Saturday, December 26, 2020

Aku Bersedia (Puisi)

Aku seorang gadis perawan

memiliki tunangan seorang tukang kayu

Suatu hari aku mendapat pesan

benih hidup akan ditanam

dalam rahimku

Bagaimana aku bisa menolak

jika benih itu akan menyelamatkan manusia

dan membawa kedamaian di bumi

Sulit mengatakan "Ya"

dan juga sulit mengatakan "Tidak"

Aku hanya seorang gadis perawan

tak memiliki kekuatan atau apa pun

Dengan kerendahan hatiku yang terdalam

aku hanya punya sedikit kata untuk kuucapkan

"Aku bersedia" untuk Tuhan yang Maha Kuasa



Diterjemahkan dari I'm Available

22 Desember 2020


Dipersembahkan untuk SaPa (Sastra dan Seni Rupa) Kristiani November 2020-Maret 2021

Saturday, April 11, 2020

Easter This Year (2020)





Easter this Year
we stay home
with breakfast and a laptop
for Easter Sunday service

Easter this year
we stay home
with lunch for three
with no other family members

Easter this year
we stay home
when we go out
keep social distancing 


Easter this year
we stay home
with special hope
no more Covid-19 patients reported

Easter this year
we stay home
with special prayers
for the nation, the world, and the front line teams

Easter this year
we stay home
hoping something special happen
God will show us another rainbow


Amen!



Saturday, April 11, 2020

Berkat di Balik Wabah Corona

Berkat di Balik Wabah Corona

KabarIndonesia - Tahun 2020 ini merupakan tahun bersejarah bagi dunia. Siapa yang tak kenal Covid-19? Makhluk kasat mata ini menjadi populer di mana-mana saat ini. Dia bukan pahlawan dunia yang umumnya dikenang sepanjang masa melainkan sebuah musuh yang dikenal oleh masyarakat seluruh dunia. 

Setelah himbauan dari Gubernur negara bagian Pennsylvania berkumandang, hari Senin pagi, 16 Maret, saya putuskan untuk berangkat kerja dengan menyetir mobil melalui jalan pintas (bypass) yang biasanya selalu saya hindari karena kemacetan di pagi hari. Saat itu suasananya sangat lengang. Untuk pertama kalinya saya jarang mengerem berkali-kali. Mengerem hanya untuk perhentian sebelum lampu merah atau pada saat sebelum membelok. Untuk tiba di kantor ternyata hanya membutuhkan waktu dua puluh menit dibandingkan tiga puluh menit untuk hari-hari kerja dari Senin hingga Jumat bila tak ada kemacetan. Beda sepuluh menit, tentu hasilnya berbeda. Tiba di kantor lebih awal, saya tak perlu terburu-buru mempersiapkan ini dan itu dari menyalakan komputer hingga membuat minuman hangat beserta sarapan ringan sebelum memulai pekerjaan.  

Hari itu adalah hari pertama dihimbau untuk tinggal di rumah. Semua tempat-tempat bisnis diperintahkan untuk tutup, terutama restoran dan mall, termasuk semua sekolah dan universitas kecuali bisnis-bisnis tertentu, misalnya rumah sakit, tempat-tempat praktek privat para dokter, toko-toko retail, bank, dan beberapa lainnya termasuk perusahaan tempat saya bekerja yang bergerak di bidang pemrosesan data/pembayaran. Umumnya banyak perusahaan menonaktifkan pegawainya atau mempekerjakan mereka di rumah.   

Beberapa hari berikutnya amanat dari pemerintah pusat semakin diperketat disebabkan semakin banyak orang yang terinfeksi dan jumlah yang meninggal akibat terjangkit Covid-19 pun meningkat. Himbauan tinggal di rumah diperpanjang dari 14 hari menjadi sebulan. Bank-bank dan rumah sakit serta tempat-tempat praktek privat para dokter yang awalnya dibuka, tak lagi menerima para pelanggan dan pasien. Loket-loket dalam bank ditutup dan hanya melayani lewat pelayanan loket luar untuk para pengendara. Mereka mendorong para pelanggannya untuk menggunakan pelayanan online. Demikian juga rumah sakit. Mereka tak menerima kedatangan para pasien, melainkan berkonsultasi lewat telepon atau video. Tentu saja ruang gawat darurat masih terbuka untuk para pasien yang benar-benar memerlukan pertolongan.   Setiap kali dalam perjalanan pulang kerja dari kantor yang mengambil jalan lain, melewati daerah perbisnisan dan rumah-rumah penduduk, saya menjadi sedih. Tak hanya jalanan saja yang lengang, tapi juga tak tampak banyak orang berseliweran di pertokoan dan jalan-jalan. Rumah-rumah penduduk yang biasa saya lewati semula tak tampak banyak mobil di depan atau di samping rumah mereka. Saat itu hampir semua rumah yang saya lewati tampak memiliki mobil yang diparkir termasuk di jalan-jalan di depan rumah mereka. Itu menunjukkan para penghuninya semua berada di rumah, tidak bekerja dan tidak bersekolah.  

