Showing posts with label Artikel. Show all posts
Showing posts with label Artikel. Show all posts

Saturday, April 11, 2020

Berkat di Balik Wabah Corona

Berkat di Balik Wabah Corona

KabarIndonesia - Tahun 2020 ini merupakan tahun bersejarah bagi dunia. Siapa yang tak kenal Covid-19? Makhluk kasat mata ini menjadi populer di mana-mana saat ini. Dia bukan pahlawan dunia yang umumnya dikenang sepanjang masa melainkan sebuah musuh yang dikenal oleh masyarakat seluruh dunia. 

Setelah himbauan dari Gubernur negara bagian Pennsylvania berkumandang, hari Senin pagi, 16 Maret, saya putuskan untuk berangkat kerja dengan menyetir mobil melalui jalan pintas (bypass) yang biasanya selalu saya hindari karena kemacetan di pagi hari. Saat itu suasananya sangat lengang. Untuk pertama kalinya saya jarang mengerem berkali-kali. Mengerem hanya untuk perhentian sebelum lampu merah atau pada saat sebelum membelok. Untuk tiba di kantor ternyata hanya membutuhkan waktu dua puluh menit dibandingkan tiga puluh menit untuk hari-hari kerja dari Senin hingga Jumat bila tak ada kemacetan. Beda sepuluh menit, tentu hasilnya berbeda. Tiba di kantor lebih awal, saya tak perlu terburu-buru mempersiapkan ini dan itu dari menyalakan komputer hingga membuat minuman hangat beserta sarapan ringan sebelum memulai pekerjaan.  

Hari itu adalah hari pertama dihimbau untuk tinggal di rumah. Semua tempat-tempat bisnis diperintahkan untuk tutup, terutama restoran dan mall, termasuk semua sekolah dan universitas kecuali bisnis-bisnis tertentu, misalnya rumah sakit, tempat-tempat praktek privat para dokter, toko-toko retail, bank, dan beberapa lainnya termasuk perusahaan tempat saya bekerja yang bergerak di bidang pemrosesan data/pembayaran. Umumnya banyak perusahaan menonaktifkan pegawainya atau mempekerjakan mereka di rumah.   

Beberapa hari berikutnya amanat dari pemerintah pusat semakin diperketat disebabkan semakin banyak orang yang terinfeksi dan jumlah yang meninggal akibat terjangkit Covid-19 pun meningkat. Himbauan tinggal di rumah diperpanjang dari 14 hari menjadi sebulan. Bank-bank dan rumah sakit serta tempat-tempat praktek privat para dokter yang awalnya dibuka, tak lagi menerima para pelanggan dan pasien. Loket-loket dalam bank ditutup dan hanya melayani lewat pelayanan loket luar untuk para pengendara. Mereka mendorong para pelanggannya untuk menggunakan pelayanan online. Demikian juga rumah sakit. Mereka tak menerima kedatangan para pasien, melainkan berkonsultasi lewat telepon atau video. Tentu saja ruang gawat darurat masih terbuka untuk para pasien yang benar-benar memerlukan pertolongan.   Setiap kali dalam perjalanan pulang kerja dari kantor yang mengambil jalan lain, melewati daerah perbisnisan dan rumah-rumah penduduk, saya menjadi sedih. Tak hanya jalanan saja yang lengang, tapi juga tak tampak banyak orang berseliweran di pertokoan dan jalan-jalan. Rumah-rumah penduduk yang biasa saya lewati semula tak tampak banyak mobil di depan atau di samping rumah mereka. Saat itu hampir semua rumah yang saya lewati tampak memiliki mobil yang diparkir termasuk di jalan-jalan di depan rumah mereka. Itu menunjukkan para penghuninya semua berada di rumah, tidak bekerja dan tidak bersekolah.  

Tak hanya itu saja, seminggu sesudah penutupan tempat-tempat bisnis, sudah banyak pegawai yang dinonaktifkan, sehingga banyak yang mengajukan permohonan ke pemerintah untuk mendapatkan dana pengangguran (unemployment fund). Tentu saja itu diperlukan untuk kebutuhan-kebutuhan dasar seperti kebutuhan hidup sehari-hari dan pembayaran tagihan bulanan. Melihat itu semua, saya melihat balik kepada diri saya, suami, dan putri saya. Saya bersyukur bahwa kami semua sehat walau sejujurnya saya sendiri setiap saat berpikir, bahwa siapa saja dapat terjangkit virus mematikan ini. Siapa yang tak khawatir? Dalam pikiran saya sudah terbayang bagaimana mereka yang sudah ditinggalkan oleh orang-orang terkasih mereka karena penyakit ini, juga banyak tenaga medis yang meninggal setelah bertugas menolong pasien-pasien korban penyakit tersebut. Apa yang terjadi bila itu terjadi pada anggota keluarga saya. Bagaimana saya? Bagaimana putri dan suami saya? Tentu saja masih banyak pertanyaan-pertanyaan lainnya yang berkecamuk dalam pikiran.

Saat saya menulis tulisan ini, sudah banyak orang yang kehilangan pekerjaan dan berharap mendapatkan dana pengangguran secepatnya. Setelah itu entah kapan mereka berkesempatan untuk mendapatkan pekerjaan lagi. Wabah virus ini tentu akan memakan waktu lama untuk membuat dunia bisnis kembali normal. Melihat itu semua, saya bersyukur. Beberapa pekerjaan yang saya miliki masih berjalan semua bahkan semakin ramai. Walau begitu, kondisi pun tak dapat diprediksi. Kondisi buruk dapat terjadi kapan saja dan untuk siapa saja. Hal ini membuat saya berlutut dengan penuh kerendahan hati. Saya benar-benar memanjatkan puji syukur kepada Tuhan atas pemeliharaannya selama ini. Kebutuhan sehari-hari dan tagihan-tagihan bulanan masih dapat dipenuhi tanpa interupsi. Hal ini tetap mengingatkan jika saya sekeluarga harus bijaksana dalam menggunakan berkat Tuhan dalam situasi seperti saat ini untuk hal-hal lainnya di luar prediksi.  

Lalu bagaimana dengan sekolah putri saya? Sebagaimana halnya dengan anak-anak lainnya, tentu putri saya mengalami hal yang sama dengan mereka, yaitu mengalami cara belajar dan mengajar dari tatap muka menjadi pertemuan online. Tentu tak menjadi masalah karena aktivitas online sudah tak asing baginya. Namun ada satu hal yang saya perhatikan di sini yang mana berkat Tuhan dinyatakan dalam dirinya. Putri saya mendapatkan lebih banyak waktu beristirahat dan beradaptasi dengan tugas-tugas sekolah yang sudah ia tinggalkan selama lebih dari dua bulan karena diopname. Kalau seandainya dia tetap masuk sekolah, sangat sulit baginya untuk mengatur waktu mengejar ketinggalan dari tugas-tugas sekolah. Dengan adanya tinggal di rumah, putri saya lebih banyak memiliki waktu dan berkonsentrasi untuk mengerjakan tugas-tugas tersebut, plus proses penyembuhannya pun menjadi lebih cepat. Walau begitu dalam benak saya merasa kasihan dengan anak-anak yang masih diopname di rumah-rumah sakit. Tentu para orang tua dan anggota keluarga tak diperkenankan menengoknya atau mungkin diperkenankan tetapi tetap menjaga jarak sekitar dua meter. Dengan begitu mereka tak dapat menyentuh dan memeluk anak-anak mereka. Tambah menyedihkan apabila anak-anak mereka masih di bawah umur yang masih butuh pelukan dan belaian. Mungkin saja para orang tua atau anggota keluarga mengenakan pakaian PPE (Personal Protective Equipment) untuk dapat bertemu dengan mereka. 

Kekhawatiran saya semakin bertambah saat mengetahui salah satu murid virtual saya ternyata serumah dengan seorang perawat yang sedang merawat pasien-pasien yang terinfeksi Covid-19. Pesan saya kepadanya agar berhati-hati menjaga jarak dan kebersihan dengannya, apalagi rekan serumahnya memiliki anjing. Di akhir percakapan di kelas virtual, saya himbau kepadanya untuk berdoa selain untuk diri sendiri, keluarga, dan teman-teman, juga untuk semua para tim medis agar mereka diberi kekuatan, kesehatan, dan terhindar dari infeksi penyakit tersebut.  

