu depan selama ia belum mendapatkan mobil penggantinya. Hal itu mengartikan bahwa ia harus mengantarkan saya berbelanja dan ia menyanggupinya setelah ia beristirahat siang.
Sinar matahari sangat terik di musim panas hingga sampai pukul tujuh malam. Kalau di Indonesia saat itu matahari sudah menenggelamkan dirinya tetapi tidak di musim panas di Amerika. Matahari masih bersinar dengan megahnya, menyengat kulit seperti layaknya antara pukul sebelas hingga pukul dua siang. Saya berpikir pasti suami saya akan membatalkan niatnya mengantar berbelanja dan ternyata memang benar perkiraan saya. Hati saya bertambah kesal tapi kemudian saya ingat bahwa esok adalah hari Minggu, maka saya bertanya apakah ia akan mengantarkan saya berbelanja setelah sepulang gereja. Ia pun berkata bahwa itulah rencananya, bahkan ia pun akan pergi ke gereja bersama kami berdua.
Di lantai atas kegundahan hati saya masih terasa. Dalam hati saya berkata mengapa masih saja menjadi gundah, bukankah suami sudah bersedia akan menemani berbelanja, bahkan akan pergi bersama ke gereja, sebuah keinginan lama saya akan terwujud setelah ia lama absent dikarenakan pekerjaannya. Mengapa saya tidak bersyukur?
Tiba-tiba hati saya ingin online dan mengingatkan bahwa sudah lama saya tidak memposting lembaran-lembaran pelajaran Sekolah Minggu putri bungsu saya di blognya. Saat itulah tanpa menunda-nunda, saya ambil sebuah lembaran pelajaran Sekolah Minggu yang tertumpuk di atas meja beberapa bulan lalu. Ternyata hati saya sangat terhibur dengan tulisan-tulisan yang tercantum di atas lembaran-lembaran tersebut. Sambil menuliskannya kembali di blog, saya membaca ulang. Memang benar ternyata tulisan-tulisan yang baik memberikan obat mujarab untuk hati, hingga akhirnya saya sendiri menuliskannya di sini.
Tak lama putri bungsu saya datang dengan membawa sekotak makanan, menunjukkannya kepada saya bahwa ia mendapatkannya dari ayahnya. Sepuluh menit kemudian, suami pun datang dengan membawa sepiring makanan yang baru saja dia beli tanpa sepengetahuan saya. Rupanya secara diam-diam ia ingin memberikan sebuah kejutan saat mengetahui kegundahan hati saya. Apakah selanjutnya saya masih tetap bergundah hati? Tentu tidak. Hati saya berubah menjadi senang. Senang oleh karena esok hari suami akan pergi ke gereja bersama, senang oleh karena saya akan diantar suami berbelanja—kegiatan yang sudah lama tidak dilakukan bersama sejak saya mulai bekerja, senang oleh karena saya membaca sesuatu yang memberikan rasa suka cita dan kekuatan hati, senang oleh karena saya dapat menuliskan sesuatu untuk dibagikan kepada sesama setelah lama absent oleh karena kesibukan menyelesaikan penulisan novel, senang oleh karena saat merasa lapar, suami datang dan membawakan sebuah piring berisi makanan. (*)
Tulisan ini telah ditayangkan juga di HOKI dan Cross Written.
Tuesday, January 19, 2010
Mengalahkan Sang Waktu
Tulisan ini tela dipublikasikan di ALB untuk versi I (tulisan ke-5) dan HOKI untuk versi II (tulisan ke-86).

Sebuah pernyataan umum yang sering kita dengar dan sudah tidak asing lagi di telinga kita adalah Time is Money. Sebenarnya apakah artinya? Secara sederhana megartikan bahwa waktu adalah uang, namun apabila kita telaah lebih mendasar lagi, menurut saya pernyataan itu mengartikan bahwa waktu itu sangatlah berguna, sehingga selayaknyalah kita bijaksana dalam memanfaatkannya.
Status sebagai seorang wanita yang telah berkeluarga dan telah memiliki putra-putri, tentu sangat menguras tenaga dan pikiran, apalagi bila ada embel-embel berikutnya, yaitu bekerja di luar rumah ditambah melakukan beberapa aktifitas sukarelawan, plus kegiatan tulis-menulis. Ini belum seberapa bila dibandingkan ada anggota keluarga yang sakit. Siapakah yang paling repot? Tentu saja seorang Ibu. Belum lagi setiap hari harus memikirkan kira-kira makanan apa yang akan disantap oleh keluarga, baik untuk sarapan pagi, makan siang dan makan malam, ditambah urusan sekolah yang paling tidak seorang Ibu harus mempersiapkan keperluan sekolah atau membantu mengajar anak-anaknya.
Kondisi di atas adalah sebuah contoh yang saya alami sendiri tanpa bantuan seorang pembantu rumah tangga. Dapatkah Anda membayangkan bagaimana sibuknya diri saya? Bahkan dalam kurun waktu sekitar delapan bulan saya dapat menyelesaikan penulisan sebuah novel pertama tanpa melalaikan semua tugas satu pun di atas. Tambahan aktifitas tersebut sangat menguras energi, pikiran dan emosi, apalagi novel tersebut ditulis dalam bahasa kedua saya, yaitu bahasa Inggris. Seminggu setelah menyelesaikan total penulisan, saya tak menyentuh notebook yang biasa saya gunakan untuk menulis novel tersebut. Saat itu pun saya baru sadar betapa besarnya energi, pikiran dan emosi yang terlibat selama kurun waktu penulisan tersebut. Kalau boleh saya katakan, tak ada satu pun kagiatan lainnya yang terganggu, berarti ada satu hal lainnya yang harus saya korbankan. Apakah itu? Tak lain adalah waktu tidur saya yang berkurang.
