Online Media/Press Kit

Designed to fire up your interest, Enthusiasm is a fascinating and hopeful novel based on the author’s own true story. In this exceptional masterpiece, Abbott narrates the journey of her life and shares how enthusiasm plays a vital role in pursuing her dream in the writing world—with English as her second language—in her new country.

Here, she exemplifies her experiences, her family and relationships, her inspirations, and her passage towards her remarkable goals. This novel is a reflection of her own life, how she faces obstacles, how she handles life, how she inspires others, how she touches other people’s lives through her works, and how she achieved the amazing successes of her life and endeavors—a perfect blend of life’s spices.

Through Enthusiasm: A Novel Based on the Author's Own True Story, you will be affected by the author’s wonderful story. Filled with hope and inspiration, strength and enthusiasm, this book will draw out the best within your heart and mind.

Available in paperback, hardcover and e-book. Get 10% discount, free S+H, bookmark and autograph. Visit this link! Six books left!

Get free S+H, visit these websites:

For book stores, retailers and wholesalers, visit these websites:

Wednesday, May 22, 2013

Sabuk Pengamanku


Masih hangat dalam ingatan saya pada dua bulan yang lalu, tepatnya pada tanggal 22 Desember 2006, hari Jumat dini hari antara pukul 4.30 - 4.50 waktu Amerika Bagian Timur, saya mendapatkan kecelakaan mobil. Bagian sebelah kiri mobil saya diserempet oleh truck trailer yang dikemudikan di atas kecepatan normal di perempatan lampu merah.  Tampaknya sopirnya berusaha nyelonong pada saat lampu merah menyala.

Foto di atas diambil pada hari yang sama saat terjadinya kecelakaan. Itu baru diserempet saja, belum ditabrak langsung.  Mobil saya berputar-putar seperti kitiran setelah diserempet dan akhirnya menabrak badan kanan jalan.  Saya mengucap syukur kepada Tuhan karena saat itu tidak ada mobil lain dari arah belakang. Kalau saja ada, saya tidak dapat membayangkan bagaimana keadaannyawaktu itu.

Sekilas saja, pasti Anda berpikir bagaimana parahnya keadaan saya karena dashboard-nya sudah melenceng beberapa derajat dari tempatnya, kemudian pintu mobil sebelah kiri hancur sama sekali.  Ternyata apa yang mungkin Anda pikirkan tidak seperti apa yang saya alami.  Meski mulut saya penuh dengan pecahan-pecahan serpihan kecil kaca pintu mobil, seluruh rambut dan sekujur badan, juga bagian mata kanan saya temukan beberapa serpihan.  Beruntungnya serpihan-serpihan itu tidak melukai saya karena kaca itu di-design sedemikian rupa, sehingga apabila terjadi kecelakaan tidak akan melukai si penumpangnya.  Hanya tangan kiri saya berlumuran darah segar karena menghantam pintu kaca sebelah kiri yang berakibat beberapa pecahan kaca masih dapat melukai. Tiga buah jari tengah kiri saya membengkak dan berwarna biru sehingga dokter menyarankan untuk memotong cincin saya agar mempermudah pembersihan dan pengecekan dengan sinar. Dikhawatirkan kemungkinan ada tulang jari yang retak.  Ternyata dari hasil pemeriksaan, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.  Semuanya normal. Puji syukur kepada Tuhan!

Dalam kurun waktu tiga hari, saya merasakan ketidaknyamanan sama sekali.  Dari leher hingga seluruh badan saya sakit sekali dan terdapat warna merah biru di sana-sini. Kepala saya terasa aneh seperti ada beban berat yang tertinggal setiap saat saya bangun dari tidur atau setelah menyandarkan badan dan kepala. Suara saya juga berubah seketika.  Mungkin mengikuti keadaan otak saya yang masihshock--terguncang.  Tetapi setelah dibuat duduk diam sekitar 15 atau 20 menit, maka berangsur-angsur akan normal kembali. Belum lagi kalau dibuat bergerak terus, kepala saya terasa seperti bingung. Akhirnya baru mengetahui dari suami saya kalau kondisi tersebut merupakan proses setelah benturan-benturan keras yang saya alami. Maksudnya, otak saya tidak berkenan dengan keadaan seperti itu, sehingga saya disarankan untuk tidak banyak bergerak, seperti juga yang disarankan oleh dokter dan para perawat di Unit Gawat Darurat. Maklumlah, khan baru pertama kali mengalami kecelakaan yang menurut saya termasuk skala besar.  Berangsur-angsur rasa sakit pada badan dan keanehan rasa pada kepala saya berkurang dan akhirnya normal juga dalam hitungan beberapa minggu. Hanya trauma dalam mengemudi saat itu masih saya rasakan.  Namun hanya tinggal beberapa persen saja pada saat saya menulis artikel ini.