Seusai mengajar malam itu, saya bagikan cerita murid itu kepada suami saya. Di luar perkiraan, dia menanggapi cerita tersebut dengan berkata, “Kalau aku masih bertugas sebagai perawat, saya tidak akan pulang ke rumah. Saya akan tinggal di tempat lain. Saya akan berisiko tinggi tertular penyakit tersebut.” Saat mendengarnya, rasanya ingin berlari mendekapnya dan bersyukur dia sudah tak bertugas lagi sebagai perawat. Tetapi keinginan untuk mendekapnya batal. Saya harus menjaga jarak terutama saat dia sedang mendapatkan serangan batuk. Namun begitu di lubuk yang mendalam, hati saya menangis, sebuah tangisan hati ucapan syukur karena suami saya berada di rumah dengan istri dan putrinya yang sehat.

Sesudah kejadian tersebut, pikiran dan hati saya tidak tentram. Saya sepertinya membutuhkan sesuatu untuk tetap beriman teguh dan berpengharapan kepada Tuhan. Sehari kemudian, saya melihat satu postingan di salah satu grup di facebook. Sebuah doa lengkap yang dikirim oleh seorang admin di grup tersebut. Setelah membacanya, hati saya menjadi tentram. Tulisan doa itu mengingatkan saya bahwa ada banyak orang-orang lain yang berdoa dengan topik yang sama. Saya yakin bahwa dukungan doa orang-orang beriman tidaklah sia-sia. Tuhan akan mendengarkan dan menjawabnya. Tinggal kita patuh atau tidak dalam menjalankan amanat-Nya sebagai hamba-Nya atau sebagai pemimpin bangsa yang dipilih sebagai tangan perantara-Nya untuk menolong bangsanya. Untuk itulah di bawah ini saya sertakan kutipan doa tersebut yang sudah saya terjemahkan dalam Bahasa Indonesia. Mungkin bermanfaat dan meneguhkan kita semua di masa-masa sengsara dan tanda-tanda akhir zaman yang sudah ditampakkan.

“Tuhan, kami terus menjalani pandemi ini dan kami harus mengakui, itu tidak mudah. Tuhan, kami terbiasa berpergian. Kami memahami kebutuhan kami untuk memperlambat dan menghabiskan lebih banyak waktu sendirian dengan-Mu. Kami meminta-Mu membantu untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan kami untuk merayakan Firman-Mu dan menyembah-Mu dalam doa dan pujian. Tuhan, kami tidak tahu berapa lama hal ini akan berlangsung, tetapi kami berterima kasih karena telah memberi kami waktu untuk menyalakan kembali cinta dan hubungan kami dengan-Mu. Tuhan, kami memohon berkatilah kami masing-masing hari ini dengan kehadiran-Mu yang berharga. Berbicaralah kepada kami hari ini, ya Tuhan. Tuhan, tolong kami mendengarkan apa yang ingin Engkau katakan kepada kami. Bantu kami untuk mengambil keuntungan dari peluang yang kami miliki untuk menjadi saksi bagi-Mu di hadapan keluarga kami, secara online, dan di mana pun Engkau membuka pintu bagi kami. Tuhan, tolonglah kami untuk memperhatikan kebutuhan kami untuk menjunjung tinggi pemimpin publik dan spiritual kami dalam doa. Bantu kami untuk mengingat dan juga berdoa bagi para petugas kesehatan yang menempatkan diri mereka dalam risiko harian merawat mereka yang terkena virus ini. Kami juga memohon kepada-Mu menjaga polisi, petugas pemadam kebakaran, dan orang lain yang melayani untuk melindungi dan membantu kami. Tuhan, tolonglah kami untuk keluar dari masa yang tidak biasa ini dalam sejarah kami sebagai orang-orang beriman yang kuat dan para pelayan serta saksi yang lebih baik untuk-Mu. Di dalam nama Yesus; kami berdoa.” ((Jim Hughes, Admin pada grup Christian Authors Book Marketing Strategies di facebook)***

Diterbitkan di HOKI, 9 April 2020

Friday, August 31, 2018

Peran Serta Ita Siregar dalam Mengembangkan Dunia Sastra Kristen di Indonesia

Peran Serta Ita Siregar dalam Mengembangkan Dunia Sastra Kristen di Indonesia

Berkenalan dengan sosok Ita Siregar beberapa tahun lalu bukanlah suatu hal yang kebetulan. Saya bertemu dengannya lewat salah satu media sosial terbesar di dunia, yaitu facebook, melalui sebuah grup penulisan. Facebook memungkinkan siapa pun berkenalan dengan mudah walau berada dengan jarak yang berbeda ribuan mil. 

Lulusan dari Universitas Padjajaran Bandung, Fakultas Komunikasi, jurusan Jurnalistik ini sudah menulis sejak SMP kelas tiga. Cerpen-cerpennya pernah dimuat di majalah Anita Cemerlang (sekarang sudah tidak ada), Femina, Media Indonesia, dan lain-lain. Ia juga seorang penulis biografi dan novel. Ternyata perannya yang aktif di kancah dunia sastra membawa dirinya mulai turut andil dalam mengembangkan literatur Kristen Indonesia khusus di bidang sastra. Tentu kita patut menyambutnya dengan baik, mengingat masih tidak banyak para penulis Kristen yang berperan aktif dalam dunia penulisan sastra di Indonesia.

Untuk lebih mengenal lebih dekat mengenai sosok yang seringkali membantu Federasi Teater Indonesia yang diketuai oleh Radhar Panca Dahana, seorang budayawan Indonesia, dan bersama teman-temannya pernah mengadakan acara Festival Sastra dan Rupa Kristiani 2010, mari ikuti wawancara berikut ini:

1. Salah satu peran aktif Anda di dunia sastra adalah di Majalah Litera. Majalah apakah itu dan apa yang menjadi tanggung jawab Anda di susunan Tim Majalah Litera? Apakah Anda adalah penemu/penggagasnya termasuk yang memimpinnya?

Majalah Litera adalah majalah sastra yang mengutamakan tema-tema kemanusiaan-keberagaman-spiritualitas. Saya menggagas majalah ini. Sebelumnya adalah Majalah Kebuncerita dan Website kebuncerita.com sejak 2013. Kemudian Desember 2016 ganti menjadi Litera dan Website Litera.id seiring Penerbit Komunikasi Bina Kasih mengadopsi Majalah Litera di bawah naungannya.


Awalnya saya tertarik dengan cerita-cerita dalam Kitab Suci (Alkitab) dan sering membayangkan menulis ulang cerita-cerita itu dan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi bila cerita dikembangkan atau ditarik ke masa sekarang, atau diperhadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan aktual masa kini. Membaca dengan cara ini memungkinkan dan membebaskan saya melihat hal-hal baru dilihat dari sisi budaya di mana teks itu dibuat dengan konteks saya sekarang. Banyak hal yang bisa terlibat dan dilibatkan di sana. Begitulah sebenarnya kita bisa menulis cerita-cerita kita sendiri berdasarkan kitab suci. Karena pada dasarnya menurut saya, kisah dalam kitab suci itu adalah model atau sejarah bagaimana manusia dapat bertahan hidup atau mempertahankan kehidupan karena peran Tuhan di dalamnya. 

Lama setelah itu, saya bertemu beberapa orang, terutama dengan teolog yang mengatakan bahwa dalam teologi ada yang disebut dengan reading bible with new eyes atau membaca Alkitab dengan mata baru. Konsep ini digagas oleh para teolog Taiwan dan meluas di seluruh Asia karena kenyataan kemiskinan di Asia dan pada umumnya penduduknya multi agama/keyakinan/etnik. Selama ini mimbar-mimbar gereja kita memandang dengan atau secara (tafsir) barat, yang cenderung melihat dari atas ke bawah (pemenang, anak sulung, bangsa terpilih, Allah yang berpihak, dan lain-lain. Tampaknya kurang mendalami cerita dari bawah ke atas (misalnya dari sisi budak, pekerja, istri kedua, bangsa tidak terpilih, bangsa dengan dewa-dewa dan kebudayaan yang berbeda, danlain-lain). Dalam hal ini penceritaan kembali kisah-kisah dalam kitab suci secara sastra akan melengkapi apa yang bolong atau melonggarkan kepadatan cerita, menemukan benang merah, makna baru, danlain-lain, dan tentu saja kekayaan cerita-cerita yang baru dengan berbagai versi (etnik, latar belakang, budaya, dll).

Sebenarnya beberapa penulis (kristiani) telah memproduksi karya-karya tersebut dalam bentuk cerpen atau puisi secara individu. Dalam hal ini, Majalah Litera berharap menjadi wadah untuk menghadirkan karya-karya serupa, non denominasi. Siapa pun pembaca Kitab Suci boleh menceritakan ulang resepsinya ketika membaca. Cerita-cerita ini akan terbuka untuk dibaca oleh siapa pun, kita dan sesama (baca: yang berkeyakinan atau agama lain), untuk dipahami oleh mereka, bahwa kita pun memiliki cerita-cerita berikut konflik dan masalah sendiri dalam meresepsi kitab suci dalam keseharian kita. Demikian singkatnya.     
 