Saya sadar apabila ingin mencapai sesuatu tujuan yang diinginkan akan ada sesuatu yang harus dikorbankan Dalam hal ini adalah mengurangi waktu tidur saya. Bila Anda memiliki waktu tidur antara 8-10 jam per hari, maka saya berkurang setengahnya. Meskipun begitu ada sesuatu kenikmatan dan kepuasan dalam hati yang tak dapat dibayar oleh apa pun setelah menyelesaikan penulisan itu hingga tuntas, dan itu merupakan obat yang mujarab sepanjang masa.
Apabila Anda pernah mendengar seseorang yang belum berkeluarga dan menyukai dunia tulis-menulis mengatakan tak ada waktu untuk menulis, maka saya katakan orang yang bersangkutan kiranya perlu mengoreksi pernyataannya. Hasrat yang tinggi disertai tekat bulat akan mengalahkan segalanya, termasuk waktu itu sendiri. Ini bukan berarti orang tersebut harus mengurangi waktu tidurnya sebanyak mungkin. Tentu tidak. Maksudnya, waktu itu pasti ada bila diusahakan karena ada niat atau minat yang lebih populer disebut dengan hasrat. Mengambil waktu satu jam untuk menulis setiap minggu tentu ada, apalagi umumnya waktu untuk bekerja adalah selama lima hingga enam hari dalam seminggu. Tentu saja ini berlaku tidak hanya di dunia tulis-menulis, tetapi juga untuk dunia yang lainnya, entah itu untuk sekedar mengembangkan hobi lainnya ataukah untuk berkegiatan sukarelawan.
Kalau seorang ibu rumah tangga dengan segudang kegiatannya, baik di dalam dan di luar rumah, aktifitas-aktifitas online-nya, sukarelawan dan yang tidak, masih dapat menghasilkan sebuah karya cipta dalam dunia tulis-menulis, maka saya yakin mereka yang masih single, belum berkeluarga akan dapat melakukan hal-hal yang lebih besar daripada itu. Bagaimana? Setujukah Anda dengan pernyataan saya tersebut? (*)
Penulis: Ibu rumah tangga, Wal-Mart Associate, pekerja sukarelawan di dunia pendidikan di AS dan media online HOKI

Sebuah pernyataan umum yang sering kita dengar dan sudah tidak asing lagi di telinga kita adalah Time is Money. Sebenarnya apakah artinya? Secara sederhana megartikan bahwa waktu adalah uang, namun apabila kita telaah lebih mendasar lagi, menurut saya pernyataan itu mengartikan bahwa waktu itu sangatlah berguna, sehingga selayaknyalah kita bijaksana dalam memanfaatkannya.
Status sebagai seorang wanita yang telah berkeluarga dan telah memiliki putra-putri, tentu sangat menguras tenaga dan pikiran, apalagi bila ada embel-embel berikutnya, yaitu bekerja di luar rumah ditambah melakukan beberapa aktifitas sukarelawan, plus kegiatan tulis-menulis. Ini belum seberapa bila dibandingkan ada anggota keluarga yang sakit. Siapakah yang paling repot? Tentu saja seorang Ibu. Belum lagi setiap hari harus memikirkan kira-kira makanan apa yang akan disantap oleh keluarga, baik untuk sarapan pagi, makan siang dan makan malam, ditambah urusan sekolah yang paling tidak seorang Ibu harus mempersiapkan keperluan sekolah atau membantu mengajar anak-anaknya.
Kondisi di atas adalah sebuah contoh yang saya alami sendiri tanpa bantuan seorang pembantu rumah tangga. Dapatkah Anda membayangkan bagaimana sibuknya diri saya? Bahkan dalam kurun waktu sekitar delapan bulan saya dapat menyelesaikan penulisan sebuah novel pertama tanpa melalaikan semua tugas satu pun di atas. Tambahan aktifitas tersebut sangat menguras energi, pikiran dan emosi, apalagi novel tersebut ditulis dalam bahasa kedua saya, yaitu bahasa Inggris. Seminggu setelah menyelesaikan total penulisan, saya tak menyentuh notebook yang biasa saya gunakan untuk menulis novel tersebut. Saat itu pun saya baru sadar betapa besarnya energi, pikiran dan emosi yang terlibat selama kurun waktu penulisan tersebut. Kalau boleh saya katakan, tak ada satu pun kagiatan lainnya yang terganggu, berarti ada satu hal lainnya yang harus saya korbankan. Apakah itu? Tak lain adalah waktu tidur saya yang berkurang.