Tak hanya itu saja, seminggu sesudah penutupan tempat-tempat bisnis, sudah banyak pegawai yang dinonaktifkan, sehingga banyak yang mengajukan permohonan ke pemerintah untuk mendapatkan dana pengangguran (unemployment fund). Tentu saja itu diperlukan untuk kebutuhan-kebutuhan dasar seperti kebutuhan hidup sehari-hari dan pembayaran tagihan bulanan. Melihat itu semua, saya melihat balik kepada diri saya, suami, dan putri saya. Saya bersyukur bahwa kami semua sehat walau sejujurnya saya sendiri setiap saat berpikir, bahwa siapa saja dapat terjangkit virus mematikan ini. Siapa yang tak khawatir? Dalam pikiran saya sudah terbayang bagaimana mereka yang sudah ditinggalkan oleh orang-orang terkasih mereka karena penyakit ini, juga banyak tenaga medis yang meninggal setelah bertugas menolong pasien-pasien korban penyakit tersebut. Apa yang terjadi bila itu terjadi pada anggota keluarga saya. Bagaimana saya? Bagaimana putri dan suami saya? Tentu saja masih banyak pertanyaan-pertanyaan lainnya yang berkecamuk dalam pikiran.

Saat saya menulis tulisan ini, sudah banyak orang yang kehilangan pekerjaan dan berharap mendapatkan dana pengangguran secepatnya. Setelah itu entah kapan mereka berkesempatan untuk mendapatkan pekerjaan lagi. Wabah virus ini tentu akan memakan waktu lama untuk membuat dunia bisnis kembali normal. Melihat itu semua, saya bersyukur. Beberapa pekerjaan yang saya miliki masih berjalan semua bahkan semakin ramai. Walau begitu, kondisi pun tak dapat diprediksi. Kondisi buruk dapat terjadi kapan saja dan untuk siapa saja. Hal ini membuat saya berlutut dengan penuh kerendahan hati. Saya benar-benar memanjatkan puji syukur kepada Tuhan atas pemeliharaannya selama ini. Kebutuhan sehari-hari dan tagihan-tagihan bulanan masih dapat dipenuhi tanpa interupsi. Hal ini tetap mengingatkan jika saya sekeluarga harus bijaksana dalam menggunakan berkat Tuhan dalam situasi seperti saat ini untuk hal-hal lainnya di luar prediksi.  

Lalu bagaimana dengan sekolah putri saya? Sebagaimana halnya dengan anak-anak lainnya, tentu putri saya mengalami hal yang sama dengan mereka, yaitu mengalami cara belajar dan mengajar dari tatap muka menjadi pertemuan online. Tentu tak menjadi masalah karena aktivitas online sudah tak asing baginya. Namun ada satu hal yang saya perhatikan di sini yang mana berkat Tuhan dinyatakan dalam dirinya. Putri saya mendapatkan lebih banyak waktu beristirahat dan beradaptasi dengan tugas-tugas sekolah yang sudah ia tinggalkan selama lebih dari dua bulan karena diopname. Kalau seandainya dia tetap masuk sekolah, sangat sulit baginya untuk mengatur waktu mengejar ketinggalan dari tugas-tugas sekolah. Dengan adanya tinggal di rumah, putri saya lebih banyak memiliki waktu dan berkonsentrasi untuk mengerjakan tugas-tugas tersebut, plus proses penyembuhannya pun menjadi lebih cepat. Walau begitu dalam benak saya merasa kasihan dengan anak-anak yang masih diopname di rumah-rumah sakit. Tentu para orang tua dan anggota keluarga tak diperkenankan menengoknya atau mungkin diperkenankan tetapi tetap menjaga jarak sekitar dua meter. Dengan begitu mereka tak dapat menyentuh dan memeluk anak-anak mereka. Tambah menyedihkan apabila anak-anak mereka masih di bawah umur yang masih butuh pelukan dan belaian. Mungkin saja para orang tua atau anggota keluarga mengenakan pakaian PPE (Personal Protective Equipment) untuk dapat bertemu dengan mereka. 

Kekhawatiran saya semakin bertambah saat mengetahui salah satu murid virtual saya ternyata serumah dengan seorang perawat yang sedang merawat pasien-pasien yang terinfeksi Covid-19. Pesan saya kepadanya agar berhati-hati menjaga jarak dan kebersihan dengannya, apalagi rekan serumahnya memiliki anjing. Di akhir percakapan di kelas virtual, saya himbau kepadanya untuk berdoa selain untuk diri sendiri, keluarga, dan teman-teman, juga untuk semua para tim medis agar mereka diberi kekuatan, kesehatan, dan terhindar dari infeksi penyakit tersebut.  

Seusai mengajar malam itu, saya bagikan cerita murid itu kepada suami saya. Di luar perkiraan, dia menanggapi cerita tersebut dengan berkata, “Kalau aku masih bertugas sebagai perawat, saya tidak akan pulang ke rumah. Saya akan tinggal di tempat lain. Saya akan berisiko tinggi tertular penyakit tersebut.” Saat mendengarnya, rasanya ingin berlari mendekapnya dan bersyukur dia sudah tak bertugas lagi sebagai perawat. Tetapi keinginan untuk mendekapnya batal. Saya harus menjaga jarak terutama saat dia sedang mendapatkan serangan batuk. Namun begitu di lubuk yang mendalam, hati saya menangis, sebuah tangisan hati ucapan syukur karena suami saya berada di rumah dengan istri dan putrinya yang sehat.