 Sedianya Majalah ini hadir rutin ke pembacanya namun belum dapat memenuhi harapan, yang terutama alasan dana dan karya-karya yang bagus, belum secara reguler didapat. Masih terus berjuang menghadirkan yang terbaik meski sampai sekarang belum memuaskan. 

Susunan Tim Litera adalah teman-teman relawan yang bersedia membantu dan bekerja dalam kegiatan-kegiatan yang diadakan Litera. 

2. Sudah berapa lama Majalah Litera ini terbit? Apa yang menjadi potensi utama sehingga Majalah Litera ini terbit?

Majalah Litera terbit sejak Desember 2016. Namun sampai sekarang masih berhasil 3 edisi cetakan baru. Potensi terutama di Indonesia adalah kantong-kantong Kristen - katakanlah Batak, Nias, Toraja, Manado, Maluku, Nusa Tenggara Timur, Papua, Jawa, Sunda - yang, dalam menerima kitab suci dan berusaha patuh dan taat pada firman, ada tarik-ulur, berkenaan dengan benturan dengan agama lokal yang lebih dulu ada. Cerita-cerita itu belum pernah dengan serius diadakan dan digarap dengan benar. Kalau terjadi, hal itu akan menjadi parade cerita yang sangat-sangat menarik. Kita akan belajar dari identitas diri kita, sejarah kita di belakang, terutama bagaimana gereja-gereja tradisi dibentuk, dan berusaha bertahan hidup.
  

3. Apa misi dan visi Majalah Litera ini dan di mana lokasi kantor redaksinya?

Visi Litera adalah masyarakat/gereja yang literer dan bereligiositas. Misi, menghadirkan/memproduksi sastra berdasarkan kitab suci, yang mengangkat nilai-nilai kristiani sebagai sumbangan bagi khazanah sastra Indonesia.Litera berkantor di Gedung Yayasan Komunikasi Bina Kasih, Jl Letjen Suprapto 30D-E, Cempaka Putih, Jakarta Pusat. 

4. Apa alasan dan tujuan Majalah Litera memilih sebelas cerpen di antara puluhan cerpen lainnya yang telah diterbitkan sebelumnya dan menjadikannya sebagai sebuah buku kumpulan cerpen berjudul Rahel Pergi ke Surga Sendiri?

Sebelas cerpen ini memudahkan orang mengoleksi dan menikmati cerita-ceritanya, dan memperkenalkan (lagi) model-model cerita yang memungkinkan dari gagasan sastra kitab suci  ini.
 

5. Apa rencana Redaktur Majalah Litera setelah penerbitan buku tersebut?

Bersama Seruni (Seni Rupa Kristiani) dan PGI (Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia) Biro Pemuda & Remaja akan menyelenggarakan Festival Sastra & Rupa Kristiani pada Mei 2018.  

6. Siapakah target pembaca buku kumpulan cerpen tersebut dan bagaimana mendapatkannya?

Target pembaca terutama gereja dan mereka yang menyukai sastra. Buku tersebut sementara ini didapat secara online, Iklannya dapat dilihat di medsos Majalah Litera. Berikutnya akan ada di toko-toko buku Kristen seperti TB BPK Gunung Mulia, TB Immanuel, TB Kalam Hidup. Sementara baru di Jabodetabek dan Bandung. Di luar daerah tersebut dapat memesan via online. 

7. Bagaimana pembaca memperoleh Majalah Litera secara cetak dan membacanya secara online?

Majalah Litera cetak dapat dibeli di TB BPK Gunung Mulia, TB Immanuel, TB Kalam Hidup, dan secara online melalui pemesanan ke redaksi@litera.id. Majalah Litera digital bisa didapat dengan men-download aplikasi HIGO terlebih dahulu, kemudian cari Litera. 
8. Apabila ada penulis yang berminat mengirimkan karyanya, bagaimana prosedur pengirimannya?

Pengiriman cerpen atau puisi dikirim ke redaksi@litera.id. Harapan saya semoga lebih banyak yang mengirimkan cerpen dan puisinya.(*)


* Keterangan Foto: saat Ita membantu Federasi Teater Indonesia pada acara Kebudayaan dan Presiden tahun 2014.


Artikel di atas telah tayang di HOKI, 13 Feb 2018

Fida Abbott Promosikan Batik Melalui Peluncuran Buku Hibridanya

Fida Abbott Promosikan Batik Melalui Peluncuran Buku Hibridanya

Bila Anda salah satu penyinta media Harian Online KabarIndonesia (HOKI), maka nama Fida Abbott sudah tak sing lagi. Kiprahnya di HOKI sebagai salah satu pewarta warga sudah dimulai sejak bulan Desember 2006. Beberapa bulan kemudian, ia mendapatkan penawaran bergabung sebagai salah satu tim editor sukarelawan di HOKI. Oleh karena ketekunan dan kerajinannya, ia mendapatkan kepercayaan sebagai Redaktur Pelaksana. Beberapa tahun kemudian saat HOKI tak memiliki Pimpinan Redaksi, ia yang mengambil alih tugas tersebut walau secara formal ia tak menduduki jabatan tersebut. Dengan keberhasilannya membawa HOKI terus berkibar walau tersendat-sendat dan sangat lamban jalannya karena faktor kesibukan kerja dan tanggung jawabnya sebagai seorang istri dan ibu, ia akhirnya tampil sebagai Direktur HOKI pada bulan Januari 2017.

"Arek Suroboyo" yang tinggal di negara bagian Pennsylvania sejak tahun 2002 ini baru saja meluncurkan buku terbarunya berjudul Exploring My ideas. Buku tersebut adalah perpaduan antara kumpulan sepuluh cerpennya dengan berbagi cerita tentang ide yang didapatkan untuk menulis sepuluh cerpen. Tak hanya itu, karena terdapat panduan singkat dan praktis mengimplemantiskan ide dalam susunan cerita, dan diakhiri dengan tips yang singkat, padat, serta informatif bagi para penulis pemula di Amerika Serikat.

Acara peluncuran buku Exploring My Ideas diadakan di Stone Hall, Episcopal Church of the Trinity, Coatesville pada Sabtu, 4 Agustus 2018. Salah satu yang menarik pada acara ini adalah kesempatan yang diambilnya untuk memromosikan batik dalam acara lelang. Di sebuah baki rotan yang berukuran cukup besar, ia menawarkan kedua bukunya berjudul Enthusiasm dan Exploring My Ideas beserta asesorisnya, sebuah buku berkebun, dua buah piring dan dua buah mangkok kedawung buatan Indonesia, produk-produk makanan dan minuman Indonesia, taplak meja batik, dan sebuah kain batik. Pemenangnya adalah penawar tertinggi yang dimenangkan oleh Stuart Deets dengan harga tawar sebesar USA $125.00. Total lelang dan bantuan dana yang diterima di acara peluncuran buku tersebut akan diberikan kepada Episcopal Church of the Trinity yang akan menyelanggarakan hari jadinya ke-150 bulan Oktober mendatang.

Acara khusus dan privat ini dihadiri oleh empat puluh enam orang yang juga dimeriahkan oleh Tiger Paw Trio yang menampilkan tiga permainan "string" untuk tiga buah musik klasik, yaitu Saturday at the Symphony, Brandenburg Concerto No. 3, dan Jesu, Joy of Man's Desiring; dan Noel Bourgeois yang bermain piano dengan berbagai jenis lagu yang dimainkannya. Acara peluncuran buku tersebut diakhiri dengan door prize dan penandatanganan buku.

Fida berharap buku Exploring My Ideas akan memberikan inspirasi kepada penulis pemula untuk berani berimajinasi dengan bebas dan menampilkan karya-karyanya, baik untuk kalangan sendiri atau secara profesional melalui media online. Meski baru saja diluncurkan, Fida sudah mendapat tawaran untuk menberikan pelatihan menulis berkolaborasi dengan para pelatih lainnya di sebuah perpustakaan di Coatesville. Sedangkan untuk mendapatkan bukunya, saat ini sudah tersedia online di Xlibris, Amazon, Barnes & Noble, Ingram, Baker & Taylor, dan took-toko buku online lainnya baik dalam versi hardcover, paperback, dan eBook (Kindle, Nook, dan sebagainya).