Saya sadar apabila ingin mencapai sesuatu tujuan yang diinginkan akan ada sesuatu yang harus dikorbankan Dalam hal ini adalah mengurangi waktu tidur saya. Bila Anda memiliki waktu tidur antara 8-10 jam per hari, maka saya berkurang setengahnya. Meskipun begitu ada sesuatu kenikmatan dan kepuasan dalam hati yang tak dapat dibayar oleh apa pun setelah menyelesaikan penulisan itu hingga tuntas, dan itu merupakan obat yang mujarab sepanjang masa.
Apabila Anda pernah mendengar seseorang yang belum berkeluarga dan menyukai dunia tulis-menulis mengatakan tak ada waktu untuk menulis, maka saya katakan orang yang bersangkutan kiranya perlu mengoreksi pernyataannya. Hasrat yang tinggi disertai tekat bulat akan mengalahkan segalanya, termasuk waktu itu sendiri. Ini bukan berarti orang tersebut harus mengurangi waktu tidurnya sebanyak mungkin. Tentu tidak. Maksudnya, waktu itu pasti ada bila diusahakan karena ada niat atau minat yang lebih populer disebut dengan hasrat. Mengambil waktu satu jam untuk menulis setiap minggu tentu ada, apalagi umumnya waktu untuk bekerja adalah selama lima hingga enam hari dalam seminggu. Tentu saja ini berlaku tidak hanya di dunia tulis-menulis, tetapi juga untuk dunia yang lainnya, entah itu untuk sekedar mengembangkan hobi lainnya ataukah untuk berkegiatan sukarelawan.
Kalau seorang ibu rumah tangga dengan segudang kegiatannya, baik di dalam dan di luar rumah, aktifitas-aktifitas online-nya, sukarelawan dan yang tidak, masih dapat menghasilkan sebuah karya cipta dalam dunia tulis-menulis, maka saya yakin mereka yang masih single, belum berkeluarga akan dapat melakukan hal-hal yang lebih besar daripada itu. Bagaimana? Setujukah Anda dengan pernyataan saya tersebut? (*)
Penulis: Ibu rumah tangga, Wal-Mart Associate, pekerja sukarelawan di dunia pendidikan di AS dan media online HOKI
Monday, January 4, 2010
Pesan Akhir Tahun
Tulisan ini telah dipublikasikan di KabarIndonesia (tulisan ke-85)

Tidak terasa waktu berlangsung begitu cepat. Rasanya baru saja kita merayakan Tahun Baru beberapa bulan yang lalu dan akhirnya sampailah kita di penghujung tahun. Apakah kita pernah berpikir berapa usia kita nanti di tahun 2010?? Sadarkah kita bahwa kita akan semakin bertambah usia??
Saya sadar bahwa usia tidak pernah akan mundur tetapi terus maju alias semakin bertambah. Itu menandakan bahwa kita semakin tua tahun demi tahun. Namun begitu secara jujur hati saya tak pernah merasakan tua. Rasanya sama seperti sewaktu pertama kali bertemu dengan calon pasangan hidup meski rambut berwarna putih sudah mulai tumbuh satu per satu dan rekan-rekan di tempat kerja masih memanggil saya "Miss" atau "Young Woman". Padahal apabila mereka mengetahui usia saya, kemungkinan kedua mata mereka akan terbelalak.
Memang benar saya tampak lebih muda dari usia saya. Pernah suatu kali ada sebuah pertanyaan dilontarkan kepada saya, kira-kira apa resep awet muda itu. Oleh karena saya tidak siap menjawab pertanyaannya, maka dengan bercanda saya jawab asal saja bahwa saya banyak minum air putih dan makan sayur-mayur. Namun dalam hati saya yakin bahwa unsur utama yang membuat kita awet muda adalah hati kita. Sayangilah sesama Anda seperti menyayangi diri sendiri! Tampaknya mudah tetapi tidak. Nikmatilah hidup ini dan berbahagialah! Tampaknya mudah menjalankannya tetapi tidak juga terutama bagi mereka yang memiliki tingkat ekonomi yang lemah atau yang sedang terjerat hutang. Walaupun begitu hingga sekarang saya pun masih tetap menikmati hidup ini meski sewaktu menulis tulisan ini sedang dilanda batuk dan sakit tenggorokan. Kekayaan pun tidak dimiliki, namun terus terang saya kaya cinta kasih. Cinta kasih ini sangat penting karena sebagai sumber dukungan dalam meraih cita dan harapan, dan cinta serta dukungan dari keluarga dan mereka yang hidup di sekitar kita adalah sangat penting.
Berbicara mengenai cita dan harapan, keduanya membutuhkan tantangan. Tantangan akan membawa kita melangkah lebih maju dan mengarahkan kita menjadi sosok yang positif. Tanpa tantangan, kita tak akan pernah tahu kemampuan kita masing-masing yang telah kita miliki. Jadilah seorang Pemenang meskipun kita belum pernah menjadi Pemenang sekali pun, tetapi kita memiliki hati sebagai seorang Pemenang. Buatlah hidup kita menjadi ladang berkat untuk sesama. Di sanalah kita akan memahami arti hidup ini.
Sebelum mengakhiri tulisan ini, sebuah link video lagu yang berjudul "One Moment in Time" kiranya dapat memberikan inspirasi kepada kita masing-masing:
Selamat Menyongsong Tahun Baru dengan Semangat Baru!!!