Sesudah kejadian tersebut, pikiran dan hati saya tidak tentram. Saya sepertinya membutuhkan sesuatu untuk tetap beriman teguh dan berpengharapan kepada Tuhan. Sehari kemudian, saya melihat satu postingan di salah satu grup di facebook. Sebuah doa lengkap yang dikirim oleh seorang admin di grup tersebut. Setelah membacanya, hati saya menjadi tentram. Tulisan doa itu mengingatkan saya bahwa ada banyak orang-orang lain yang berdoa dengan topik yang sama. Saya yakin bahwa dukungan doa orang-orang beriman tidaklah sia-sia. Tuhan akan mendengarkan dan menjawabnya. Tinggal kita patuh atau tidak dalam menjalankan amanat-Nya sebagai hamba-Nya atau sebagai pemimpin bangsa yang dipilih sebagai tangan perantara-Nya untuk menolong bangsanya. Untuk itulah di bawah ini saya sertakan kutipan doa tersebut yang sudah saya terjemahkan dalam Bahasa Indonesia. Mungkin bermanfaat dan meneguhkan kita semua di masa-masa sengsara dan tanda-tanda akhir zaman yang sudah ditampakkan.

“Tuhan, kami terus menjalani pandemi ini dan kami harus mengakui, itu tidak mudah. Tuhan, kami terbiasa berpergian. Kami memahami kebutuhan kami untuk memperlambat dan menghabiskan lebih banyak waktu sendirian dengan-Mu. Kami meminta-Mu membantu untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan kami untuk merayakan Firman-Mu dan menyembah-Mu dalam doa dan pujian. Tuhan, kami tidak tahu berapa lama hal ini akan berlangsung, tetapi kami berterima kasih karena telah memberi kami waktu untuk menyalakan kembali cinta dan hubungan kami dengan-Mu. Tuhan, kami memohon berkatilah kami masing-masing hari ini dengan kehadiran-Mu yang berharga. Berbicaralah kepada kami hari ini, ya Tuhan. Tuhan, tolong kami mendengarkan apa yang ingin Engkau katakan kepada kami. Bantu kami untuk mengambil keuntungan dari peluang yang kami miliki untuk menjadi saksi bagi-Mu di hadapan keluarga kami, secara online, dan di mana pun Engkau membuka pintu bagi kami. Tuhan, tolonglah kami untuk memperhatikan kebutuhan kami untuk menjunjung tinggi pemimpin publik dan spiritual kami dalam doa. Bantu kami untuk mengingat dan juga berdoa bagi para petugas kesehatan yang menempatkan diri mereka dalam risiko harian merawat mereka yang terkena virus ini. Kami juga memohon kepada-Mu menjaga polisi, petugas pemadam kebakaran, dan orang lain yang melayani untuk melindungi dan membantu kami. Tuhan, tolonglah kami untuk keluar dari masa yang tidak biasa ini dalam sejarah kami sebagai orang-orang beriman yang kuat dan para pelayan serta saksi yang lebih baik untuk-Mu. Di dalam nama Yesus; kami berdoa.” ((Jim Hughes, Admin pada grup Christian Authors Book Marketing Strategies di facebook)***

Diterbitkan di HOKI, 9 April 2020

Saus Sate Indonesia Buatan Thailand

Saus Sate Indonesia Buatan Thailand
Saus sate Indonesia ini saya temukan di toko kelontong daerah Chester, negara bagian Pennsylvania, AS. Harganya turun drastis dari $6.99 menjadi $0.99. Jumlahnya banyak sekali yang disetok di rak. Senang melihat salah satu saus terkenal Indonesia dijual di AS. Sayangnya, setelah saya cek, ternyata bukan buatan Indonesia, melainkan Thailand. Tampaknya Indonesia harus segera meningkatkan persaingannya di pasar bebas dan jeli membidik produk mana yang dapat diandalkan dengan pangsa pasar yang luas.


Diterbitkan di HOKI, 22 Maret 2020

Easter This Year (2018)


Image may contain: food
Easter This Year

My Easter this year will be different
No colored eggs
Or decorated eggs,
Just deep-felt love
For Christ, so dear.

My daughter's Easter this year will be different
No Easter basket
Full of fluff,
No jelly beans
And other stuff.

My husband's Easter this year will be different
No Kit-Kat, no m & m's
Or other Easter chocolates
He likes
On the table in the living room

Our Easter this year will be different
No Will
No Fran
No Em
Sitting around the dinning table together

Our Easter this year will be the same
We'll go to church
Pray and sing Alleluia!
Listen to the message
He's risen!

Our Easter this year will bring hope
For me
For my husband
For my family
For brighter future

Thank you God
For your love
For your sacrifice
For your promise
And for your blessings.

Amen!



(by Fida Abbott, March 31, 2018)