Ditanya rencana apa yang akan dikerjakannya setelah itu, ia tersenyum dan menjawabnya: "Akan saya terjemahkan ke Bahasa Indonesia dan menyusun kembali bab terakhir khusus untuk para pembaca dan penulis di Indonesia. Semoga ada penerbit di Indonesia yang berminat menerbitkannya di Indonesia sehingga buku itu pun akan berguna bagi masyarakat Indonesia." (*) 


Keterangan foto dari kiri ke kanan: Stuart Deets yang memenangkan lelang, Sherry Deets adalah penggembala sidang jemaat Episcopal Church of the Trinity, dan Fida Abbott yang mengenakan atasan batik. (Foto oleh Gregory Abbott)


* Artikel di atas telah tayang di HOKI, 10 Agustus 2018

Thursday, November 17, 2016

Dunia Anak, Dunia Penulis




Empat belas tahun lalu, tepatnya di bulan Agustus 2012, beberapa hari sebelum keberangkatan saya ke Amerika Serikat, saya berkunjung ke toko buku Gramedia di Tunjungan Plaza, Surabaya. Ada beberapa pesanan dari seorang rekan yang tinggal di Texas untuk membawa buku-buku resep masakan Indonesia. Saya yang doyan membaca, kalau sudah masuk ke toko buku bisa berjam-jam. Setelah menemukan beberapa buku pesanannya, saya mengunjungi rak-rak setiap genre buku dan melihat judul-judul buku yang menarik perhatian. Siapa tahu saya tertarik dan membelinya.

Ada satu hal yang menjadi sorotan saya, yaitu rak genre untuk buku anak-anak tidaklah banyak. Jumlah buku-bukunya dapat dihitung mudah dengan ibu jari. Itu pun kalau saya melewatinya. Menurut saya rak buku anak-anak mendapatkan urutan nomor ke sekian. Buku-buku dewasa yang best-seller atau yang merangsang pembeli seperti buku-buku berisi tips, how to, terutama saduran buku-buku cerita asing yang populer di kedepankan. Saya memakluminya karena itu merupakan salah satu strategi marketing dalam segi penjualan.

Setelah saya tiba di Amerika Serikat, beberapa bulan kemudian suami membawa saya ke toko buku dalam rangka membeli sebuah hadiah. Mata saya yang berwarna coklat muda ini menjadi hijau. Betapa tidak? Yang namanya toko buku, saya merasakan seperti toko 'perpustakaan' buku. Saya menjadi bingung dari mana saya memulai untuk mengunjungi rak yang menarik perhatian saya  karena mereka memajang buku-buku sedemikian rupa sehingga menarik perhatian pembeli dengan mudah. Yang menjadi perhatian saya adalah buku anak-anak pun tak kalah menarik. Mereka dipajang di bagian depan. Dengan gambar-gambar ilustrasi yang menarik, siapa yang tak ingin berhenti dan melihat-lihat isinya? Termasuk saya sendiri. Rak buku anak-anak pun begitu panjang dan memiliki kategori umur, dari balita hingga remaja. Saya terkesan.

Setelah kelahiran putri kami, hadiah-hadiah mengalir dari sanak keluarga dan teman-teman kerja suami. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah hadiah buku dan CD untuk bayi, yaitu musik-musik instument klasik para musisi terkenal dunia. Hadiah buku-buku pun terus berdatangan. Dari sanalah saya mengenal buku anak-anak di Amerikan Serikat yang populer dan siapa penulisnya.

Hingga anak saya beranjak memasuki usia remaja, hadiah buku ini tidak pernah berhenti. Putri saya yang sudah diperkenalkan buku sejak usia balita bertumbuh menjadi sosok anak yang gemar membaca. Hasilnya, ia memiliki daya nalar, imajinasi, kemampuan bercerita dan menulis yang tinggi. Ia mampu membaca buku Harry Potter yang tebalnya ratusan itu hanya dalam beberapa hari saja. Tidak hanya itu, ia jitu memberikan penilaian terhadap cerita yang telah dibacanya. Hasilnya, setelah usianya beranjak 12 tahun, ia berhasil lulus dari test yang saya berikan dengan memberikannya tulisan-tulisan saya sendiri dan memintanya memberikan review. Saya terkejut karena tidak menyangka review yang diberikan seperti review yang diberikan oleh anak-anak minimum di sekolah perguruan tinggi. Tidaklah heran kalau selama ini hasil rapornya rata-rata 98-100 untuk semua pelajaran. Hingga saya mengatakan kepadanya, "You are going to be my private editor."      


Intisari apakah yang kita dapatkan dari cerita di atas? Intisarinya adalah buku anak-anak. Buku anak-anak di AS ditulis baik oleh kaum adam dan hawa, dari yang berstatus ibu rumah tangga biasa hingga dokter dan pengacara. Buku-buku yang mereka tulis dapat ditemukan untuk yang masih bayi hingga remaja dan jumlahnya banyak sekali, hingga saya sendiri bingung memilih kalau sudah masuk ke toko buku atau perpustakaan umum.

Diam-diam saya membandingkan dengan pengalaman saya sewaktu masih di Indonesia. Saya merasa prihatin dengan minimnya buku-buku untuk anak-anak Indonesia. Yang populer saat itu adalah majalah Bobo untuk anak-anak dan Hai untuk remaja.

Saya sendiri pun kurang tahu bagaimana keadaannya di perpustakaan-perpustakaan umum di kota-kota/daerah-daerah. Namun setelah berselancar online, tampaknya dunia buku anak-anak di Indonesia sudah mulai diperhatikan dan mulai banyak beredar. Apalagi saya melihat begitu banyak deretan nama-nama penulis cerita anak-anak dan para ilustrator yang berbakat.

Hal tersebut patut disyukuri karena ada kemajuan yang tampak untuk hal tersebut, yaitu semakin banyak buku-buku anak-anak yang terbit, dan saya berharap juga akan semakin banyak menjangkau perpustakaan-perpustakaan lokal dan daerah, apalagi pelosok-pelosok yang susah dijangkau. Hal ini penting sekali mengingat anak-anak adalah masa depan bangsa. Membaca adalah wajib, apalagi di era globalisasi saat ini. Negara yang maju, masyarakatnya gemar membaca. Bagaimana mereka kita harapkan suka membaca kalau tidak ada buku-buku bacaan yang mendukungnya? Sifat gemar membaca ini tentu tidak muncul begitu saja, melainkan harus dimulai sejak usia dini. Lalu siapakah penulisnya? Kenapa bukan Anda sendiri? Kalau Anda suka menulis dan memiliki keinginan untuk menulis cerita dunia anak-anak, mengapa tidak memulainya dari sekarang? Lalu bagaimana caranya?  


Salah satu menjawab pertanyaan ini adalah ikutilah pelatihan menulis anak di Pelatihan Menulis Online HOKI (PMOH) tahun depan. Kemampuan menulis perlu diasah. Dengan latihan dan pengetahuan yagng diberikan, Anda akan memiliki wawasan dan semakin mantap memasuki status baru Anda, yaitu sebagai penulis cerita anak-anak. Di kesempatan ini pula, Anda diberikan kesempatan untuk mendapatkan beasiswa. Caranya pun mudah. Anda hanya turut berpartisipasi dalam Lomba Tulis HOKI 2016 yang diselenggarakan oleh Harian Online KabarIndonesia (HOKI) dan memenangkannya, entah itu sebagai juara pertama, kedua, atau ketiga. Para juara harapan pun mendapatkan voucher untuk mengikuti pelatihan ini. Tidak hanya itu, disediakan pula hadiah-hadiah menarik lainnya. Info lengkap dapat Anda baca di salah satu rubrik Berita Redaksi berjudul LOMBA TULIS HOKI 2016: Rebut Hadiah-Hadiah Istimewa Memperingati HUT HOKI ke-10 Tahun! 

Bila tertarik, tidak perlu menunggu lama untuk segera menulisnya. Kirimkan segera naskah tulisan Anda ke laman www.kabarindonesia.com dengan mengikuti aturan yang diberikan. Ingat, menulis cerita untuk dunia anak-anak tidaklah mudah dan tidak dapat dipandang sebelah mata. Perlu kreatifitas dan kemampuan khusus mengenal dunia anak-anak. Kalau saya sendiri ditanya apakah akan menulis cerita anak-anak. Maka saya akan berpikir dua kali karena bagi saya lebih mudah menulis cerita untuk orang dewasa daripada untuk anak-anak. Jadi kesimpulannya, Anda akan mendapatkan suatu kehormatan khusus bila suatu hari nanti menyandang status baru sebagai Penulis Cerita Anak-Anak. Ayo mulailah dan turut sertalah memajukan dunia anak-anak melalui karya-karya tulis Anda! (*)



Tulisan ini telah ditayangkan di HOKI, 12 November 2016



Thursday, July 28, 2016

Beratnya Menghormati dan Bertoleransi



Idul Fitri sudah lewat. Saya yakin dari minggu lalu sudah banyak pemudik yang kembali ke rumah masing-masing. Lain halnya di Pennsylvania, USA. Tak ada perbedaan saat Idul Fitri tiba, hingga saya pun lupa. Padahal seminggu sebelumnya sudah mengingatnya. Bagaimana saya kembali mengingatnya?