Tidak terasa waktu berlangsung begitu cepat. Rasanya baru saja kita merayakan Tahun Baru beberapa bulan yang lalu dan akhirnya sampailah kita di penghujung tahun. Apakah kita pernah berpikir berapa usia kita nanti di tahun 2010?? Sadarkah kita bahwa kita akan semakin bertambah usia??
Saya sadar bahwa usia tidak pernah akan mundur tetapi terus maju alias semakin bertambah. Itu menandakan bahwa kita semakin tua tahun demi tahun. Namun begitu secara jujur hati saya tak pernah merasakan tua. Rasanya sama seperti sewaktu pertama kali bertemu dengan calon pasangan hidup meski rambut berwarna putih sudah mulai tumbuh satu per satu dan rekan-rekan di tempat kerja masih memanggil saya "Miss" atau "Young Woman". Padahal apabila mereka mengetahui usia saya, kemungkinan kedua mata mereka akan terbelalak.
Memang benar saya tampak lebih muda dari usia saya. Pernah suatu kali ada sebuah pertanyaan dilontarkan kepada saya, kira-kira apa resep awet muda itu. Oleh karena saya tidak siap menjawab pertanyaannya, maka dengan bercanda saya jawab asal saja bahwa saya banyak minum air putih dan makan sayur-mayur. Namun dalam hati saya yakin bahwa unsur utama yang membuat kita awet muda adalah hati kita. Sayangilah sesama Anda seperti menyayangi diri sendiri! Tampaknya mudah tetapi tidak. Nikmatilah hidup ini dan berbahagialah! Tampaknya mudah menjalankannya tetapi tidak juga terutama bagi mereka yang memiliki tingkat ekonomi yang lemah atau yang sedang terjerat hutang. Walaupun begitu hingga sekarang saya pun masih tetap menikmati hidup ini meski sewaktu menulis tulisan ini sedang dilanda batuk dan sakit tenggorokan. Kekayaan pun tidak dimiliki, namun terus terang saya kaya cinta kasih. Cinta kasih ini sangat penting karena sebagai sumber dukungan dalam meraih cita dan harapan, dan cinta serta dukungan dari keluarga dan mereka yang hidup di sekitar kita adalah sangat penting.
Berbicara mengenai cita dan harapan, keduanya membutuhkan tantangan. Tantangan akan membawa kita melangkah lebih maju dan mengarahkan kita menjadi sosok yang positif. Tanpa tantangan, kita tak akan pernah tahu kemampuan kita masing-masing yang telah kita miliki. Jadilah seorang Pemenang meskipun kita belum pernah menjadi Pemenang sekali pun, tetapi kita memiliki hati sebagai seorang Pemenang. Buatlah hidup kita menjadi ladang berkat untuk sesama. Di sanalah kita akan memahami arti hidup ini.
Sebelum mengakhiri tulisan ini, sebuah link video lagu yang berjudul "One Moment in Time" kiranya dapat memberikan inspirasi kepada kita masing-masing:
Selamat Menyongsong Tahun Baru dengan Semangat Baru!!!
Saturday, December 26, 2009
Seorang Penolong Dua Hari Menjelang Natal

Tulisan ini dipublikasikan juga di KabarIndonesia (tulisan ke-84), DailyAvocado (tulisan ke-5) dan Cross-Written.
Dua hari menjelang Natal tahun yang lalu, Penulis memiliki pengalaman yang mengesankan. Saat itu ramalan cuaca, baik di televisi dan informasi cuaca online menyebutkan bahwa badai salju akan menerjang dengan suhu di bawah tiga puluh dua derajat Fahrenheit (beberapa derajat di bawah suhu es). Wal-Mart, tempat kerja Penulis sudah mulai tampak sepi menjelang pukul enam malam. Biasanya ratusan customer datang untuk berbelanja, namun malam itu suasana sudah sangat lengang. Rekan-rekan sekerja yang bertugas malam hari hingga dini hari sudah mulai menelepon untuk absen diri, sedangkan rekan-rekan lainnya sudah banyak yang meninggalkan pekerjaan menjelang pukul tujuh malam.
Saat itu Penulis masih bertahan untuk tidak meninggalkan pekerjaan hingga pukul delapan lewat tiga puluh menit waktu Pennsylvania. Beberapa rekan ada yang bersedia tinggal di tempat kerja dan para Manager sudah bersiap sedia untuk tinggal hingga dini hari. Itulah salah satu resiko dan bentuk tanggung jawab para Manager mengingat tempat kerja Penulis tetap buka selama dua puluh empat jam sehari dan tujuh hari dalam seminggu walau badai salju menerjang sekalipun.
Tanpa berpikir bahwa badai salju telah berselang lebih awal, Penulis mengenakan seluruh perlengkapan, dari scarf, kaos tangan dan jaket khusus musim dingin. Ternyata udara di luar sangat super dingin – di luar dugaan Penulis. Salju sudah turun cukup lebat walau permukaan jalan masih belum tertutup salju. Hanya berjalan sekitar tiga puluh meter dari pintu masuk menuju ke mobil, tangan Penulis sudah terasa dingin dan kaku. Sialnya, sewaktu Penulis berusaha membuka pintu mobil, ternyata tidak dapat dibuka. Penulis mencobanya berulang kali tetapi tetap tidak dapat dibuka padahal seingat Penulis, mobil tersebut biar pun keluaran sepuluh tahun yang lalu tidak bermasalah sedikit pun.