Lepas dari apa yang telah diceritakan di atas, saya termenung.  Kira-kira gerangan apa yang membuat saya tidak terluka parah sama sekali.  Saya yakin tentunya semua itu tidak luput dari kebesaran Tuhan. Dia telah menyertai dan melindungi saya sehingga selamat. Melalui peristiwa tersebut, saya diingatkan bahwa iman tanpa tindakan atau perbuatan adalah sia-sia. Apakah tindakan saya waktu itu?  Selain selalu berdoa setiap saat sebelum mengemudikan mobil, saya selalu menggunakan sabuk pengaman mobil. Bukan hanya merupakan bagian dari hukum yang patut untuk dipatuhi di negeri Paman Sam ini, tetapi lebih dari itu adalah datang dari kesadaran saya sendiri. Coba kita bayangkan kalau seandainya saya tidak menggunakan sabuk pengaman saat peristiwa itu terjadi.  Mungkin saya akan mengalami gegar otak dan badan saya akan tebanting ke kanan dan ke kiri. Tentu saja ini akan membahayakan keadaan saya sendiri.

Untuk itu melalui artikel ini, kita diingatkan agar selalu menggunakan sabuk pengaman mobil ke mana pun kita pergi, entah itu di dalam atau keluar kota, jarak dekat maupun jarak jauh.  Karena yang namanya musibah itu datangnya bisa kapan saja, walau kita sudah berhati-hati sekalipun.

Mengapa saya tekankan penggunaan sabuk pengaman ini?  Jawabannya, karena di Indonesia masih jauh sekali kesadaran untuk menggunakan sabuk pengaman. Mungkin juga hal ini dikarenakan hukum di Indonesia belum mewajibkan penggunaannya seperti kewajiban menggunakan helm dalam bersepeda motor. Jadi hanya sebatas penyaranan saja. Kalau di negeri Paman Sam ini akan ditindak langsung apabila diketahui si pengemudi mobil dan seluruh penumpangnya tidak menggunakan sabuk pengaman. Tidak tanggung-tanggung, karena dendanya bisa ratusan dollar untuk satu orang saja.

Masih hangat dalam ingatan saat masih di Indonesia.  Umumnya saya tidak pernah menggunakan sabuk pengaman, meskipun  dalam perjalanan keluar kota. Terkadang hanya si pengemudi saja yang menyematkan sabuk pengamannya apabila memasuki jalan tol.  Selepas itu, ya dicopot kembali. Belum lagi terkadang mobil yang ditumpangi biasanya melebihi kapasitas.  Mestinya hanya cukup untuk 7 orang saja, tetapi bisa diisi menjadi 8, 9 atau 10 orang. Wah, ini kalau di Amerika sudah didenda ribuan dollar.

Saya berharap melalui pengalaman saya, kiranya dapat mengubah kebiasaan kita dalam mengemudikan mobil. Jadikanlah sabuk pengaman itu yang utama apabila kita masih belum membiasakan diri untuk menggunakannya.  Memang rasanya tidak nyaman, tetapi ingatlah, itu demi keselamatan kita sendiri yang berarti juga keselamatan keluarga kita. Kalau sudah menjadikan hal ini sebagai rutinitas setiap saat sebelum menjalankan mobil, maka menggunakan sabuk pengaman akan terasa seperti suatu kebutuhan.  Kita tidak akan merasakan tidak nyaman lagi. (*)

Tulisan di atas telah ditayangkan di KabarIndonesia, Rubrik Serba-Serbi, 25 Pebruari 2007: http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=5&dn=20070224232855