Saat sibuk-sibuknya siang hari kami bekerja di depan layar komputer, tiba-tiba pimpinan perusahaan kami datang dan membawa sekotak besar berbagai macam donat dari Dunkin’ Donuts. Karena jumlah tim kami tidak banyak, maka tak lama donat-donat itu pun habis. Dalam perjalanan pulang ke rumah yang memakan waktu sekitar satu jam perjalanan dengan menyetir mobil, pikiran pun melayang ke pimpinan perusahaan. Pemberian donat siang hari itu mengusik pikiran. Saya bertanya dalam hati, mengapa ia membawa donat-donat tersebut? Saya berpikir pasti ada yang khusus. Saya terus berpikir apakah yang khusus itu? Ulang tahun, bukan. Merayakan Ulang Tahun perusahaan pun bukan. Akhirnya, saya pun baru ingat kalau hari itu adalah hari Idul Fitri dan pimpinan perusahaan adalah muslim, kelahiran Iran. Hal itu membuat saya kecewa, tidak mengucapkan Selamat Idul Fitri kepadanya.

Saya baru sadar setelah dua minggu bekerja di tempat pekerjaan tersebut, tidak pernah melihatnya makan dan minum di antara semua anggota tim. Tentu ia pun berpuasa, tapi ia selalu ada di tengah-tengah para karyawannya walau kami sedang asyik menikmati makanan dan minuman. Ia pun tak menampakkan kalau sedang berpuasa sehingga membuat saya pun lupa. Facebook-lah yang membuat saya ingat kembali melihat foto-foto makanan untuk berbuka puasa atau membaca berita-berita online mengenai penggrebekkan warung-warung yang buka di siang hari.

Berita-berita tersebut menarik perhatian saya. Yang menarik adalah para penggrebek membawa pulang makanan yang dijual di warung dan melihat ibu—si penjual—menangis. Hati saya sangat iba, bagaimana perasaan para penggerebek itu membawa pulang makanan ibu penjual warung tersebut. Mungkin ibu itu tetap berjualan karena pembelinya juga banyak yang tidak berpuasa—misalnya para pembecak—sehingga ia ingin tetap melayani selain menginginkan keuntungan. Semestinya ditutup saja kalau memang dibuat aturan tidak boleh berjualan (razia) di siang hari dan dapat dibuka kembali sejam sebelum waktu buka puasa tiba. Tidak perlu berbagi-bagi makanan yang bukan miliknya sendiri. Apakah mereka tidak berpikir dari mana ibu itu akan mendapatkan kembali uangnya? Tentu saja ia menangis karena uangnya tidak dapat kembali lagi. Mungkin ia tak memiliki cukup uang untuk menjual makanan lagi atau ia akan berhutang untuk berjualan lagi. Benar-benar saya tidak tega membaca berita tersebut dan melihat videonya. Hingga saya berpikir apakah para penggerebek itu sedang berpuasa juga? Kalau memang mereka sedang berpuasa, maka sia-sialah ibadah puasa mereka.

Dari berita tersebut, timbul pikiran yang lain. Kalau dengan sesama muslim mereka bertindak seperti itu, bagaimana halnya kepada yang tidak sesama muslim? Semoga berita ini menjadi renungan bersama bagaimana mengasihi sesama selama bulan Ramadhan dan semoga tak terulang lagi dan ibadah puasa mereka diterima oleh Tuhan.

Bertoleransi itu sebenarnya indah, tidak hanya dengan yang berbeda agama, melainkan dengan sesama agama pun, khususnya di bulan Ramadhan. Tidak hanya menghormati dan bertoleransi dengan yang sedang berpuasa tapi juga kepada mereka yang tidak berpuasa pun, termasuk yang muslim. (*)      



Sumber foto: Google

 
Artikel ini telah dipurbilkasikan di Harian Online KabarIndonesia (HOKI), 16 Juli 2016.
Link Artikel di HOKI

Saturday, September 26, 2015

Cerita Pekerja Illegal Indonesia di USA


Pagi itu sekitar pukul 11 siang meskipun matahari belum berada tepat di atas kepala, namun menjelang musim gugur saat pertama kali saya rasakan di negara USA cukup membuat kulit terasa perlu untuk dibungkus dengan mantel.  Lebih baik hangat daripada kedinginan.  Kondisi Kebun Binatang di Philadelphia saat itu penuh sesak.  Terlihat antrian yang sangat panjang hampir memenuhi jalan masuk ke pintu gerbangnya.  Suami saya pun sibuk melihat ke segala arah, berharap akan menemukan orang-orang Indonesia sehingga saya dapat bertemu teman setanah air.  Dapat saya maklumi, karena di Philadelphia, terutama di daerah China Town, terdapat komunitas Indonesia yang cukup besar yang tinggal di sana.  Akhirnya suami saya  pun berbisik di telinga saya mengatakan sambil menunjuk ke suatu tempat, "Do they speak Indonesian?" (Apakah mereka berbicara dalam Bahasa Indoensia?).  Oleh karena ramainya orang-orang yang membeli tiket, saya pun tidak dapat mendengar apakah mereka berbahasa Indonesia ataukah tidak. Akhirnya saya berinisiatif untuk sedikit mendekat ke arah mereka. Ternyata benar, mereka orang-orang Indonesia.

Saya pun menyapa mereka, dan tampaknya mereka pun biasa-biasa pula, tidak seperti saya yang excited.  Maklum, kota dan apartemen tempat dimana saya tinggal waktu itu tak ada satu pun orang Indonesia yang pernah saya temui, sehingga kalau saya bertemu dengan mereka sesama bangsa, rasanya senang sekali. Itulah yang menjadi salah satu kerinduan suami saya. Dia sangat senang apabila saya bertemu dengan orang-orang Indonesia.

Pertemuan di Kebun Binatang itu akhirnya manjadi suatu awal saya mengetahui begitu banyak cerita tentang masyarakat Indonesia yang bekerja di negara perantauan, USA.  Mereka bertujuh adalah korban penipuan sebuah agency.  Agency yang telah membawa mereka ke negara USA akhirnya tidak memenuhi kewajiban akhirnya untuk memperpanjang visa kerja mereka di sana.  Akhirnya status mereka tidaklah jelas.  Ingin tetap bekerja di USA tetapi selalu was-was karena setiap saat mereka harus siap untuk dideportasi.  Ingin pulang, tetapi biaya balik modal masih jauh dari mencukupi. Hampir semua modal yang digunakan untuk berangkat ke USA merupakan uang pinjaman yang tentunya harus dibayar melalui hasil keringat mereka.  Itu pun belum terhitung uang kiriman untuk membantu ekonomi keluarga mereka di Indonesia.  Tidak jarang pula gaji yang dibayar adalah ‘di bawah tangan', dalam arti mereka bukanlah para Pembayar Pajak Pendapatan.  Kalau sudah begini, sudah jelas mereka tidak mendapatkan ‘benefit', terutama asuransi kecelakaan, kesehatan ataupun kematian, dan lain-lain.  Hal ini terjadi oleh karena mereka adalah para pekerja illegal.

Dalam percakapan di telepon dengan mereka, saya sarankan untuk berkonsultasi dengan orang-orang KBRI di Washington DC.  Ternyata mereka pun mendapat nasehat yang cukup bijaksana, agar mereka tetap bekerja dengan baik dan hati-hati.  Nasehat yang singkat itu pun ternyata mampu memberikan semangat dan keberanian mereka untuk memutuskan tetap bekerja di USA.  Saya pun menambahkan, "Syukurlah kalau begitu, jangan lupa menyisihkan uang untuk ditabung, agar nanti sewaktu pulang ke Indonesia dapat dijadikan modal untuk buka usaha sendiri."  Dengan kagetnya saya pun mendapat jawaban di luar dugaan saya.  Seorang di antara mereka berkata, "Bagaimana mau menabung, Mbak.  Kita juga tidak jarang membantu rekan-rekan untuk menyambung hidup karena mereka belum dapat kerjaan.  Ya semuanya, numpang tinggal, makan, minum, dan sebagainya."  Saya pun terdiam, dan ia pun melanjutkan, "Nggak apa-apalah Mbak, sama-sama di perantauan.  Saling membantu saudara sebangsa sendiri. Pokoknya ramai-ramai bersama-sama, susahnya bisa jadi lupa." 