Rasa khawatir mulai memuncak sewaktu Penulis melihat di sekitar halaman parkir Wal-Mart yang luasnya seperti lapangan sepak bola yang biasanya ratusan mobil terparkir di sana, saat itu hanya beberapa mobil yang terlihat dan dapat dihitung dengan sepuluh jari saja. Tidak tampak seorang pun lewat dan tak tampak sebuah mobil pun melintas. Akhirnya Penulis mencoba sekali lagi, kali itu untuk keempat pintu – masih tetap tak ada satu pintu pun terbuka. Alamat! Mau tidak mau Penulis harus kembali ke dalam gedung untuk minta pertolongan tapi siapa yang mau menolong di malam hari dengan suhu sedingin itu? Penulis pun ragu-ragu untuk kembali ke gedung. Di satu sisi, tangan Penulis sudah mulai sakit menahan dingin walau sudah dimasukkan ke saku jaket. Tangan Penulis sudah tak dapat merasakan apa-apa selain menahan sakit menahan dinginnya udara.
Tiba-tiba Penulis mendengar suara ‘brak!’ sekitar tiga puluh meter dari lokasi di mana Penulis berdiri di samping mobil. Penulis ingin mengetahui siapa gerangan dan bermaksud meminta pertolongan. Dengan langkah penuh harap dan berlari kecil, di balik beberapa deretan mobil truk, tampak dua orang ‘Pusher’ sedang mengumpulkan puluhan kereta belanja untuk ditarik secara otomatis. Dengan sedikit ragu-ragu, Penulis memberanikan diri untuk meminta pertolongan. Ternyata permohonan Penulis disambut baik oleh seorang di antara mereka berdua. Ia pun mengikuti langkah Penulis ke mobil dan mulai beraksi. Hasilnya sama saja. Pintu mobil masih belum dapat dibuka meskipun posisi kunci sudah terbuka.
Kepanikan mulai menyerang Penulis, sedangkan dinginnya kedua tangan sudah tak dapat dikendalikan lagi. Rasanya Penulis ingin langsung berlari ke dalam gedung. Melihat paniknya Penulis, ia pun berusaha sekali lagi dan menanyakan apakah mobil Penulis memiliki masalah seperti itu sebelumnya. Penulis pun menjawab bahwa mobil itu sehat walafiat. Saat itu Penulis sudah membayangkan alternative akhir - mau tidak mau harus tinggal di dalam gedung bila pintu mobil tak dapat dibuka. Penulis mulai memohon dalam doa di dalam hati, sambil melihat si pria penolong itu masih sibuk berusaha membuka pintu. Rasanya tidak enak bila membiarkannya melakukannya di cuaca yang begitu dinginnya.
Saat Penulis bermaksud untuk mengatakan ‘berhenti saja’ tiba-tiba pintu sebelah kanan terbuka saat ia menariknya sekali lagi. Penulis rasanya ingin mengeluarkan air mata – hampir tidak percaya melihat adegan di depan mata. Ia tampak tersenyum sambil berkata bahwa pintu sudah terbuka dan mempersilahkan Penulis untuk masuk ke dalam mobil. Oleh karena masih terkesan, Penulis mengatakan agar ia tetap membuka pintu itu dan menghampirinya sambil mengucapkan terima kasih dan menyarankannya agar segera pulang karena cuaca yang sangat buruk dan tidak perlu mengkhawatirkan kereta-kereta belanjaan. Penulis katakan bahwa para Manager pun akan memakluminya. Ia pun berkata bahwa kereta-kereta itu adalah pekerjaannya yang terakhir malam itu dan segera akan pulang. Tak lupa Penulis bertanya siapakah namanya dan ia menyebutkan namanya yang sangat sulit untuk diingat. Sebelum masuk ke dalam mobil, Penulis mengucapkan ‘Selamat Natal’ kepadanya. Tanpa diduga ia berjalan mendekat dan memeluk Penulis dengan kedua belah tangannya sambil berkata, “Merry Christmas!” Penulis sangat terharu, rasanya ia mengetahui bagaimana perasaan Penulis yang sangat panik pada saat itu. Penulis bermaksud ingin memberikan sesuatu kepadanya tetapi batal mengingat saat itu Penulis tidak membawa uang ‘cash’. Dengan penuh yakin dan mantap Penulis mengatakan sebelum ia melangkah meninggalkan lokasi di mana Penulis berdiri, “You are my angel. God will bless you!” Ia pun tersenyum dan melambaikan tangan kanannya sambil berkata, “Thank you. Go home soon! Be careful in driving!”
Di dalam mobil selama sekitar lima belas menit Penulis berdiam diri, duduk di kursi mobil hingga kondisi di dalam mobil tidak terlalu dingin sambil meninggikan ‘heater’ secara maksimum. Penulis berupaya mengingat rupa si Penolong tersebut, namun rasanya mustahil. Yang terlihat hanyalah raut mukanya saja yang tertutup topi musim dingin dan dikerudung dengan topi jaketnya. Penulis hanya mengingat si Penolong tersebut berperawakan tinggi dan berkulit hitam. Itu saja, namanya pun sangat susah untuk diingat.
Selama di perjalanan, Penulis tak henti-hentinya mengucap syukur dan berterima kasih akan adanya pertolongan di luar dugaan. Sementara sepanjang perjalanan sudah tampak sangat lengang dan hampir tidak tampak satu pun mobil melintas. Penulis berpikir dalam hati mengapa tidak pulang lebih awal untuk menghindari situasi yang mencekam seperti itu.
Setiba di rumah, Penulis sudah tidak sabar menceritakan kejadian itu kepada sang suami dengan mata agak berkaca-kaca. Penulis katakan kepadanya, “He is my angel” dan memberitahukannya kalau tidak ada pertolongan, mau tidak mau Penulis akan tinggal di gedung hingga keesokan harinya. Penulis bertanya mengapa pintu mobil tak dapat dibuka sama sekali. Suami Penulis menjawab, itu disebabkan cuaca yang sangat dingin, sehingga kebekuan memungkinan hal itu. Penulis tak membuang waktu, berjalan ke dapur dan mengecek alat pengukur suhu udara di luar. Ternyata benar, udara di luar menunjukkan minus tujuh derajat Celcius!
Malam itu Penulis menyertakannya di dalam doa. Penulis yakin meskipun berkat itu tak datang dari Penulis itu sendiri, berkat itu akan datang dari sumber lainnya. Dalam doa Penulis yakin bahwa siapa pun yang menolong sesama dengan ketulusan hati, maka si Penolong tersebut akan mendapatkan bagiannya.
Melalui cerita di atas, kita dapat merenungkan sesuatu, apakah kita juga pernah memanjatkan doa kepada mereka yang membutuhkan pertolongan kita yang tak dapat kita jangkau? Atau hanyakah kita berdoa kepada sesama yang hanya pernah menolong kita saja? Yakinkah Anda bahwa doa dan iman adalah sebuah senjata yang mutakhir kita dalam berkomunikasi dengan sang Pencipta?
Menjelang Natal ini, marilah kita semua mengingat sesuatu, di kala kita membelanjakan begitu banyak uang untuk makanan dan hadiah dalam merayakan Natal, di belahan bumi lainnya masih banyak mereka yang kelaparan dan membutuhkan pertolongan. Ulurkan tangan Anda! Bantuan dalam bentuk apa pun akan sangat membantu, termasuk doa-doa Anda.
Selamat Natal. Kiranya damai Natal senantiasa menyertai kita selamanya. Amin (*)
Thursday, December 17, 2009
Media Online Meningkatkan Kemampuan Menulis

Link Artikel: KabarIndonesia.com (tulisan ke-83 di HOKI)
Dalam kurun waktu hampir sembilan bulan ini saya telah memperpanjang keanggotaan dalam sebuah forum kepenulisan creative writing, tempat para penulis internasional berkumpul untuk saling berbagi ilmu lewat tulisan-tulisan dan review mereka. Salah satu alasan ketertarikan untuk bergabung di dalamnya karena saya memiliki sebuah tujuan, yaitu memperdalam dunia tulis-menulis khusus creative writing dalam menggunakan bahasa kedua saya, yaitu bahasa Inggris. Dengan ditambah faktor biaya keanggotaan yang relative tidak mahal dan waktu yang fleksible merupakan pertimbangan yang turut menjadi bagian dalam mengambil keputusan tersebut.
Apakah yang saya dapatkan setelah bergabung di dalamnya? Sungguh luar biasa, di luar dugaan saya. Selain begitu banyak masukan/ review untuk tulisan-tulisan, rasa percaya diri menulis creative writing dalam bahasa kedua saya semakin meningkat. Hal ini menunjukkan, para pembaca menikmati tulisan-tulisan saya, yang mengartikan bahwa ada kemampuan yang telah digali di dalam diri dan diakui oleh orang lain.
Apakah sebuah pengakuan begitu pentingnya? Tentu tidak mutlak, walau bagaimana pun apresiasi yang diberikan oleh para pembaca merupakan sebuah alat yang tepat dan jitu untuk memacu kekreatifitasan dan motivasi dalam menulis. Kelebihan dan kekurangan saya akan terlihat dan diapresiasi oleh sesama anggota lainnya. Artinya, unsur orang lain atau ilmu dan apresiasi yang didapatkan dari orang lain merupakan salah satu faktor pembantu penyulut meningkatkan kemampuan, selain tentunya datangnya dari diri sendiri.
Beberapa waktu yang lalu, seorang peserta Pelatihan Menulis Online HOKI (PMOH) Angkatan II mengakui bahwa keikutsertaannya dikarenakan kebutuhan untuk memberikan motivasi dalam dirinya untuk tetap menulis, selain meningkatkan kemampuannya dan menambah ilmu dalam dunia tulis-menulis. Dia begitu yakin bahwa para mentor merupakan salah satu sumber motivator selain sebagai pemberi dan sumber ilmu. Kefleksibelan waktu dan biaya yang terjangkau merupakan alasan lainnya juga.