Saya pun menanyakan ketidaknyamanan hidup mereka karena kemana pun mereka pergi, mereka harus berwaspada dari sweeping pihak yang berwajib.  Kalau pun ingin pulang, pengakuan mereka mengatakan, kemana mereka harus mencari pekerjaan di Indonesia.  "Susah Mbak cari kerja di Indonesia.  Biarlah begini, sepanjang saya dan teman-teman bekerja dengan baik.  Kalau kena sweeping, apa mau dikata, ya sudah nasib kena deportasi," itulah pengakuan mereka.

Percakapan melalui telepon saat itu meninggalkan kesan yang dalam, karena mendengar cerita curahan hati mereka selama hidup di USA yang bermacam-macam.  Saya pun mengundang makan siang kepada mereka di apartemen saya bila mereka mau.  Tetapi oleh karena kesibukan mereka dan jadwal kerja yang berbeda satu dengan yang lainnya, mereka pun belum dapat mewujudkan keinginan saya untuk mengundang mereka makan siang di apartemen waktu itu, hingga sampai saya pindah ke rumah baru di kota lain. Jejak mereka pun akhirnya  sudah tak ada lagi, selalu berpindah tempat alias nomaden.

Cerita kedua, saya dapatkan sewaktu saya dan suami saya sedang merayakan Anniversary pertama kami di bulan Nopember, tahun 2003, dengan makan malam di salah satu restaurant Indonesia di Philadelphia.  Seorang pelayan perempuan tampak sebaya usianya dengan saya, dan saya pun mencoba untuk menyapanya.  Dari perkenalan itu, cerita tentang kehidupan orang-orang Indonesia yang bekerja di USA pun bertambah.  Dia adalah seorang sarjana lulusan dari salah satu Universitas terkenal di Surabaya.  Menjadi pelayan di restaurant, menurutnya adalah pekerjaan sementara saja sambil dia mencari pekerjaan lainnya yang lebih baik.  Beberapa bulan kemudian saya pun mendengar dari pengakuannya via telepon, bahwa dia sudah pindah bekerja di sebuah pabrik.  Suaminya mendapat kecelakaan kecil, tetapi mereka tidak memiliki asuransi kesehatan, sehingga mereka pun meminjam uang dari Pemerintah setempat.  Jangan ditanya berapa besar uang yang dipinjam.  Biaya pengobatan di USA sangatlah mahal.  Dia pun mengaku, sudah tidak tahu lagi kapan bisa melunasi karena terlalu tinggi untuk ukuran pendapatan mereka, yang penting mereka selalu membayar semampu mereka setiap bulan.  Saya pun menyarankan bila mereka membeli asuransi kesehatan dengan program yang murah saja.  Ternyata saya barulah tahu, apabila mereka tak dapat membeli asuransi kesehatan, karena status mereka yang sudah tidak legal lagi untuk tinggal di USA, dan mereka pun masih berusaha keras memohon petisi mereka pada Departemen keimigrasian di USA.  Bagaimana jalan cerita selanjutnya, saya pun tak dapat mengikutinya karena jejaknya pun sudah hilang.  Entah kemana, karena HP yang saya hubungi pun sudah tak pernah dijawab lagi.

Cerita lainnya setelah kelahiran putri saya beberapa bulan kemudian, kami menghadiri acara perayaan 17 Agustus 2004 di Philadelphia yang dituanrumahi oleh sebuah gereja Indonesia di Philadelphia.  Dari sana juga saya bertemu komunitas Indonesia.  Seorang diantaranya bercerita bagaimana dia menjalani hidup di USA.  Meskipun sudah cukup lama tinggal di USA, tetapi status dirinya dan keluarganya tidaklah jelas, hanya seorang putranya saja yang berwarga negara Amerika karena dia lahir di Amerika.  Cobalah kita bayangkan, bagaimana sedihnya hidup mereka.  Pulang ke Indonesia pun sudah tidak bisa meskipun untuk menengok keluarga, karena kalau mereka akan pulang, berarti mereka menyerahkan diri mereka untuk terdeportasi, sehingga mereka akan sulit kembali untuk pergi/datang ke USA, alias sudah tidak bisa lagi karena sudah pasti pengajuannya akan ditolak.  Lalu bagaimana?  Ya, untunglah dia beserta suaminya masih tetap bekerja.  Meskipun jaraknya memakan waktu 1 jam lebih, tetapi oleh karena bersama-sama dengan rekan-rekan Indonesia lainnya yang berangkat satu mobil bersamaan, maka jarak pun bukanlah menjadi masalah.

Cerita yang lainnya???  Masih banyak cerita lainnya dari pertemuan-pertemuan saya dengan mereka yang bekerja di USA dengan status yang tidak jelas.  Menyedihkan sekali.  Tetapi tidak semua mereka yang bekerja di USA seperti demikian.  Mereka yang berstatus legal, dalam arti memiliki kartu permanent resident, mereka bekerja dengan baik dan memiliki karier yang mapan.  Rata-rata mereka sudah bekerja tahunan di USA dan akhirnya dipercaya menjadi Manager dan mereka telah menikah dengan warga USA.  Ada juga mereka yang menyelesaikan studi dan bekerja di sana dan akhirnya menikah dengan warga negara USA, sampai ada pula yang telah menjadi Direktur perusahaan yang cukup terkenal.

Cerita-cerita di atas merupakan gambaran sesuatu yang dapat diambil pelajaran untuk siapa saja yang berkeinginan mengadu nasib di negara USA.  Pandai-pandailah dalam mengambil langkah.  Mengapa saya katakan demikian, karena saya melihat sebuah bukti nyata seorang sanak keluarga yang pernah bekerja di USA bertahun-tahun di kapal pesiar.  Dia menyempatkan diri untuk mengambil kursus perhotelan/akademi perhotelan pada saat dia ‘turun kapal'.  Dengan statusnya yang hanya lulus SMA di Indonesia dan lulus lewat kursus/akademi perhotelan di USA, sekarang dia telah dipercaya menjadi salah satu Manager Personalia Hotel Berbintang Lima di Bali.

Apakah anda merupakan seorang di antara mereka yang berkeinginan untuk bekerja di USA?  Bila jawabannya adalah ‘YA', berbenahlah sedini mungkin.  Siapkan diri anda untuk dapat menguasai Bahasa Inggris dengan baik.  Siapkan pula keuangan anda yang kuat sebagai modal awal hidup anda di negeri orang.  Jangan gunakan visa kerja anda untuk akhirnya menetap di negara tersebut, karena ini akan menjadi boomerang bagi hidup anda.  Lainnya??  Dibutuhkan mental yang tangguh untuk hidup di negara USA.  Tidak perlu saya jelaskan sedetail mungkin, tetapi sebuah gambaran di bawah ini akan dapat menjadikan sebuah inspirasi anda untuk berpikir dua kali.

‘Mereka adalah orang-orang berduit di Indonesia yang memiliki usaha (pengusaha) tetapi mereka harus mau tidak mau merendahkan dirinya untuk hidup dalam sebuah rumah/ruangan kecil untuk dapat survive di USA.'

Jadi, janganlah mengira mereka yang bekerja di USA adalah berduit karena mereka selalu mengirimkan duit mereka ke sanak keluarga di Indonesia, tetapi keluarga mereka di Indonesia tidak mengetahui kerasnya kehidupan mereka untuk bertahan hidup di negera tersebut.  Apakah anda termasuk kloter berikutnya???

***

Keterangan Foto:
Kebun Binatang Philadelphia-2002 (Penulis duduk nomor 4 dari kiri  dengan dua anggota keluarga duduk dan berdiri di sampingnya, bersama 6 (enam) pemuda Indonesia dan seorang Pemudi Indonesia berasal dari Jakarta yang sedang bekerja di USA.  


Artikel ini telah dipublikasikan di KabarIndonesia, 30 September 2008

Saturday, March 21, 2015

Bersukarelawan, Apa Enaknya?

Beberapa tahun lalu saya bertemu dengan para pengurus pengadaan perpustakaan daerah, kota tempat tinggal saya sehubungan dengan acara "book signing" untuk novel perdana saya berjudul Enthusiasm yang terbit di Amerika Serikat. Sebagai pengurus, mereka bertanggung jawab atas keberadaan perpustakaan daerah sehingga ketua dapat mengangkat pemimpin perpustakaan untuk dipekerjakan. Anehnya, para pengurus tersebut adalah para sukarelawan dan pemimpin perpustakaan adalah pekerja. Walaupun sebagai sukarelawan, mereka berhak mengatur keberadaan perpustakaan daerah dan pemimpin perpustakaan harus tunduk dengan keputusan rapat para pengurus yang notabene adalah para sukarelawan. Inti adanya pengurus tersebut adalah mengusahakan perpustakaan daerah harus tetap berjalan dan tidak ditutup oleh karena faktor keterbatasan pendanaan dari pusat. Sedangkan pemimpin perpustakaan dapat mempekerjakan beberapa karyawan sesuai dengan dana yang tersedia dan membuka kesempatan kepada para sukarelawan lainnya yang ingin membantu di perpustakaan.