Dua buah cerita di atas merupakan sebagian kecil cerita dari begitu banyak cerita para penulis, baik pemula atau pun yang bukan dalam hal memutuskan dirinya sebelum bergabung dalam sebuah forum atau pelatihan-pelatihan menulis secara online. Tentu saja alasan setiap orang berbeda. Satu hal yang perlu diingat bahwa selama hayat masih dikandung badan, hidup adalah pembelajaran yang tak pernah habis-habisnya (Fida Abbott). Maka, sama halnya dengan dunia tulis-menulis. Apabila Anda merasa sudah hebat dan mengetahui seluruh teori dalam dunia tulis-menulis, jangan pernah mengatakan Anda sudah tidak memerlukan ilmu tulis-menulis itu lagi karena sebenarnya di situlah diketahui letak kebodohan Anda. Kita sekiranya selalu ingat akan satu hal ini bahwa setiap insan diciptakan dengan setiap kelebihan dan kekurangannya masing-masing, maka selayaknyalah apabila Anda adalah tergolong orang yang ‘ter’ atau ‘ahli’ atau yang menguasai begitu banyak ilmu tulis-menulis, maka berpeganglah pada prinsip ilmu padi: semakin berisi semakin merunduk. Sikap dan sepak terjang Anda menunjukkan siapakah Anda (Fida Abbott).
Lalu bagaimanakah dengan mereka yang masih merasa haus dalam ilmu tulis-menulis? Untuk menjawab hal tersebut, Harian Online KabarIndonesia telah membuka kembali Angkatan II Pelatihan Menulis Online HOKI (PMOH). Pendaftaran masih terbuka hingga 4 Januari 2010 pukul 24.00 WIB. Apabila Anda belum pernah mendengar akan wadah PMOH ini, segeralah berkunjung ke http://www.pelatihanmenulis.com/. Anda dapat segera mempelajari terlebih dahulu tentang apa dan siapa PMOH ini, dari sistem, sarana, waktu, para pembimbing dan info-info lainnya yang sekiranya Anda perlu ketahui sebelum mengambil sebuah keputusan untuk bergabung.
Apabila Anda mengajukan pertanyaan apakah PMOH adalah yang terbaik? Jawabannya adalah berasal dari para pesertanya. Sebagai penanggung jawab PMOH, saya tidak akan pernah mengklaim bahwa PMOH adalah Pelatihan Menulis Online terbaik di Indonesia tetapi bersama para mentor dan management PMOH memastikan bahwa kami berusaha memberikan pelayanan yang semakin baik di setiap angkatan. Dedikasi dan kesungguhan para mentor adalah hal yang utama.
Bagaimanakah dengan teori? Apabila Anda memutuskan untuk mengikuti PMOH hanya oleh karena mendapatkan modul-modulnya saja, saya katakan percuma saja karena dengan banyak membaca buku dan mendapatkan informasi dari internet tidaklah susah. Satu hal yang membedakan adalah sebagai peserta, Anda akan dipandu dan belajar disiplin dalam mencapai tujuan pelatihan tersebut.
Dari uraian singkat tersebut di atas, apakah Anda merasa tergelitik untuk melihat apa dan bagaimanakah PMOH tersebut? Saran saya, jangan buang-buang waktu! Kunjungi segera http://www.pelatihanmenulis.com/. Jangan menunggu setahun lagi! Itu artinya Anda akan membuang waktu selama 12 bulan lagi untuk mengikuti PMOH ini. Faktor biaya investasi pun tak akan dijamin akan selalu sama. Pastikan Anda tidak melewatkan untuk membaca kesan-kesan para Peserta PMOH Angkatan I sebagai bukti bahwa para pembimbing PMOH memiliki dedikasi yang tak perlu diragukan lagi.
Khusus untuk seluruh peserta Lomba Blogger HOKI 2009, jangan sia-siakan kesempatan ini karena setiap peserta mendapatkan diskon khusus sebesar 20% dari total biaya investasi. Untuk mengetahui keterangan lebih lengkap, kunjungi segera http://www.pelatihanmenulis.com/!
Jadilah Penulis Handal Bersama PMOH!
Salam sukses!
Fida Abbott
Direktur Pelatihan Menulis Online HOKI (PMOH)
http://www.pelatihanmenulis.com/
Dalam kurun waktu hampir sembilan bulan ini saya telah memperpanjang keanggotaan dalam sebuah forum kepenulisan creative writing, tempat para penulis internasional berkumpul untuk saling berbagi ilmu lewat tulisan-tulisan dan review mereka. Salah satu alasan ketertarikan untuk bergabung di dalamnya karena saya memiliki sebuah tujuan, yaitu memperdalam dunia tulis-menulis khusus creative writing dalam menggunakan bahasa kedua saya, yaitu bahasa Inggris. Dengan ditambah faktor biaya keanggotaan yang relative tidak mahal dan waktu yang fleksible merupakan pertimbangan yang turut menjadi bagian dalam mengambil keputusan tersebut.
Apakah yang saya dapatkan setelah bergabung di dalamnya? Sungguh luar biasa, di luar dugaan saya. Selain begitu banyak masukan/ review untuk tulisan-tulisan, rasa percaya diri menulis creative writing dalam bahasa kedua saya semakin meningkat. Hal ini menunjukkan, para pembaca menikmati tulisan-tulisan saya, yang mengartikan bahwa ada kemampuan yang telah digali di dalam diri dan diakui oleh orang lain.