Saat putri saya masih pra sekolah, setiap tahun sekolah tersebut mengadakan penggalangan dana, yaitu acara lelang. Barang-barang yang mereka lelang merupakan sumbangan dari para murid/orang tua murid, juga dari perusahaan-perusahaan kecil hingga menengah di sekitarnya, misalnya makanan, minuman, perawatan badan/rambut/kuku, olahraga, pertukangan hingga peralatan berkebun, produk pertanian, dan sebagainya. Saat acara berlangsung, ruangan olahraga yang mereka gunakan penuh sesak oleh para pengunjung. Bila saya perhatikan sebenarnya harga yang ditawarkan untuk barang-barang lelang memang dimulai dari bawah tetapi bila terus ditawarkan dan peminatnya banyak, maka harganya bisa melambung tinggi, jauh melebihi harga barang tersebut. Sedangkan para pengunjung umumnya mereka yang tinggal di lingkungan sekolah tersebut selain keluarga dan rekan-rekan orang tua para murid. Tak disangka semua barang yang dilelang terjual habis bahkan dana yang terkumpul melebihi target. Melalui dana tersebut sekolah dapat membeli peralatan musik, olahraga dan perlatan lainnya sebagai penunjang kegiatan belajar-mengajar. Akhirnya saya mengetahui bahwa seorang yang terus berceloteh di panggung penawaran lelang ternyata adalah sukarelwan pula. Kesimpulannya, seluruh penyelenggaraan didukung seratus persen oleh para sukarelawan dan penyumbang barang-barang.

Setelah putri saya masuk ke sekolah Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar, para orang tua murid diberi kesempatan untuk bersukarelawan pula, dari bergabung sebagai tim penggalangan dana sekolah, membantu para guru di kelas hingga membantu mengajar membaca/menulis. Setelah berselang beberapa tahun, saya baru memahami bahwa ternyata para sukarelawan (para orang tua murid) tersebut berperan utama dalam penggalangan dana sekolah yang mereka gunakan untuk menunjang aktifitas-aktifitas sekolah, misalnya "study tour" dan acara-acara lainnya sehingga para murid tidak terbebani oleh biaya. Mereka bisa bebas biaya sama sekali atau berkurang biayanya bila mengadakan suatu acara. Dapat dibayangkan bila tak ada para sukarelawan tersebut, betapa repotnya kepala sekolah dan para guru mengurus penggalangan dana yang dapat mempengaruhi perhatian khusus mereka dalam aktifitas mengajar.

Selain di perpustakaan dan sekolah, kegiatan bersukarelawan banyak ditemukan di setiap komunitas-komunitas daerah, seperti pemeliharaan taman umum daerah, acara-acara tahunan daerah, bahkan tim pemadam kebakaran dan tim gawat darurat (Tim 911). Saat masih berusia dua belas tahun, suami saya sudah bergabung dengan tim pemadam kebakaran. Pada usia tersebut ia membantu membagi-bagikan makanan dan minuman kepada para korban yang kehilangan rumah mereka. Pada usia enam belas tahun selain ia masih bergabung dengan tim pemadam kebakaran, ia pun bersukarelawan sebagai salah satu tim gawat darurat (Tim 911). Di kedua tim tersebut, ia bersukarelawan selama dua belas tahun. 

Kegiatan bersukarelawannya menimbulkan pertanyaan bagi saya. Akhirnya saya bertanya mengapa ia tertarik bersukarelawan dengan aktifitas yang berhubungan dengan pengorbanan nyawa diri sendiri dan menyangkut nyawa orang lain. Jawabnya sederhana saja. Ia ingin membantu, menambah pengetahuan dan pengalaman. Lalu saya bertanya lagi mengapa banyak sekali orang-orang Amerika yang suka bersukarelawan bahkan kegiatannya berkesinambungan tidak hanya satu atau dua hari, sepekan atau sebulan, melainkan tahunan hingga menjadi penanggung jawab pada instansi yang penting atau untuk kepentingan publik. Ia pun menjawab secara sederhana pula bahwa selain suka membantu, mereka suka mengembangkan "network" (jaringan kerja). 

Jawaban terakhir dari suami menggugah pikiran saya. Mengembangkan jaringan kerja adalah hal baru dan belum pernah saya pikirkan sebelumnya. Dari situlah saya memahami mengapa suami saya langsung menjawab "ya" saat minta ijin darinya bila saya diperbolehkan bersukarelawan di KabarIndonesia dari penulis/pewarta warga menjadi salah satu tim editor. Ia mengetahui bila saya suka menulis sehingga ia pun tidak keberatan. Menurutnya bila saya tertarik terhadap bidang tulis-menulis, maka kegiatan bersukarelawan terebut adalah sangat tepat. 

Melakukan kegiatan sukarelawan adalah harus dilakukan dengan senang hati karena tidak dibayar. Maka dari itu ketertarikan di bidang menulislah yang membawa saya menjadi salah satu sukarelawan di KabarIndonesia. Bertahun-tahun menjadi sukarelawan, banyak pembelajaran yang saya dapatkan. Suami saya berpesan bila bersukarelawan agar tidak mengharapkan imbalan dalam bentuk apa pun. "Bersukarelawan, ya bersukarelawan. Jangan berharap sesuatu dari apa yang telah diberikan" itulah pesannya yang telah saya terjemahkan dalam Bahasa Indonesia.

Saya belajar darinya bahwa bersukarelawan adalah memberikan pelayanan kepada sesama sehingga tentunya harus dilakukan dengan segenap hati, bukan dengan paksaan atau tekanan. Jadi menurutnya saya memang harus menyukai kegiatan tersebut terlebih dahulu bila memutuskan untuk bersukarelawan. Dengan begitu kegiatan saya akan berkembang dan hasilnya akan dirasakan oleh sesama. Benar-benar saya mengaminkannya karena memang benar seperti apa yang dikatakannya bahwa saya sendiri merasa berkembang. Walaupun sebagai sukarelawan tetapi menuntut cara kerja profesional. Itulah yang dikehendaki suami saya. Apa yang ia harapkan pun nyata, bukan hanya berkembang, tetapi jaringan kerja saya pun semakin berkembang pula. Tentunya sangat tepat bagi seorang penulis.

Apabila Anda termasuk salah seorang sukarelawan di KabarIndonesia, apakah pengalaman menariknya? Tentu jawabnya akan berbeda-beda tergantung dari tujuan masing-masing. Namun saya yakin bahwa tulisan-tulisan kita akan bermanfaat untuk sesama. Satu pahala yang patut disyukuri. Apabila kita melakukan untuk sesama, berarti kita pun melakukannya untuk Tuhan. Jadi menunggu apa lagi? Ayo, menulis sesuatu yang menarik dan bermanfaat, dan jangan lupa diedit yang baik sebelum meninggalkan kolom pengisian tulisan dan mengecek susunan alineanya setelah menyimpannya. Selamat bersukarelawan.(*)


Tulisan ini telah ditayangkan di HOKI, 3-12-2014

Monday, November 24, 2014

My Own Spaghetti Recipe

When I was in my country, Indonesia, before moving to USA, spaghetti was sold and found only at Mc. Donald. I didn't like it at that time. I didn't know why, but I thought maybe the blend of the spicy was not suit with my taste. After I moved to USA and finally I knew that spaghetti was one of the regular food in USA, I started to learn how cook the tasty spaghetti. Thanks God, my husband was the only person who taught me about the kinds of new herbs I should know to cook spaghetti.
I still remember the first time I learned to cook spaghetti. I followed the recipe from the spaghetti package but I didn't like it, it was to blend for me. As I am from the country where the people like the spicy food very much, so you should understand why I like the spicy food. Because I like pasta, so I tried at the next time when I cooked spaghetti I used my own ingredients. Below is my own recipe. It is simple but spicy enough to me. I would give the name My Own Spaghetti'.
MY OWN SPAGHETTI RECIPE
- 18 oz package of spaghetti, cook as directions, drain and pour with 1 TBS olive oil to toss.
- 1 pound lean ground beef
- cup diced sweet onion
- 2 clove of garlic , minced
- 1 fresh medium tomato, dice
- 1 30 oz jar of chunky spaghetti sauce or any kind you like
- tsp freshly chopped oregano
- Salt to taste
- Freshly ground white pepper to taste
- - tsp chili powder (if you don't like it, don't use it)
- cup grated Parmesan Cheese
- 2 TBS olive oil


Directions:
- Bring water to boil and add spaghetti according to box directions, drain and pour with 1 TBS olive oil to toss, set aside.
- Meanwhile you are cooking the spaghetti, brown the ground beef in a large non-stick skillet, drain and discard the fat.
- Pour 1 TBS olive oil on medium heat at the same skillet.
- Add garlic, saut for 1 minute, add diced tomato, diced onion, saut around 6-7 minutes. Stirring occasionally.
- Add brown ground beef, salt, pepper, chili powder, stir and close the skillet for 3 minutes. Open and stir again.
- Add chopped freshly oregano, stir and let them cooked around 2-3 minutes.
- Add the mixture spaghetti sauce to spaghetti, toss and pour with grated parmesan cheese.
Hmmm, even my husband who is American likes it. We like My Own Spaghetti Recipe. (*)

Published at Helium Network, July 5, 2008

Reality

Once, there was a man who asked GOD for a flower and a butterfly. But God gave him a
cactus and a caterpillar. He was sad, he didn't understand why his request was mistaken, Then he thought: Oh well, GOD has to many people to care for and decided not to ask Him anymore.
After some time, the man went to check up on his request that he had left forgotten.
To his surprise, from the thorny and ugly cactus, a beautiful flower had grown, and the unsightly caterpillar had been transformed into the most beautiful butterfly.
What do we learn from the short story above?
God always does things right! His way is always the best way even if to us it seems all wrong. If you asked GOD for one thing and received another, TRUST! You can be sure that He will always give you what you need at the appropriate time. What you want doesn't always give you what you need. God never fails to grant our petitions, so keep on going for him without doubting or murmuring.
After I was graduated from my University with the satisfactory result, I had confidence in applying a job. I had sent many applications. Meanwhile I waited for the interviews and other good answers from the companies I had applied, I gave the private courses to couple students from Elementary to Senior High School especially for Math. I handled 4 children in a family and the youngest was around 8 years old. She wasn't passed from the 2nd grade. I heard that she always looked nervous and afraid every time the teacher asked her something. She didn't answer because she was afraid that maybe her answers were wrong. Even when I gave her the lessons, she never answered me and never called my name. Knowing that condition, I didn't only teach her, but I firstly focused to approach her slowly but firmly.
I found out why she acted like that, it was because of her parent were often fight in front of their children and it influenced her became a passive child. Finally, around 3 months, one day when I went to their house, she came to the fence to open it for me and I heard she called my name quietly. I was so surprised and so happy. After that, step by step she changed. She answered my questions and talked to me normally although sometime looked little nervous or shy, but I always tried to make her comfortable and felt confident for herself. Everything just went well till one day in the end of her class, I heard that she could reach the second level of the best students in her class. I was so happy and thanks to God because I could help her and made her and her family felt happy.
After that, I got more students coming because of the successful I did to her. It was happened around 1 year and a half and I did my teaching with all of my heart without complaining why I hadn't got a job that I wanted till one day something was happened to me. I got a right job as I ever dreamed. From that journey, I had learned something that every single of our life, God had purpose certainly to us to do other things to reach other things we wished or dreamed. I thought at that time, firstly, God wanted me to help that girl until she was healed then HE gave me great present after all, it was a great job I dreamed about.
* Today's thorn is tomorrow's flower. God gives the very best to those who leave the choices up to him. Amen! *

Published at Helium Network, July 19, 2008

Religion Songs

Praise Adonai!
One of my favorite Christian Singers in USA is Paul Baloche. His voice, his music, his songs that he wrote are great. Praise Adonai is my favorite. The lyric, the beat/rythm and the colour of its music in this song is really creative.
The writing talents of Paul Baloche come to us. 'Praise Adonai', inquiring of us with the rhetorical phrase 'who is like Him', we see Jesus as:
The Lion and the Lamb
Seated on the throne
Mountains bow down
Every ocean roars
To the Lord of Hosts
Part of the review of his album 'Open the Eyes of My Heart' about the song 'Praise Adonai' from Kim Gentes I rewrite here as he mentions:
Like the Psalms and Proverbs, Baloche proclaims the unchangeable paradox of God's character (the Lion and the Lamb), pushing us into the view from the heavens. Then, as he surveys the kingdom from this view (Seated on the throne), we see such power, in profound simplicity of word, that our hearts and voices launch unstoppably into the chorus, 'Praise Adonai'.
For him, music is one of the most powerful tools to communicate with God, to get touch with Him. One of the important keys to have a quality worship is the "spontaneous worship" which is similar to jazz improvisation.
I have the same opinion with him, about music is one of the most powerful tools to communicate with God. When I listen the original of this music from my playlist, I always feel my soul is lifted up. I always repeat this song, again and again.
Then, what is the meaning of Praise Adonai? If you would like to know, here I try to explain shortly but clearly:
As we know the meaning of "Praise Adonai" is Adon means 'steward administrator, master, or Lord'. The addition of 'ai' to 'adon' intensifies or elevates its meaning, changing it to mean 'the ultimate Lord, the supreme Lord, or Lord of all'. The title of Adonai in the Hebrew language, God is Lord, clearly defines our role as servants of our Lord, God without outright ownership of our life and all things in heaven and earth. This defines our role as servant of our Adonai.
So, if you are interested with this song, below I have enclosed its lyrics and chords:
PRAISE ADONAI
Written by Paul Baloche
INTRO:
( Am, F, C, G , E7 ) (repeat)
VERSE:
Am F
Who is like Him
C
the Lion and the Lamb
G E7
Seated on the throne
Am F
Mountains bow down
C
Every ocean roars
G
To the Lord of hosts
CHORUS:
F Am
Praise Adonai
G
From the rising of the sun
Dm7 F G
'Til the end of every day
F Am
Praise Adonai
G
All the nations of the earth
Dm7 F
All the angels and the saints
G Bb2
Sing praise
( Am , F, C , G , Am7 , Bb2 )

Published at Helium Network, July 21, 2008

Reflections Favorite Biblical Verses

It has been so long till right now when I find the inspirational Biblical verses, I always write them on my special book. Beside they can be a reminder of the God's word & give me the strength, I also use to enclose them as the supported biblical verses in my Christian writings either at my Blog or other Group Christian Blog where some talented Blogger in writing write there.
The Biblical verses also reflect us in comunicating with God. They are as God's words can be the messages in every single condition and situation we have in our life. They can be the encouragements, reminders, advices, giving us the strength, etc.
Some of my friends also sometime send me the Biblical verses to share with me and I always thank to them as I have been in their thought. One day, one of my good friends from Indonesia sent me a topic about Biblical verses as the answers when we called God. Below is the reflection I have learned from it.
When we call somebody, we might get an answer directly to somebody whom we want to talk to, or we just hear the answer machine and leave a message there, or we must press the other numbers to direct the person we want to talk to, or we just can leave a message to somebody else who answer our phone, or the operator will answer it. Those all mean that somebody whom we want to talk to isn't available in 24 hours everyday.
But it would not be happened if we call God. He is always available in 24 hours a day, in 7 days a week. We can call Him anytime we want. There are no Operator, so He would listen our voice directly. He is never too busy to listen and answer our calls. When we call Him, He would answers us. When we cry asking His help, He would says, "Here I am." (Isaiah 58:9)
I hope these emergency numbers would help you and I in every single situation we have as blessing in our life. Amen.
When we condole, press John 14
When we are disappointed by somebody, press Song of Solomon 27
If we want to fruit, press John 15 When we sin, press Song of Solomon 51
When we are in worry, press Matthew 6:19-34
When we are in danger, press Song of Solomon 91
When we feel so far from Him, press Song of Solomon 139
When our faith needs to be strengthened, press Hebrews 11
When we feel alone and afraid, press Song of Solomon 23
When our life in bitter, press 1 Corinthians 13
To know the secrets of Paul's happiness, press Collossians 3:12-17
To know the meaning of Christian, press 1 Corinthians 5:15-19
When we feel disappointed and be left, press Romans 8:31-39
When we want peace and calm, press Matthew 11:25-30
When the world is seen bigger than Him, press Song of Solomon 90
When we want the Christianity guarantee, press Romans 8:1-30
When we are on the go, press Song of Solomon 121
To Big challenges, press Isaiah 55
When we need a brave for a duty, press Joshua 1
To know how we can build a good relation to the others, press Romans 12
When we think about wealth, press Mark 10
When we are in depression, press Song of Solomon 27
When we are in financial difficultiness, press Song of Solomon 37
When we loose trust to the others/somebody, press 1 Corinthians 13
When the people around us look like not good, press John 15
When we give up in our work, press Song of Solomon 126
When we find small world and we feel big, press John 19 

Published at Helium Network, July 21, 2008