Apakah sebuah pengakuan begitu pentingnya? Tentu tidak mutlak, walau bagaimana pun apresiasi yang diberikan oleh para pembaca merupakan sebuah alat yang tepat dan jitu untuk memacu kekreatifitasan dan motivasi dalam menulis. Kelebihan dan kekurangan saya akan terlihat dan diapresiasi oleh sesama anggota lainnya. Artinya, unsur orang lain atau ilmu dan apresiasi yang didapatkan dari orang lain merupakan salah satu faktor pembantu penyulut meningkatkan kemampuan, selain tentunya datangnya dari diri sendiri.
Beberapa waktu yang lalu, seorang peserta Pelatihan Menulis Online HOKI (PMOH) Angkatan II mengakui bahwa keikutsertaannya dikarenakan kebutuhan untuk memberikan motivasi dalam dirinya untuk tetap menulis, selain meningkatkan kemampuannya dan menambah ilmu dalam dunia tulis-menulis. Dia begitu yakin bahwa para mentor merupakan salah satu sumber motivator selain sebagai pemberi dan sumber ilmu. Kefleksibelan waktu dan biaya yang terjangkau merupakan alasan lainnya juga.
Dua buah cerita di atas merupakan sebagian kecil cerita dari begitu banyak cerita para penulis, baik pemula atau pun yang bukan dalam hal memutuskan dirinya sebelum bergabung dalam sebuah forum atau pelatihan-pelatihan menulis secara online. Tentu saja alasan setiap orang berbeda. Satu hal yang perlu diingat bahwa selama hayat masih dikandung badan, hidup adalah pembelajaran yang tak pernah habis-habisnya (Fida Abbott). Maka, sama halnya dengan dunia tulis-menulis. Apabila Anda merasa sudah hebat dan mengetahui seluruh teori dalam dunia tulis-menulis, jangan pernah mengatakan Anda sudah tidak memerlukan ilmu tulis-menulis itu lagi karena sebenarnya di situlah diketahui letak kebodohan Anda. Kita sekiranya selalu ingat akan satu hal ini bahwa setiap insan diciptakan dengan setiap kelebihan dan kekurangannya masing-masing, maka selayaknyalah apabila Anda adalah tergolong orang yang ‘ter’ atau ‘ahli’ atau yang menguasai begitu banyak ilmu tulis-menulis, maka berpeganglah pada prinsip ilmu padi: semakin berisi semakin merunduk. Sikap dan sepak terjang Anda menunjukkan siapakah Anda (Fida Abbott).
Lalu bagaimanakah dengan mereka yang masih merasa haus dalam ilmu tulis-menulis? Untuk menjawab hal tersebut, Harian Online KabarIndonesia telah membuka kembali Angkatan II Pelatihan Menulis Online HOKI (PMOH). Pendaftaran masih terbuka hingga 4 Januari 2010 pukul 24.00 WIB. Apabila Anda belum pernah mendengar akan wadah PMOH ini, segeralah berkunjung ke http://www.pelatihanmenulis.com/. Anda dapat segera mempelajari terlebih dahulu tentang apa dan siapa PMOH ini, dari sistem, sarana, waktu, para pembimbing dan info-info lainnya yang sekiranya Anda perlu ketahui sebelum mengambil sebuah keputusan untuk bergabung.
Apabila Anda mengajukan pertanyaan apakah PMOH adalah yang terbaik? Jawabannya adalah berasal dari para pesertanya. Sebagai penanggung jawab PMOH, saya tidak akan pernah mengklaim bahwa PMOH adalah Pelatihan Menulis Online terbaik di Indonesia tetapi bersama para mentor dan management PMOH memastikan bahwa kami berusaha memberikan pelayanan yang semakin baik di setiap angkatan. Dedikasi dan kesungguhan para mentor adalah hal yang utama.
Bagaimanakah dengan teori? Apabila Anda memutuskan untuk mengikuti PMOH hanya oleh karena mendapatkan modul-modulnya saja, saya katakan percuma saja karena dengan banyak membaca buku dan mendapatkan informasi dari internet tidaklah susah. Satu hal yang membedakan adalah sebagai peserta, Anda akan dipandu dan belajar disiplin dalam mencapai tujuan pelatihan tersebut.
Dari uraian singkat tersebut di atas, apakah Anda merasa tergelitik untuk melihat apa dan bagaimanakah PMOH tersebut? Saran saya, jangan buang-buang waktu! Kunjungi segera http://www.pelatihanmenulis.com/. Jangan menunggu setahun lagi! Itu artinya Anda akan membuang waktu selama 12 bulan lagi untuk mengikuti PMOH ini. Faktor biaya investasi pun tak akan dijamin akan selalu sama. Pastikan Anda tidak melewatkan untuk membaca kesan-kesan para Peserta PMOH Angkatan I sebagai bukti bahwa para pembimbing PMOH memiliki dedikasi yang tak perlu diragukan lagi.
Khusus untuk seluruh peserta Lomba Blogger HOKI 2009, jangan sia-siakan kesempatan ini karena setiap peserta mendapatkan diskon khusus sebesar 20% dari total biaya investasi. Untuk mengetahui keterangan lebih lengkap, kunjungi segera http://www.pelatihanmenulis.com/!
Jadilah Penulis Handal Bersama PMOH!
Salam sukses!
Fida Abbott
Direktur Pelatihan Menulis Online HOKI (PMOH)
http://www.pelatihanmenulis.com/
Subscribe to:
Posts (Atom)












